Sabtu, 2 Mei 2026

Kupi Beungoh

UIN Ar-Raniry Teratas Versi Scimago: Satu Cahaya dari Banyak Cermin

Dalam lanskap pendidikan tinggi yang kerap dipadati oleh hiruk-pikuk promosi dan pencitraan, prestasi UIN Ar-Raniry adalah

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS/FOR SERAMBINEWS.COM
Jasman J Ma'ruf Profesor Manajemen FEB USK, Rektor UTU periode 2014-2022. 

Oleh: Jasman J. Ma’ruf*)

PERTAMA-tama, mari kita angkat topi dan menundukkan kepala sejenak untuk memberi apresiasi yang tulus bagi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Kampus yang berdiri di ujung barat Nusantara ini, dalam senyap dan kesederhanaannya, telah memantulkan cahaya terang dalam pemeringkatan riset nasional versi Scimago Institutions Rankings (SIR) 2025, menempati posisi keempat secara nasional dan yang terbaik di luar Pulau Jawa. Ini bukan sekadar angka; ini adalah buah kerja sunyi yang tekun,  hasil dari budaya akademik yang merawat riset, inovasi, dan kontribusi sosial dengan kesabaran seorang petani menanti panen.

Dalam lanskap pendidikan tinggi yang kerap dipadati oleh hiruk-pikuk promosi dan pencitraan, prestasi UIN Ar-Raniry adalah kabar baik yang datang dari pinggiran, namun menggema hingga ke pusat. Ia menjadi simbol bahwa keunggulan bisa lahir dari mana saja, bahwa kualitas tak selalu berbanding lurus dengan kemegahan infrastruktur atau kedekatan geografis dengan ibu kota.

Namun, di balik kegembiraan ini, ada pertanyaan besar yang mengapung di tengah masyarakat.

Dalam sepekan, publik disuguhi berita yang menyalakan tepuk tangan untuk kampus berbeda. Hari ini Universitas Indonesia menempati puncak. Besoknya Gadjah Mada menyalip. Lusa, Ar-Raniry berdiri gagah. Semuanya benar, semuanya sah. Tapi benarkah masyarakat tidak bingung?

Kita hidup di zaman data yang melimpah tapi makna yang kabur. Di antara pujian dan angka-angka ranking, publik sesungguhnya sedang mencari satu hal: pegangan. Kampus mana yang paling layak jadi tempat anaknya menimba ilmu? Universitas mana yang paling pantas menerima gelar “unggul”? Tapi pertanyaan itu bergema dalam ruangan yang jawabannya saling berpantulan karena ranking tidak satu, dan metode pemeringkatan tidak tunggal.

Ranking Sebagai Cermin, Bukan Citra

Ranking perguruan tinggi, sesungguhnya, adalah cermin, bukan citra. Ia mencerminkan bagian-bagian tertentu dari kenyataan, bukan menggambarkan utuh seluruh wajahnya. Seperti cermin keramik di dinding warung kopi Aceh yang memantulkan cahaya pagi dari satu sudut, pemeringkatan seperti Scimago, QS, atau THE hanya menangkap aspek-aspek tertentu dari pendidikan tinggi apakah itu riset, pengajaran, internasionalisasi, atau persepsi.

Masyarakat sering mendambakan kejelasan. Tapi dalam dunia akademik, kerumitan justru adalah keniscayaan. Universitas adalah ekosistem kompleks, ada yang unggul di laboratorium, tapi tertinggal dalam penyusunan kurikulum. Ada yang menonjol di panggung internasional, namun sepi kolaborasi lokal. Maka, saat satu kampus disebut terbaik dalam satu sistem, bukan berarti yang lain lebih rendah secara mutlak. Mereka hanya berbeda dalam hal yang diukur, cara mengukur, dan waktu pengukuran.

Scimago Institutions Rankings, misalnya, tidak mewawancarai mahasiswa atau menilai kenyamanan ruang kuliah. Ia menelaah angka dan data, jumlah artikel ilmiah yang dipublikasikan di jurnal bereputasi, berapa sering artikel itu disitasi, sejauh mana kolaborasi dilakukan lintas negara, dan berapa kontribusinya terhadap inovasi teknologi serta pengaruhnya di ruang publik.

Sementara QS menyandarkan 50 persen bobotnya pada reputasi akademik dan employer, hasil dari survei global ribuan akademisi dan perekrut. Di sisi lain, THE memberikan ruang besar untuk aspek pengajaran dan dampak industri. Maka tak heran, satu universitas bisa tampil gemilang dalam satu ranking, tapi tak tampak dalam daftar lain.

Masalahnya bukan pada ranking. Tapi pada cara kita dan media, membaca dan mengabarkannya.

Media kerap memuat berita dengan judul bombastis: "Universitas A Terbaik di Indonesia!", tanpa menyisipkan bahwa itu adalah versi tertentu dengan ukuran tertentu. Maka lahirlah kebingungan publik yang beralasan.

Ranking perguruan tinggi, bila dibaca tanpa konteks, bisa menjadi citra kabur, bukan cermin jernih. Bahkan, bisa berubah menjadi alat kompetisi yang tak sehat, saling menepuk dada tanpa ruang perenungan.

Ragam Lembaga Pemeringkatan dan Kaca Mata yang Berbeda

Di dunia ini, ada lebih dari selusin lembaga pemeringkatan yang secara rutin mengurutkan universitas-universitas dari seluruh penjuru dunia. Beberapa di antaranya sudah menjadi seperti kitab rujukan modern dalam dunia pendidikan tinggi, sementara yang lain masih mencari tempat dalam percakapan global.

Yang paling sering disebut adalah QS World University Rankings, yang menilai reputasi akademik dan pemberi kerja, rasio dosen dan mahasiswa, serta daya tarik internasional. Lalu ada Times Higher Education (THE) yang mengukur pengajaran, penelitian, kutipan ilmiah, pendapatan industri, dan pandangan global.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved