Kamis, 4 Juni 2026

Jurnalime Warga

Perjalanan Sukarelawan Muhammadiyah ke Gayo Lues

MDMC merupakan tim tanggap bencana Muhammadiyah yang bertugas mengoordinasikan sumber daya untuk penanggulangan bencana mulai dari

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/HO
SYARIFAH AINI, Sukarelawan Psikososial Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Aceh, melaporkan dari Blangkejeren, Gayo Lues 

Seorang pria pemilik mobil pikap membantu kami turun perlahan dan seorang bapak pengemudi mobil kapsul maron yang kami jumpai sebelum di pemberhentian longsor pertama, menenangkan dan mengatakan tidak apa-apa. Semua baik-baik saja.

"Yang penting, bagian keluar asapnya jangan disiram, Bang," katanya.

Bapak itu membawa serta keluarganya, ada anak berusia 12 tahun.

Penurunan terlampau terjal, batu-batu harus disiapkan dan disisipkan di ban mobil dengan sigap dan hati-hati. Alfarizky yang belum melepas jas almamater Unmuha-nya sejak perjalanan awal, dengan cekatan mengerjakan hal itu di mobil kami dan Hirzi, tim media MDMC Aceh, ambil bagian di mobil yang satunya lagi.

Berapa lama harus menunggu mesin dingin? Kecemasan berkecamuk di hati saya. Kami memang dipersiapkan dan diberi arahan mengenai medan yang akan kami lalui, tapi tak sangka disambut langsung oleh perjalanan yang menegangkan.

Kami berhenti dan mengobrol dengan pengendara mobil lainnya. Pengendara sepeda motor satu per satu masih tampak berseliweran, saling menyapa, dan mengabarkan titik longsor berikutnya.

Hutan Gayo Lues terhampar megah dengan langit yang didominasi awan nimbrostratus. Gerimis yang turun satu-satu membuat hati kami waswas.

Mobil kami kembali berjalan setelah satu turunan lagi. Aspal amblas kembali kami temukan di sekitar empat titik setelah sekitar 2 km jalanan mulai landai.

Terlihat beberapa warga duduk di serambi rumah mereka yang sederhana, seperti menyatu dengan alam.

Saya baru tahu dalam perjalanan kali ini bahwa menyetir adalah sebuah seni dan para sopir adalah seniman yang memiliki bahasa khas di jalanan. Suara klakson adalah nada, lambaian tangan adalah tarian, dan sunggingan senyum adalah sapa pembuka serta penutup dalam sebuah pertunjukan seni perjalanan.

Di Atu Balee, Burni Ketukah, kami tersangkut lagi. Ada jalanan longsor dan alat berat jatuh terguling. Ternyata jalur alternatif pun tak semulus yang dibayangkan. Kami kembali bertemu mobil kapsul marun dan ternyata juga ditumpangi oleh dokter penyakit dalam di rumah sakit setempat. “Jalur ini adalah jalur yang biasa dilalui para petani,” kata mereka.

Dengan penuh perjuangan akhirnya kami tiba ke Posko Muhammadiyah Gayo Lues pukul 18.45 WIB, tepat setelah azan magrib. Kami langsung disambut pimpinan Muhammadiyah setempat dan melakukan koordinasi.

Setelah sambutan Ketua PDM Gayo Lues, Tim DIY memberikan informasi bahwa mereka ada 29 orang.

Rincian Tim MDMC DIY disampaikan oleh koordinator sukarelawan, Rifky. Sepuluh orang bagian logistik, menjaga, menerima, mendata, menyalurkan, dan mencari bantuan logistik. Sepuluh orang tergabung dalam tim psikososial yang bertugas membangkitkan semangat penyintas bencana. Lima orang dari RS PKU, tiga orang dokter, seorang perawat, dan seorang lagi bagian farmasi.

Tim MDMC Banda Aceh terdiri atas sepuluh tenaga medis.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved