Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Strategic Foresight Untuk Masa Depan Aceh yang Bermartabat

Pemerintahan yang efektif di abad ke-21 tidak lagi sekadar soal menjalankan roda birokrasi atau merespons masalah yang sudah terjadi. Tantangan

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, ketua Komisi B Dewan Professor USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Bagaimana pemerintah Aceh bisa mulai mengadopsinya? Pertama Membentuk Unit Strategic Foresight di BAPPEDA: Unit ini bukan biro perencanaan biasa. Tugasnya adalah melakukan pemindaian tren global dan lokal, menganalisis data terintegrasi, dan menyelenggarakan scenario planning workshop secara berkala yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan: akademisi, pelaku usaha, NGO, komunitas, dan generasi muda. Hasilnya adalah peta jalan yang lebih tangguh menghadapi berbagai kemungkinan.

Kedua Menggunakan Skenario untuk Penganggaran (Budgeting for Futures): Alokasi anggaran tidak lagi hanya berdasarkan program tahun lalu, tetapi juga menyisihkan dana untuk “investasi masa depan” berdasarkan skenario yang telah dirancang. Misalnya, mengalokasikan dana riset untuk pengembangan energi panas bumi di Seulawah Agam atau membangun pusat pelatihan digital marketing dan coding untuk pemuda di setiap kabupaten.

Ketiga Membangun Jejaring Pemantau Sinyal Perubahan (Signal Network): Melibatkan kampus (seperti USK, UIN Ar-Raniry, dan UNIKI), LSM, dan komunitas warga untuk melaporkan “sinyal” perubahan yang mereka amati di lapangan mulai dari pola konsumsi baru, munculnya teknologi lokal, hingga keresahan sosial sebagai masukan untuk penyempurnaan kebijakan.

Keempat Literasi Futures untuk ASN dan Publik: Mengadakan pelatihan dan diskusi publik untuk mengenalkan konsep ini. Pemimpin dan ASN harus berpikir dalam kerangka waktu yang lebih panjang, tidak hanya terpaku pada target 5 tahunan.

Kesimpulan: Lompatan Mental Menuju Aceh yang Tangguh

Finlandia, Singapura, dan Uni Emirat Arab adalah contoh negara yang telah lama mengintegrasikan Strategic Foresight dalam pemerintahan mereka. Hasilnya adalah kebijakan yang antisipatif dan daya saing yang terjaga. Untuk Aceh, manfaatnya lebih dari sekadar kinerja pemerintah yang meningkat.

Ini adalah jalan untuk membangun ketahanan (resilience), mengurangi pemborosan anggaran akibat kebijakan jangka pendek, dan menciptakan legitimasi publik karena masyarakat melihat pemerintahnya berpikir jauh ke depan untuk kesejahteraan mereka.

Masa depan Aceh tidak ditentukan oleh nasib, tetapi oleh pilihan yang kita buat hari ini. Dengan mengadopsi Strategic Foresight yang terstruktur, mengawinkan ketajaman analisis data, keberanian kreatif, dan kedalaman berpikir kritis, Pemerintah Aceh dapat melakukan lompatan mental dari pola reactive governance menuju proactive and anticipatory governance.

Inilah kunci untuk mengarungi gelombang ketidakpastian abad ini dan membawa Aceh menuju masa depan yang benar-benar hebat, bermartabat, dan sejahtera. Saatnya memandang jauh ke depan, dan bertindak hari ini.

 

 

 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved