Rabu, 3 Juni 2026

Banjir Landa Aceh

Bendera Putih Berkibar di Masjid Raya, Masyarakat Sipil Aceh Desak Darurat Nasional

Aksi ini digelar sebagai bentuk kekecewaan terhadap penanganan bencana ekologis yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE SERAMBI INDONESIA EDISI JUMAT 20251219 

“Ini bencana luar biasa dan tidak bisa diselesaikan dengan cara biasa. Dengan rasa hormat, kami meminta Presiden Prabowo segera sadar diri. Bukan hanya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tetapi seluruh dunia perlu membantu,” ungkap mantan wali kota Sabang ini.

Munawar Liza Zainal mengatakan, saat ini polisi dan tentara di lapangan sudah berjibaku tanpa alat yang memadai untuk membantu masyarakat korban banjir. Tetapi hal itu masih jauh dari cukup. “Harus buka pintu internasional. Jangan tutup akses,” pungkasnya.

Tanggapan Mualem

Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem ikut menanggapi aksi pengibaran bendera putih ini. Dia menegaskan bahwa pengibaran bendera tersebut bukanlah tanda menyerah. Menurut Mualem, bendera putih tersebut dimaknai sebagai simbol solidaritas, simpati, sekaligus harapan agar kondisi masyarakat terdampak banjir mendapat perhatian dan bantuan dari berbagai pihak.

Mualem menjelaskan, bendera putih itu ditujukan untuk menarik perhatian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, terhadap situasi sulit yang tengah dihadapi warga di wilayah terdampak. “Bukan menyerah. Dari pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat, bantuan sedang disalurkan dan terus diupayakan,” kata Mualem, Kamis (18/12/2025).

Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu menegaskan bahwa pengibaran bendera putih tidak lebih dari upaya menyampaikan kondisi masyarakat yang sedang mengalami kesulitan akibat banjir. Ia juga menepis anggapan bahwa pemerintah tidak bekerja. Menurutnya, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat terus melakukan penanganan dan penyaluran bantuan, meski proses pemulihan membutuhkan waktu.

“Tidak semudah membalik telapak tangan. Hari ini banjir, besok langsung dibangun seluruh infrastruktur, itu tidak mungkin. Ini sudah lebih dari 21 hari, kita lihat sendiri,” ujarnya.

Mualem menegaskan pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai langkah terus dilakukan sesuai kemampuan dan kondisi di lapangan. Karena itu, ia meminta masyarakat memahami situasi yang sedang dihadapi. Ia pun mengajak masyarakat untuk bersabar dan bertawakal. Menurutnya, musibah banjir bukan kehendak manusia, melainkan ketentuan Allah SWT. “Setiap musibah pasti ada hikmahnya. Kita tawakal saja. Tidak ada yang perlu dipertikaikan,” pungkasnya.

Tanggapan JK

Terkait penetapan status darurat nasional, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla (JK) menyatakan penetapan status bencana banjir di Sumatera sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah berdasarkan penilaian yang dilakukan.

“Tentu ini penilaian dari pemerintah,” ujar mantan Wakil Presiden RI tersebut menanggapi pertanyaan wartawan terkait belum ditetapkannya banjir Sumatera sebagai bencana nasional, usai melantik pengurus PMI Aceh di Rumoh PMI Banda Aceh, Kamis (18/12/2025).

Meski saat ini status banjir masih ditetapkan sebagai bencana provinsi, JK menegaskan PMI siap membantu penanganan bencana tanpa melihat status yang ditetapkan pemerintah. “Dari sisi Palang Merah, bencana apa pun akan kita bantu. Soal status itu urusan pemerintah dengan pertimbangannya,” katanya.

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 itu menilai penanganan bencana di Sumatera dapat dilakukan secara gotong royong oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat. “Sebenarnya bencana ini lebih banyak pada pembersihan. Itu bisa kita laksanakan bersama-sama, asal kompak antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem menyebutkan hingga kini masih terdapat sejumlah wilayah terdampak banjir yang terisolasi di beberapa kabupaten di Aceh. “Masih ada wilayah seperti Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tengah yang terisolasi. Bantuan saat ini masih kami salurkan melalui jalur udara karena kawasan tersebut sangat terpencil,” kata Mualem.

Menurutnya, kendala utama yang dihadapi adalah akses jalan yang masih terputus, sehingga sejumlah daerah belum sepenuhnya terjangkau bantuan. “Untuk akses darat, lintas Banda Aceh–Medan saya perkirakan besok sudah bisa dibuka. Jembatan darurat Awe Geutah di Kabupaten Bireuen sudah siap,” ujarnya.

Untuk wilayah tengah Aceh, Mualem menyebutkan sebagian daerah sudah terhubung dengan jembatan darurat, sementara sebagian lainnya masih terisolasi. “Besok akan kami jajaki kembali daerah-daerah yang belum mendapatkan bantuan. Kami akan berkomunikasi dengan masyarakat setempat dan segera mengantar bantuan,” pungkas Mualem.(iw/ra/hd)

 

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved