Jurnalime Warga

Banjir Aceh-Sumatra, Salah Siapa?

Kita mulai dengan sebuah kejujuran yang pahit. Banjir Aceh-Sumatra, salah siapa? Atau, pantaskah kita mencari-cari siapa yang yang sebenarnya bersalah

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
ICHSAN, M.Sn., Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Aceh Besar. 

Oleh: ICHSAN, M.Sn., Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Aceh Besar

SEJENAK, mari kita menghela napas, merenung, dan merefleksikan sebuah fenomena yang terjadi beberapa hari lalu.

Kita mulai dengan sebuah kejujuran yang pahit. Banjir Aceh-Sumatra, salah siapa? Atau, pantaskah kita mencari-cari siapa yang yang sebenarnya bersalah.

Sebagain masyarakat hari ini seolah hanya punya satu kebutuhan emosional, yakni menemukan pelampiasan. Perlu diketahui bahwa kita sedang mengalami bencana alam yang menghantam rumah, jembatan, dan jalan raya.

Pada waktu yang bersamaan, kita juga serasa sedang mengalami hantaman  kesabaran, kewarasan, dan nalar komunal. Alih-alih bersatu, tampaknya kita sedang sibuk saling mengacungkan telunjuk.

Media sosial, ruang yang seharusnya bisa menjadi tempat koordinasi darurat, berubah menjadi arena adu sorak menyalahkan siapa pun yang dianggap paling mudah diserang.

Pemerintah pusat disalahkan karena dianggap lamban, dingin, dan jauh dari realitas lapangan.

“Kalau tidak bisa urus Aceh, merdekakan saja Aceh ini,” tulis sebagian akun, seolah kemarahan adalah jalan keluar paling strategis di tengah banjir.

Di ruang lainnya, pemerintah daerah juga tidak luput dari tudingan. Tidak becus, tidak kompeten, tidak sigap. Kalimat-kalimat itu berseliweran tanpa henti. Lalu lahirlah solusi instan versi medsos, mundur saja bupati, mundur saja kepala pemerintahan, mundur saja siapa pun yang memang enak dijadikan tumbal.

Ngilu rasanya melihat bangsa yang sedang berduka sibuk membakar rumahnya sendiri.

Anggota dewan juga tak luput dari hantaman. “Dulu waktu butuh suara datang mengemis, sekarang hilang tanpa jejak,” begitu narasi yang ramai diulang-ulang.

Solusi emosional pun bermunculan, “Nanti kalau ada yang datang minta suara lagi, suruh pulang saja.”

Baca juga: Memaknai Tangisan Mualem

Sementara di lapangan, masyarakat tetap terendam, tetap lapar, tetap naik ke bukit-bukit menyelamatkan diri, tetap menatap masa depan dengan mata bengkak penuh kecemasan.

Bencana akhir November yang menghantam Aceh, Sumbar, dan Sumut adalah luka yang jauh lebih dalam dari yang terlihat di layar ponsel. Di balik lumpur ada jerit manusia. Di balik arus sungai ada keluarga yang tercerabut dari kehidupan normal. Dan, di balik kecamuk itu semua, ada kisah-kisah kecil yang membuat kita seharusnya menunduk dan berpikir ulang tentang arti solidaritas.

Kemarin saya menghubungi Kacabdin Aceh Tenggara, Pak Jufri. Dengan suara berat, ia menyebut bencana ini sebagai “tsunami darat.” Bukan istilah hiperbola, melainkan gambaran tentang betapa dahsyatnya kerusakan bentang alam dan infrastruktur.

Ia sendiri terjebak di kawasan Ise-Ise saat hendak ke Banda Aceh. Kendaraan terpaksa ditinggalkan. Ia berjalan kaki menyusuri jalan yang tidak lagi bisa disebut jalan selama beberapa hari. Sesekali menumpang sepeda motor yang kebetulan melintas. Makan pun hanya nasi dan sayur rebus di tepian jalan raya beralas aspal. Namun, ia tidak mengeluh.

“Kita syukuri, kita nikmati saja. Belum tentu orang lain bisa seperti kita hari ini,” katanya.

Ucapan itu menusuk. Sederhana, tapi menjadi cermin bagi kita yang terlalu mudah mengutuk dan terlalu cepat mencari kambing hitam. Ada orang-orang yang berjuang mempertahankan nyawa, sementara kita sibuk mempertahankan ego.

Yang lebih ironis, bencana kali ini bukan hanya memutus jalan, tapi juga memutus listrik internet, dan jaringan selular. Ketika saling menyalahkan pun terhambat oleh sinyal yang putus, barulah kita bisa melihat jeda. Namun, jeda itu tidak bertahan lama. Begitu jaringan kembali, amarah kembali mengalir lebih deras dari banjirnya sendiri. Saya bingung. Inikah karakter bangsa kita sekarang? Bangsa yang saling menyalahkan? Sejak kapan budaya kita adalah budaya menghardik dan merendahkan saat saudara sendiri sedang tenggelam.

Di saat bahan pokok dan BBM mulai langka, harga melonjak di luar nalar, warga kembali saling menyalahkan. Yang menjual dianggap memanfaatkan bencana. Yang membeli merasa dihina dan diperas. Ada yang berdalih mencari sedikit keuntungan untuk meneruskan hidupnya. Ada yang membalas dengan makian bahwa itu batil, tidak beretika, dan menunggangi musibah. Entahlah. Yang jelas, inilah kenyataan kita hari ini. Solidaritas seakan terkikis oleh prasangka.

Namun, di tengah kekacauan itu, mari kita berhenti sejenak. Mari mencoba kembali menggunakan apa yang disebut psikolog sosial Kurt Lewin sebagai teori medan (field theory) yang menyatakan bahwa perilaku manusia cenderung ditentukan oleh interaksi antara kondisi internal dan lingkungan. Ketika lingkungan dipenuhi kecemasan, ketakutan, dan ketidakpastian, perilaku kolektif pun mudah berubah menjadi agresif, saling menyalahkan, dan tidak stabil. Artinya, bukan orangnya yang salah semata, tetapi medan psikologis kita sebagai masyarakat sedang rusak oleh tekanan bencana.

Akan tetapi, teori sama sekali bukan alasan untuk membiarkan kemarahan merusak empati. Karena pada saat yang sama, kita punya teori lain yang jauh lebih sehat untuk dijadikan pegangan, yakni teori “Respons Fokus Solusi” (Solution-Focused Response).

Pendekatan ini menolak habis-habisan budaya menyalahkan. Ia mengajarkan bahwa dalam keadaan darurat, fokus kita seharusnya pada apa yang bisa dilakukan, bukan siapa yang harus dihukum terlebih dahulu. Ini pendekatan yang dipakai dalam manajemen bencana modern di berbagai negara.

Oleh karena itu, mari sejenak, saat banjir menggenangi rumah, apakah menyalahkan pemerintah membuat air surut. Saat warga terjebak tanpa makanan, apakah menyalahkan anggota dewan membuat nasi muncul di meja. Saat jalan putus, apakah menyalahkan satu sama lain membuat jembatan tumbuh keesokan harinya.

Jawabannya jelas, tidak!

Yang membuat peradaban bertahan adalah tindakan, bukan umpatan. Bencana kali ini seharusnya menjadi hikmah. Kita yang masih hidup masih diberi kesempatan untuk belajar. Hidup bukan sekadar untuk saling menyalahkan. Hidup menuntut kita bekerja sama, bukan memecah belah. Hidup meminta kita saling menguatkan, bukan saling mematahkan.

Aceh punya pepatah, “Seunang bak matee, susah bak uroe hidup” yang berrati kebahagiaan itu untuk yang mati, penderitaan untuk yang hidup. Artinya, selama kita masih diberi napas, kita harus kuat menghadapi kenyataan, bukan menghindarinya dengan saling tuding.

Di momen ini, kita perlu mengingat satu pesan yang sering disampaikan Mualem, Gubernur Aceh, saat ini. Pesan sederhana, tapi sangat relevan untuk situasi hari ini, “Jangan cengeng.”

Itu bukan ajakan untuk mengabaikan duka. Itu nasihat agar kita tidak tenggelam dalam mentalitas menyalahkan agar kita bangkit, bekerja, menyusun kembali solidaritas sosial yang selama ini terkikis oleh emosi di layar digital. Agar kita kembali menjadi bangsa yang kuat, bukan bangsa yang rapuh oleh komentar.

Solusinya jelas, berhentilah mencari siapa yang salah. Mulailah mencari apa yang bisa kita lakukan.

Bantu sukarelawan. Bantu donasi. Bantu informasi. Bantu dengan tenaga, pikiran, atau sekadar meringankan beban psikologis mereka yang terdampak. Dalam bencana, sekecil apa pun kontribusi akan selalu lebih berharga daripada kritik paling lantang sekalipun.

Karena sungguh, ketika air bah datang, tidak ada pemerintah yang sempurna, tidak ada masyarakat yang sempurna, tidak ada pemimpin yang kebal. Yang ada hanyalah manusia, kita semua, yang sama-sama sedang belajar bertahan. Hanya bangsa yang berhenti mencari kambing hitamlah yang bisa selamat dari bencana berikutnya.

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved