Kupi Beugoh
Hadirnya Negara dalam Tradisi Meugang
Sejarah mencatat, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun, meugang tidak pernah benar-benar hilang. Pasca tsunami 26 Desember 2004, Aceh luluh
Kita tahu bahwa setiap rupiah anggaran publik harus dapat dipertanggungjawabkan. Transparansi bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan fondasi legitimasi kebijakan. Masyarakat berhak mengetahui bagaimana dana dibagi, siapa penerima manfaat, dan bagaimana pengawasannya.
Keadilan distribusi juga menjadi isu sensitif. Dalam kondisi bencana, ketimpangan bantuan dapat memicu kecemburuan sosial. Padahal esensi meugang adalah mempererat persaudaraan, bukan menciptakan sekat atau kecurigaan baru antar warga.
Dimensi Ekonomi Sosial
Meskipun kita harus sangat berhati-hati dalam menggunakan setiap rupiah yang kita terima sebagai dampak kebijakan publik, namun ada dimensi lain dalam melihat bantuan meugang sebagai sisi positif dalam menggerakkan potensi ekonomi lokal.
Permintaan daging meningkat, perputaran uang membangkitkan geliat para peternak, pedagang, dan pelaku usaha kecil. Jika penyaluran ini dirancang dengan baik, kebijakan ini bisa menjadi stimulus ekonomi mikro di wilayah terdampak bencana.
Artinya, meugang tidak hanya bernilai simbolik, tetapi juga memiliki dimensi ekonomi yang nyata. Tantangannya adalah memastikan bahwa manfaat ekonomi tersebut dinikmati secara luas, bukan terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Menjaga Marwah Tradisi
Meugang lahir dari Rahim solidaritas sosial, bukan dari intervensi birokrasi. Jika peran pemerintah terlalu dominan, ada risiko bahwa tradisi yang hidup dari semangat gotong royong bergeser menjadi sekadar program administratif yang menciptakan ketergantungan pada bantuan.
Karenanya, bantuan ini harus kita lihat dalam perspektif bahwa negara memiliki fungsi kesejahteraan (welfare state) yang dalam kondisi krisis wajib hadir. Tantangannya adalah menjaga keseimbangan, dengan konsep membantu masyarakat tanpa menghilangkan esensi sosial yang telah lama hidup dan bertumbuh dalam masyarakat. Sehingga hadirnya negara untuk memperkuat fondasi yang sudah ada bukan menggantikannya.
Penutup
Membahas bantuan meugang bukan berarti mempertentangkan tradisi dengan rasionalitas kebijakan. Justru tradisi yang kuat perlu ditopang oleh kebijakan yang akuntabel. Jika bantuan meugang dirancang sebagai perlindungan sosial yang terukur, tepat sasaran, dan transparan, ia dapat memperkuat solidaritas sekaligus menjaga disiplin fiskal daerah.
Sebaliknya, tanpa mekanisme yang jelas dan evaluasi yang ketat, bantuan berisiko menjadi beban anggaran yang tidak optimal. Kita harus benar-benar berhati-hati, agar jangan ada keran air baru dalam menyalurkan anggaran yang justeru menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat, apalagi menjadi celah rawan akuntabilitas
Pada akhirnya, keberhasilan kebijakan publik tidak hanya diukur dari kehendak politik pemerintah, tetapi dari sejauh mana ia memberi manfaat nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat. Tradisi meugang adalah warisan “indatu” yang harus tetap terjaga, jangan dicemari oleh segelintir kepentingan.
Kita yakin dan percaya, kehadiran negara justeru untuk mendukungnya terlaksananya tradisi meugang dalam memperkuat martabat, solidaritas, dan kesejahteraan rakyat.(*)
Tradisi Meugang di Aceh
tradisi meugang
Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh
Serambinews.com
Serambinews
| Satukan Langkah, Membangun Negeri dari Desa, Meniti Asa di Alue Canang Aceh Timur |
|
|---|
| Dua Model Kritik, Satu Pertanyaan yang Tak Dijawab |
|
|---|
| Abu di Lheue, Ulama dengan Pribadi Santun dan Mustajab Doa---Bagian 2 Habis |
|
|---|
| Kisah Abu di Lheue, Dirikan Dayah sebagai Benteng Melawan Paham Sesat---Bagian 1 |
|
|---|
| Kolegium di Persimpangan: Antara Regulasi Negara dan Otonomi Profesi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/kupi-beungoh-ijnmk.jpg)