Selasa, 21 April 2026

Banjir Landa Aceh

Masih Ada Desa Terisolir, Pemerintah Aceh Pacu Distribusi Logistik via Udara

“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” M. NASIR, Sekda Aceh

Editor: mufti
angkapan Layar YouTube ABC News/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE SERAMBI INDONESIA EDISI SENIN 20260105 

“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” M. NASIR, Sekda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Aceh saat ini sudah memasuki hari ke-40. Tetapi ternyata masih ada beberapa wilayah yang terisolir dan belum dapat diakses secara optimal melalui jalur darat.

Hal itu diungkapkan Ketua Pos Komando Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, M. Nasir, Minggu (3/1/2026). Oleh sebab itu, Pemerintah Aceh terus memacu distribusi logistik via udara. Sekda menyebutkan, hingga sabtu kemarin, penyaluran logistik via udara telah menjangkau 52 kecamatan di 10 kabupaten/kota.

“Berdasarkan laporan yang diterima Posko hari ini, distribusi logistik via udara telah dilakukan ke 52 kecamatan. Distribusi tersebut disesuaikan dengan titik koordinat desa yang berada dalam masing-masing kecamatan, dan hari ini distribusi masih terus dilakukan sesuai titik koordinat yang telah terdata” kata M. Nasir.

Nasir yang juga Sekda Aceh ini menyebutkan bahwa distribusi bantuan dilakukan berdasarkan titik koordinat desa terisolir yang tersebar di setiap kecamatan terdampak. Adapun bantuan logistik yang dikirim melalui jalur udara pada Sabtu meliputi wilayah Kabupaten Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, Nagan Raya, Aceh Barat, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, dan Bener Meriah.

“Pengiriman bantuan via udara difokuskan ke gampong-gampong yang masih terisolir akibat terputusnya akses darat,” ujarnya.

Nasir melanjutkan, Pemerintah Aceh mengimbau pemerintah kabupaten/kota untuk segera menyampaikan koordinat wilayah yang belum dapat diakses secara maksimal agar distribusi bantuan dapat tepat sasaran. “Di saat yang sama, pemerintah masih terus berupaya membuka kembali akses darat agar arus bantuan dan aktivitas ekonomi masyarakat dapat segera pulih,” ucapnya.

Ia menambahkan, bahwa pemerintah berkomitmen dan terus memaksimalkan distribusi logistik ke seluruh wilayah terdampak, baik daerah yang masih terisolir maupun wilayah yang aksesnya telah terbuka.

Hal serupa juga disampaikan Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, yang dikonfirmasi secara terpisah. Ia menyampaikan. hingga kini masih terdapat sejumlah daerah di Aceh yang terisolasi akibat akses darat masih terputus. Sejumlah daerah itu tersebar di beberapa kabupaten/kota, seperti di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh Tengah, Aceh Timur, serta Gayo Lues. 

“Daerah terisolir seperti di Kecamatan Sekerak, Tamiang; Kampung Bidari (Aceh Timur), Sebagaian Kecamatan Pining dan Putri Betung (Gayo Lues), serta ada beberapa desa di Aceh Tengah,” kata Murthalamuddin. 

Kendati masuk ketegori terisolasi, Murthalamuddin menegaskan bahwa kebutuhan logistik hingga saat ini sudah sampai ke daerah-daerah yang dimaksud. “Logistik sudah masuk dengan cukup. Cuma akses jalan aja yang sulit,” ujarnya. 

Ia menambahkan, bahwa pihaknya tidak mengantongi data konkret terkait daerah-daerah yang dianggap masih terisolasi. “Tidak ada data konkret (terkait daerah yang masih terisolasi), karena sifatnya tentatif. Lagian kalau terisolir secara devisikan tergantung cara pandang,” ungkapnya.

Sewa Alat Berat

Sementara itu, warga korban banjir bandang di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Timur terpaksa menyewa alat berat secara swadaya untuk membersihkan lumpur yang masih menimbun permukiman mereka. Langkah ini diambil karena hingga lebih dari sebulan pascabanjir, belum ada alat berat pemerintah yang dikerahkan ke lingkungan tempat tinggal warga.

Salah seorang warga Perumahan BTN Satelit Graha, Kecamatan Karangbaru, Aceh Tamiang, Zahlul, mengatakan pembersihan selama ini dilakukan secara gotong royong. Namun, volume lumpur yang sangat besar membuat tenaga manusia tidak lagi memadai. “Kami bersihkan sendiri, gotong royong, tapi tidak sebanding dengan tumpukan lumpur yang sangat banyak,” ujarnya, Minggu (4/1/2026).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved