Senin, 20 April 2026

Banjir Landa Aceh

Ongkos Sebulan Habis Sehari:Jeritan Warga Bertumpu pada Boat Nelayan Akibat Jembatan Kutablang Putus

Namun, di balik jasa penyelamat darurat ini, muncul beban ekonomi yang mencekik.

Penulis: Yeni Hardika | Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/Hendri Abik
JEMBATAN KUTABLANG PUTUS - Suasana penyeberangan mengunakan jasa perahu warga di Kutablang, Bireuen. Perahu nelayan kini menjadi tumpuan warga selama jembatan Krueng Tingkeum roboh diterjang banjir. 

SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Sejak dua pekan terakhir, putusnya Jembatan Krueng Tingkeum yang melintang di Jalan Nasional Banda Aceh-Medan telah mengubah wajah mobilitas di kawasan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.

Akibat bencana hidrometeorologi, satu-satunya penghubung utama ke Lhokseumawe itu kini lumpuh total, memaksa ratusan warga bertumpu pada satu solusi, yakni perahu nelayan.

Namun, di balik jasa penyelamat darurat ini, muncul beban ekonomi yang mencekik.

Salah satu yang merasakan getirnya adalah M. Nazar (38), buruh serabutan asal Kuta Blang.

Setiap hari, Nazar harus menyeberang pulang-pergi demi mencari nafkah di seberang sungai.

Jembatan yang biasa ia lewati secara gratis, kini berganti arus deras yang hanya bisa diseberangi perahu.

“Saya bekerja sebagai buruh di sebrang jembatan, setiap hari harus pulang pergi dan harus keluarkan biaya lagi saat nyebrang,” keluh Nazar, seperti dikutip dari Serambinews.com, Minggu (14/12/2025).

Baca juga: ‎Didampingi Ayahwa Saat Kunker ke Aceh Utara, Menko Pangan: Belum Pernah Lihat Banjir Separah Ini

Ketika Rp180 ribu hanya cukup untuk sehari

Bagi Nazar, biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali menyeberang mencapai Rp90.000, terdiri dari Rp10.000 untuk ongkos penumpang dan Rp80.000 untuk pengangkutan satu unit sepeda motor.

Jika dihitung untuk pulang-pergi, total biaya transportasinya per hari melonjak menjadi Rp180.000.

Sebuah angka yang membuat ia sesak.

“Kalau keadaan normal saat jembatan tersambung, Rp180.000 itu cukup untuk ongkos transportasi saya sebulan,” ungkap Nazar, menggambarkan betapa putusnya jembatan telah melipatgandakan beban hidupnya hingga 18 kali lipat.

Kondisi ini menciptakan dilema besar.

Di satu sisi, ia harus bekerja. Namun di sisi lain, hasil jerih payahnya habis di tengah sungai.

Baca juga: Jeritan Warga Selama Jembatan Kutablang Putus, Perahu Nelayan Jadi Tumpuan, Biaya Melonjak 18 Kali

Di balik tarif darurat: upaya dan biaya operasional nelayan

Dilema biaya tinggi ini bukan hanya dirasakan warga, tetapi juga disadari oleh para nelayan yang kini beralih profesi menjadi penyedia jasa penyeberangan darurat.

Zulfan (33), nakhoda salah satu perahu, mengakui bahwa awalnya memang terjadi pemasangan tarif yang tidak seragam.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved