Opini
Resep Neoklasik untuk Mendorong Pendapatan dan Terlepas dari Ketergantungan
SETIAP awal tahun, kita selalu menanti “kabar gembira” dari Badan Pusat Statistik. Pada triwulan II 2025, ekonomi Aceh tumbuh 4,82 persen secara
Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi USK dan Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
SETIAP awal tahun, kita selalu menanti “kabar gembira” dari Badan Pusat Statistik. Pada triwulan II 2025, ekonomi Aceh tumbuh 4,82 persen secara tahunan. Sekilas angka ini membanggakan di tengah ketidakpastian global.
Namun jika kita bedah menggunakan pisau analisis Model Neoklasik yang memandang perekonomian sebagai interaksi tiga pasar (barang, tenaga kerja, dan keuangan), kita akan menemukan sebuah ironi. Ekonomi Aceh tumbuh, tetapi pendapatan regional justru berpotensi stagnan karena ketidakseimbangan struktural.
Model Neoklasik mengajarkan kita bahwa pendapatan nasional (PDRB) meningkat optimal ketika pasar barang menghasilkan output bernilai tambah tinggi, pasar tenaga kerja menyerap sumber daya dengan produktivitas maksimal, dan pasar keuangan menjembatani tabungan menjadi investasi produktif.
Baca juga: Ketika Statistik Bukan Sekadar Angka, Tapi Cermin Penderitaan Rakyat
Aceh saat ini mengalami distorsi di ketiga pasar tersebut. Melalui analisis singkat ini, kita akan memetakan diagnosis dan resep penyembuhan berdasarkan data mutakhir dan kerangka ekuilibrium umum neoklasik.
Pasar Barang: Kutukan Ekspor Mentah dan Peran Pemerintah yang Menyusut
Dalam pasar barang neoklasik, perusahaan bertindak sebagai pemasok dan rumah tangga serta pemerintah sebagai peminta.
PDRB Aceh sisi pengeluaran menunjukkan keanehan: Ekspor mendominasi hingga 64,43 persen dari total PDRB, namun impor juga menganga lebar di angka 69 persen. Ini pertanda klasik “boomerang economy” Aceh mengirim barang mentah ke luar, lalu membeli kembali barang jadi yang lebih mahal.
Sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan memang menjadi penyumbang terbesar PDRB (31,52 persen). Namun dari sudut pandang neoklasik, nilai tambah sektor ini rendah karena kita belum melakukan downstreaming.
Data investasi kuartal III 2025 menunjukkan investasi terbesar masih di sektor perdagangan dan reparasi (55,2 persen), bukan di industri pengolahan. Memperdagangkan barang orang lain tidak akan meningkatkan pendapatan regional secara riil; ia hanya memindahkan uang.
Lebih memprihatinkan lagi adalah perilaku pemerintah sebagai agen di pasar barang. Konsumsi pemerintah terkontraksi minus 9,40 persen secara tahunan, dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik juga minus 2,13 persen.
Data APBN Regional mengkonfirmasi: realisasi belanja modal baru mencapai 35,14 persen dari pagu. Di Kabupaten Aceh Tenggara, belanja modal hanya Rp47 miliar dari total belanja Rp778 miliar, kalah jauh dibanding belanja pegawai.
Diagnosis Neoklasik: Pasar barang Aceh gagal menciptakan equilibrium price yang efisien karena struktur ekspor yang berat sebelah dan kontraksi belanja produktif pemerintah. Rekomendasi: Pemerintah harus segera menggenjot belanja modal, bukan sekadar belanja rutin.
Setiap rupiah belanja modal (infrastruktur irigasi, jalan industri, listrik) akan menggeser kurva penawaran agregat ke kanan secara permanen. Tanpa ini, lonjakan investasi swasta yang mencapai Rp4,16 triliun hanya akan menjadi transient boom, bukan pertumbuhan jangka panjang.
Pasar Tenaga Kerja: Ketika Penawaran Melimpah, Permintaan Mandul
Pasar tenaga kerja dalam kaca mata neoklasik adalah jantung pertumbuhan. Rumah tangga menawarkan jasa tenaga kerja, perusahaan memintanya untuk produksi. Aceh menghadapi paradoks serius: tingkat partisipasi angkatan kerja tinggi, tetapi penciptaan lapangan kerja berkualitas lambat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/apridarrr.jpg)