Senin, 1 Juni 2026

Opini

Ketika Jeritan Kemanusiaan tak 'Didengar' Negara, Aceh Butuh Bantuan Dunia

Ketika harapan terhadap negara belum sepenuhnya terjawab, peluang bantuan dari dunia internasional justru ditutup. Sikap ini terasa pahit bagi

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
angkapan Layar YouTube ABC News
Penulis bersama Tgk. Akmal Abzal yang juga ketua LAZISNU Aceh bersama anggota saat mengunjungi para korban banjir di Aceh. 

Namun, kunjungan tersebut belum diiringi kebijakan cepat, tepat, dan strategis yang mampu menjawab kebutuhan mendesak korban. Hingga kini, bencana di Aceh dan Sumatra belum ditetapkan sebagai bencana nasional. Pemerintah beranggapan situasi masih dapat dikendalikan, sehingga bantuan asing pun ditolak.

Di sinilah dilema besar dirasakan rakyat. Ketika harapan terhadap negara belum sepenuhnya terjawab, peluang bantuan dari dunia internasional justru ditutup. Sikap ini terasa pahit bagi para korban yang sedang berjuang mempertahankan hidup.

Mereka bukan politisi, pejabat, atau birokrat mapan. Mereka adalah rakyat biasa yang kehausan karena kekurangan air bersih, kelaparan akibat minimnya logistik, serta terpaksa tidur di tengah lumpur dan nyamuk tanpa tenda yang layak.

Kepercayaan rakyat terhadap negara tidak lahir dari slogan kemandirian, melainkan dari bukti nyata kehadiran dan keberpihakan. Jika penderitaan ini terus dibiarkan, yang diwariskan bukanlah kebanggaan nasional, melainkan ketidakpercayaan dan keterasingan rakyat dari negaranya sendiri.

Penolakan bantuan asing atas nama kemandirian patut dikaji ulang. Keselamatan jiwa dan pemenuhan kebutuhan dasar adalah hak asasi setiap manusia.

Dalam situasi darurat kemanusiaan, praktik saling membantu melampaui batas negara, agama, dan identitas. 

Islam sendiri tidak pernah mentolerir tindakan yang menghalangi penyaluran bantuan kemanusiaan. Prinsip hifz al-nafs—perlindungan jiwa—merupakan salah satu tujuan utama syariat. Bahkan, dalam kondisi darurat, sesuatu yang haram dapat dibolehkan demi mempertahankan nyawa.

Sejarah Islam memberikan teladan luhur dalam soal kemanusiaan. Rasulullah Muhammad SAW menjenguk seorang Yahudi yang sakit, meski orang tersebut kerap menyakiti beliau.

Rasul datang membawa makanan dan minuman, menunjukkan bahwa menolong sesama manusia tidak dibatasi oleh perbedaan keyakinan. Nilai inilah yang seharusnya hidup dalam kebijakan dan praktik kenegaraan kita.

Hari ini Aceh sedang berduka. Masyarakat korban tidak hanya kehilangan harta benda, tetapi juga terancam kehilangan harapan dan kepercayaan hidup.

Pepatah Aceh mengingatkan, “Ata droe hana mampu, ata gop ta tulak”—mengandalkan diri tak mampu, tetapi pemberian orang lain justru ditolak. Semoga nurani kita semua tergerak untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Tanah Rencong, demi kemanusiaan dan martabat bersama.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved