Aceh Tengah
Siswa SDN 9 Kebayakan Dapat Pendampingan Psikososial Lewat Metode Bermain dan Bercerita
Di tengah proses pemulihan pascabencana, siswa-siswi sekolah dasar tersebut menyambut kedatangan relawan Aksi Kemanusiaan...
Pendekatan dibuat sederhana, komunikatif, dan ramah anak, agar pesan mudah dipahami tanpa memberi tekanan.
“Anak-anak tidak selalu bisa menjelaskan perasaan mereka dengan kata-kata. Lewat bermain, bercerita, dan nilai spiritual yang akrab dengan keseharian mereka, kita membantu anak merasa aman dan tidak sendirian,” kata dr. Imam Maulana.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan bagian penting dari pemulihan psikososial. “Ketika anak merasa tenang, didengar, dan dihargai, proses belajar dan tumbuh kembang mereka bisa kembali berjalan,” ujarnya.
Poster edukasi yang digunakan dalam kegiatan ini menekankan pesan bahwa kesedihan dan musibah bukan tanda ditinggalkan, melainkan bagian dari ujian kehidupan. Anak-anak diajak memahami bahwa dalam kesulitan, ada kekuatan doa dan kebersamaan.
“Bukan hanya mengajarkan anak untuk kuat, tapi juga mengajarkan bahwa merasa sedih itu manusiawi, dan meminta bantuan itu boleh,” jelas Ns. Zafira Nabilah, S.Kep. Menurutnya, nilai spiritual membantu anak menata emosi tanpa mengabaikan realitas yang mereka alami.
Pendekatan ini dinilai relevan di Aceh, di mana spiritualitas dan budaya lokal menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat.
Founder MIT Foundation, Teuku Farhan, menilai sambutan siswa SDN 9 Kebayakan sebagai pengingat bahwa pemulihan pascabencana harus berangkat dari martabat dan kekuatan lokal.
“Melihat anak-anak menyambut dengan Didong dan tarian Gayo adalah pengalaman yang sangat menyentuh. Di tengah keterbatasan, mereka menunjukkan daya hidup dan kebanggaan pada budayanya,” ujar Teuku Farhan. “Inilah wajah pemulihan yang kami harapkan, manusiawi, inklusif, dan berakar pada komunitas.”
Ia menegaskan bahwa kolaborasi MIT Foundation dengan GEN-A tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga pada pemulihan psikososial jangka menengah, khususnya bagi anak-anak dan lingkungan sekolah.
Baca juga: Tim Medis PKB dan HRD Peduli Beri Pengobatan Gratis untuk Pengungsi di Aceh Tengah
Sementara itu, Ketua Tim Reaksi Cepat GEN-A (TRC GEN-A), dr. Intan Qanita, menjelaskan bahwa anak-anak merupakan kelompok paling rentan terdampak secara psikologis dalam situasi bencana, meski sering kali dampaknya tidak langsung terlihat.
“Anak bisa tampak ceria, tetapi menyimpan kecemasan dan kebingungan. Pendampingan psikososial membantu mereka memproses pengalaman tersebut secara sehat,” kata dr. Intan. “Kegiatan berbasis seni dan budaya kearifan lokal seperti ini sangat efektif karena anak merasa aman dan diapresiasi.”
Ia juga mengapresiasi keterlibatan mahasiswa KKN yang turut memperkuat pendampingan di lapangan. Menurutnya, kolaborasi antara relawan komunitas, mahasiswa, dan organisasi kemanusiaan mempercepat proses pemulihan sosial di tingkat akar rumput.
Bagi pihak sekolah, kehadiran relawan membawa suasana baru. Guru-guru melihat perubahan positif pada siswa yang sebelumnya cenderung pendiam dan menarik diri.
“Anak-anak terlihat lebih berani tampil dan berinteraksi. Mereka bangga bisa menunjukkan budaya Gayo di depan kakak-kakak relawan,” ujar salah seorang guru.
Melalui pendampingan psikososial berbasis budaya ini, GEN-A dan MIT Foundation berharap sekolah kembali menjadi ruang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan pulih bersama. Di Kebayakan, lantunan Didong dan gerak tarian Gayo hari itu menjadi tanda bahwa harapan masih tumbuh dari suara dan langkah anak-anak sendiri.(rel/*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Siswa-SDN-9-Kebayakan-dapat-pendampingan-psikososial-dari-Gen-A.jpg)