Banjir Landa Aceh
Pante Lhong Dihantam Banjir Bandang, Usaha Ekonomi Warga Lumpuh Total
Selama ini, Pante Lhong dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jeruk pamelo atau giri matang, yang menjadi komoditas unggulan desa.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Faisal Zamzami
Ringkasan Berita:
- Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, menjadi salah satu desa yang terdampak paling parah akibat banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada 26 November 2025 lalu.
- Bencana ini menyebabkan kerusakan besar dan melumpuhkan hampir seluruh sumber ekonomi masyarakat setempat.
- Selama ini, Pante Lhong dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jeruk pamelo atau giri matang, yang menjadi komoditas unggulan desa.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Desa Pante Lhong, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, menjadi salah satu desa yang terdampak paling parah akibat banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada 26 November 2025 lalu.
Bencana ini menyebabkan kerusakan besar dan melumpuhkan hampir seluruh sumber ekonomi masyarakat setempat.
Desa Pante Lhong berbatasan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan di sisi timur dan selatan, Desa Blang Panjoe di sebelah barat, serta Gampong Raya Tambo di sebelah utara.
Letak geografis ini membuat desa tersebut rentan terhadap luapan sungai saat curah hujan tinggi.
Selama ini, Pante Lhong dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jeruk pamelo atau jeruk giri matang, yang menjadi komoditas unggulan desa.
Selain itu, masyarakat juga menggantungkan hidup dari tanaman pepaya, usaha dapur batu bata merah, peternakan lembu, kambing dan biri-biri, serta penambangan pasir secara tradisional di aliran sungai.
Baca juga: Bersama Polres Bireuen, Puluhan Tenaga Medis Bersihkan Pustu Alue Kuta Jangka
Namun, banjir bandang telah menghancurkan hampir seluruh potensi tersebut.
Pantauan di lapangan, Selasa (23/12/2025), menunjukkan pohon-pohon jeruk giri matang yang sebelumnya tumbuh di hampir setiap halaman rumah warga kini banyak yang tumbang, patah, atau mulai layu.
Tanaman pepaya yang tidak tahan genangan air sebagian besar mati.
Puluhan dapur batu bata merah rusak parah, sementara banyak ternak warga mati terseret banjir.
Imum Desa Pante Lhong, Tgk Abdul Muthalib, mengatakan kondisi desanya benar-benar porak-poranda.
Selain rumah warga yang rusak bahkan hilang, seluruh usaha ekonomi masyarakat hancur total.
Baca juga: Deforestasi Picu Banjir Bandang, Akademisi Dorong Reformasi Tata Kelola Hutan
“Di Pante Lhong tidak ada sawah. Sumber penghidupan kami hanya dari giri matang, pepaya, dapur bata merah, ternak, dan penambangan pasir. Sekarang semuanya sudah hancur,” ujarnya sambil menunjukkan pohon giri matang yang tumbang akibat akarnya membusuk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Pohon-jeruk-giri-matang-atau-jeruk-pamelo-komoditi-unggulan-di-Desa-Pante-Lhong.jpg)