Banjir Landa Aceh
Ongkos Sebulan Habis Sehari:Jeritan Warga Bertumpu pada Boat Nelayan Akibat Jembatan Kutablang Putus
Namun, di balik jasa penyelamat darurat ini, muncul beban ekonomi yang mencekik.
Penulis: Yeni Hardika | Editor: Muhammad Hadi
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN - Sejak dua pekan terakhir, putusnya Jembatan Krueng Tingkeum yang melintang di Jalan Nasional Banda Aceh-Medan telah mengubah wajah mobilitas di kawasan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen.
Akibat bencana hidrometeorologi, satu-satunya penghubung utama ke Lhokseumawe itu kini lumpuh total, memaksa ratusan warga bertumpu pada satu solusi, yakni perahu nelayan.
Namun, di balik jasa penyelamat darurat ini, muncul beban ekonomi yang mencekik.
Salah satu yang merasakan getirnya adalah M. Nazar (38), buruh serabutan asal Kuta Blang.
Setiap hari, Nazar harus menyeberang pulang-pergi demi mencari nafkah di seberang sungai.
Jembatan yang biasa ia lewati secara gratis, kini berganti arus deras yang hanya bisa diseberangi perahu.
“Saya bekerja sebagai buruh di sebrang jembatan, setiap hari harus pulang pergi dan harus keluarkan biaya lagi saat nyebrang,” keluh Nazar, seperti dikutip dari Serambinews.com, Minggu (14/12/2025).
Baca juga: Didampingi Ayahwa Saat Kunker ke Aceh Utara, Menko Pangan: Belum Pernah Lihat Banjir Separah Ini
Ketika Rp180 ribu hanya cukup untuk sehari
Bagi Nazar, biaya yang harus dikeluarkan untuk satu kali menyeberang mencapai Rp90.000, terdiri dari Rp10.000 untuk ongkos penumpang dan Rp80.000 untuk pengangkutan satu unit sepeda motor.
Jika dihitung untuk pulang-pergi, total biaya transportasinya per hari melonjak menjadi Rp180.000.
Sebuah angka yang membuat ia sesak.
“Kalau keadaan normal saat jembatan tersambung, Rp180.000 itu cukup untuk ongkos transportasi saya sebulan,” ungkap Nazar, menggambarkan betapa putusnya jembatan telah melipatgandakan beban hidupnya hingga 18 kali lipat.
Kondisi ini menciptakan dilema besar.
Di satu sisi, ia harus bekerja. Namun di sisi lain, hasil jerih payahnya habis di tengah sungai.
Baca juga: Jeritan Warga Selama Jembatan Kutablang Putus, Perahu Nelayan Jadi Tumpuan, Biaya Melonjak 18 Kali
Di balik tarif darurat: upaya dan biaya operasional nelayan
Dilema biaya tinggi ini bukan hanya dirasakan warga, tetapi juga disadari oleh para nelayan yang kini beralih profesi menjadi penyedia jasa penyeberangan darurat.
Zulfan (33), nakhoda salah satu perahu, mengakui bahwa awalnya memang terjadi pemasangan tarif yang tidak seragam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/perahu-penyebrangan-jembatan-kutablang.jpg)