Breaking News
Senin, 13 April 2026

Banjir Landa Aceh

Warga Aceh Tamiang Hanya Bisa Berharap Bantuan, Sumber Penghasilan Lenyap

Sudah lebih dua pekan bencana banjir bandang melanda 18 kabupaten/kota di Tanah Rencong, termasuk Aceh Tamiang.

Editor: mufti
Serambinews.com/Rianza Alfandi
KORBAN BANJIR – Zulham, warga Dusun Bahagia, Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, hingga kini masih dihantui banjir bandang yang meluluh lantak rumahnya. Foto direkam Rabu (10/12/2025).  

Ringkasan Berita:
  • Sudah lebih dua pekan bencana banjir bandang melanda 18 kabupaten/kota di Tanah Rencong, Musibah dahsyat meninggalkan luka dan duka, tetapi juga ikut merenggut harapan dari para korban.
  • Rumah yang hanya tersisa pondasi membuat semua keluarga terpaksa tidur di badan jalan yang beralas aspal dan beratap terpal.
  • Aceh Tamiang bukan wilayah asing bagi banjir. Warga sudah mengalami luapan-luapan besar pada tahun 1996 dan 2006. Namun musibah tahun 2025 adalah yang paling menghancurkan. 

SERAMBINEWS.COM, ACEH TAMIANG - Sudah lebih dua pekan bencana banjir bandang melanda 18 kabupaten/kota di Tanah Rencong, termasuk Aceh Tamiang. Musibah dahsyat itu tidak hanya meninggalkan luka dan duka, tetapi juga ikut merenggut harapan dari para korban. 

Zulham, warga Dusun Bahagia, Desa Dalam, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, hingga kini masih dihantui banjir bandang yang meluluh lantak rumahnya. Ia tidak membayangkan, air setinggi atap rumah yang disertai material lumpur dan kayu besar itu menenggelamkan hampir keseluruhan rumahnya. 

Hujan yang sebelumnya mengguyur hingga berhari-hari tidak memberi tanda bahaya besar yang akan datang. Sampai akhirnya, pada Rabu (26/12/2025), sekitar pukul sembilan malam, air perlahan mulai merambat ke pemukiman warga. 

Zulham masih mengira, air yang perlahan naik itu tidak akan sampai merendam rumahnya. Sebab banjir-banjir sebelumnya air hanya naik sebatas lutut, lalu surut kembali. Namun malam itu ternyata bukan malam biasa bagi warga Aceh Tamiang.

“Awalnya kejadian itu malam, jam-jam sembilan malam air sudah mulai naik. Lalu jam 02.00 pagi air sudah setengah rumah,” kenang Zulham kepada Serambi, Rabu (10/12/2025). Dalam gelap, air berlumpur mengalir deras, membawa potongan kayu besar, serpihan rumah, apa saja yang diterjangnya. Zulham bersama keluarganya berusaha keluar rumah.  Pada saat-saat genting itu istri Zulham nyaris hanyut, terlepas dari genggamannya. “Untung ada orang Lapas waktu itu yang menolong, jadi alhamdulillah selamat,” katanya.

Di saat mereka berjuang melawan derasnya arus, satu per satu benda berharga hanyut terbawa air. Rumah yang dibangun sedikit demi sedikit dari hasil usaha laundry miliknya ikut luluh lantak. 

Tabungan keluarga yang mereka simpan di rumah karena tak pernah menabung di bank juga hilang begitu saja. Hanya sekitar seratus ribu rupiah yang sempat terselamatkan. Selepas itu, mereka tak punya apa-apa lagi.

“Saya kan usaha laundry di rumah, rumahnya udah habis. Saya enggak ada nabung-nabung di bank, nabung di rumah. Jadi pas banjir air udah naik, baru teringat uang. Mau balek lagi enggak berani, airnya deras kali. Maaf cakap uang yang terbawa cuma Rp 100 ribu, lain habis semua,” kenang Zulham 

Tidur di jalanan

Kala debit air kian meningkat, Zulham dan keluarga menuju jembatan Kuala Simpang, satu-satunya tempat yang sedikit lebih tinggi. Namun jalan menuju ke sana pun bukan tanpa bahaya. “Kita ke sana berenang sama-sama, pegang tali sama-sama. Airnya datang dari segala arah,” ujarnya. Jembatan itu kemudian dipenuhi ratusan warga yang bernasib sama. Rumah mereka hanyut, harta hilang, dan keselamatan yang hanya tersisa selembar napas. 

Selama tiga malam, mereka bertahan di sana, menunggu air surut, memakan apapun yang tersedia, sering kali hanya dari bantuan spontan warga yang sedikit lebih beruntung. “Di pengungsian waktu itu kami susah makan, minta-minta sama orang,” ujarnya.

Lebih parahnya, setelah banjir surut mereka tidak bisa berharap kepada siapa-siapa. Rumah yang hanya tersisa pondasi membuat Zulham dan keluarga terpaksa tidur di badan jalan yang beralas aspal dan beratap terpal. 

“Kalau malam kami emang masing-masing semua, tidur di pinggir jalan seperti itu. Pandai-pandailah untuk tempat tinggal,” ucap Zulham.

“Harta-harta benda udah habis hanyut semua. Alhamdulillahnya Tuhan masih menyelamatkan kita, masih sayang sama kita,” katanya.. 

Di Kampung Dalam, kata Zulham, hampir seluruh rumah lenyap disapu banjir. Sementara kabar duka berdatangan, banyak mayat ditemukan tergeletak, beberapa tak dikenal, diduga berasal dari kampung lain.

Banjir terbesar sepanjang hidup 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved