Pojok Humam Hamid

Bencana, Ramadhan, Huntara dan Andi Sinulingga

Menjelang Ramadhan tahun ini, banyak gampong di Aceh masih bergulat dengan dampak bencana. 

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Prof. Dr. Ahmad Humam Hamid, MA, Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, 

Oleh: Ahmad Humam Hamid*)

RAMADHAN selalu datang dengan caranya sendiri.

Ia tidak pernah menunggu kesiapan manusia. Ia tidak menunda kedatangannya hanya karena negara belum selesai membangun, atau karena administrasi masih berproses. 

Ramadhan datang tepat waktu, sementara manusia sering kali tertinggal.

Menjelang Ramadhan tahun ini, banyak gampong di Aceh masih bergulat dengan dampak bencana

Banjir, luapan sungai, hujan ekstrem, dan kerusakan rumah meninggalkan jejak yang tidak sederhana. 

Bagi sebagian orang, itu hanya angka dan laporan. 

Tetapi bagi perempuan dan anak-anak, itu adalah soal paling dasar: di mana mereka akan tidur dengan aman, bermartabat, dan terlindungi.

Baca juga: Thailand: Bencana, dan Makna Permintaan Maaf Negara

Pemerintah tentu bekerja. 

Rencana pembangunan hunian sementara -- huntara-- telah disusun. 

Anggaran dibicarakan. 

Lokasi dipetakan. 

Namun kita semua tahu satu hal: waktu sosial tidak selalu sejalan dengan waktu birokrasi. 

Huntara tidak selalu bisa berdiri secepat kebutuhan manusia yang kehilangan rumahnya hari ini.

Di tengah kegelisahan itulah, sebuah percakapan sederhana justru melahirkan gagasan yang terasa lebih jujur, lebih membumi, dan lebih Aceh.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved