Pojok Humam Hamid
Bencana, Ramadhan, Huntara dan Andi Sinulingga
Menjelang Ramadhan tahun ini, banyak gampong di Aceh masih bergulat dengan dampak bencana.
Percakapan itu datang dari seorang anak muda asal Aceh Tenggara: Andi Harianto Sinulingga.
Kami tidak sedang berdiskusi di forum resmi.
Tidak ada podium, tidak ada moderator.
Hanya percakapan tentang bencana, tentang Ramadhan yang semakin dekat, dan tentang kegelisahan melihat masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
“Bang,” kata Andi pelan, “Ramadhan ini sebentar lagi. Tapi di banyak kampung terdampak bencana, orang masih hidup dalam ketidakpastian. Terutama perempuan dan anak.”
Kalimat itu sederhana. Tapi berat.
Andi tidak berbicara dengan nada aktivis yang marah.
Baca juga: Bantuan Internasional Non-Negara dan Bencana: Akankah Pemerintah “Ikhlas”?
Ia berbicara seperti seseorang yang terbiasa berpikir panjang, runtut, dan tenang.
Mungkin itulah yang membuat gagasannya terasa matang.
Andi datang dari keluarga terpandang di Aceh Tenggara.
Ibunya berasal dari keluarga terdidik dan berpandangan luas sejak masa Belanda.
Ayahnya muslim taat, idealis, kader PNI nasionalis tulen.
Secara historis, jalur politik yang “wajar” bagi anak seperti dia adalah GMNI.
Namun ketika kuliah, Andi justru memilih HMI.
Bukan karena ikut arus, melainkan karena pilihan ideologis yang disadari betul.
Andi Sinulingga
Ramadhan
bencana
Serambi Indonesia
Humam Hamid
Sosiolog humam hamid
Prof Humam Hamid
pojok humam hamid
| "Rujak Batee Iliek", Netizen, dan Media Sosial: Resep Bupati Nurdin AR untuk Jenderal Maruli |
|
|---|
| Bencana dan Model Kelembagaan R3P Aceh: Mengapa Harus Inklusif dan Partisipatif? |
|
|---|
| Jangan Buru-buru Akhiri Masa Darurat, Aceh Utara Masuk Masa Transisi |
|
|---|
| Surat Terbuka kepada Gubernur Aceh dan 18 Kepala Daerah Tingkat II Terdampak Bencana |
|
|---|
| Prabowo, Huntara, Puasa, dan “Bek Beurangkaho”: The Last Window of Opportunity |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Humam-Hamid-Rihlah-Ibnu-Batutah.jpg)