Jumat, 8 Mei 2026

Cicilan Kredit Korban Banjir

Sawah Hanyut Cicilan Tetap Jalan, Jeritan Korban Banjir di Tengah Kehilangan Mata Pencarian

Kami orang kampung, minim ilmu. Apakah pemerintah nanti bertanggung jawab terhadap masa depan kami?” SABTUDDIN, Petani Korban Banjir

Tayang:
Editor: mufti
COVER KORAN SERAMBI INDONESIA/KORAN SERAMBI INDONESIA
HEADLINE KORAN SERAMBI INDONESIA EDISI SENIN 20260223 

Ringkasan Berita:
  • BENCANA banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh tidak hanya merenggut rumah, kebun, dan sawah warga.
  • Setelah air surut dan lumpur mengering, para korban kini menghadapi persoalan lain yang tak kalah menghimpit, yaitu cicilan kredit yang tetap berjalan di tengah ekonomi keluarga yang lumpuh.
  • Sejumlah korban masih terbelenggu utang di bank yang kini sulit mereka bayar karena sumber penghasilan telah lenyap. 

“Kami orang kampung, minim ilmu. Apakah pemerintah nanti bertanggung jawab terhadap masa depan kami?” SABTUDDIN, Petani Korban Banjir dan Longsor

Liputan awal dalam paket lipsus ini merekam perjuangan warga Aceh pascabanjir, dari kehilangan sawah, kebun, rumah, hingga tempat usaha, sementara cicilan kredit tetap berjalan. Dari tenda pengungsian hingga puing-puing UMKM yang hancur, kisah-kisah ini menghadirkan potret getir rakyat kecil yang berusaha bangkit di tengah pemulihan yang belum sepenuhnya terasa. Laporan disajikan oleh Edi Laber, Romadani Aksa, Bustami, Maulidi Alfata, Rahmad Wiguna, dan Jafar, dengan koordinasi Yocerizal.

BENCANA banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh tidak hanya merenggut rumah, kebun, dan sawah warga. Setelah air surut dan lumpur mengering, para korban kini menghadapi persoalan lain yang tak kalah menghimpit, yaitu cicilan kredit yang tetap berjalan di tengah ekonomi keluarga yang lumpuh.

Di Kabupaten Gayo Lues, Sabtuddin (60), petani dari Kampung Persiapan Rigeb, Kecamatan Dabun Gelang, berdiri memandangi sisa lahan persawahannya yang hanyut. Dengan suara bergetar, pria lanjut usia itu mempertanyakan masa depan keluarganya.

“Kami orang kampung, minim ilmu. Apakah pemerintah nanti bertanggung jawab terhadap masa depan kami?” ujarnya.

Sawah dan kebun yang selama ini menjadi tumpuan hidup lenyap diterjang banjir dan longsor. Di usia senja, Sabtuddin mengaku tak lagi memiliki tenaga untuk memulai semuanya dari awal. “Rasanya di usia ini tak lagi mampu bila harus mengulang dari awal membuka lahan persawahan kami,” tambah pria tersebut.

Namun penderitaan warga tak berhenti pada hilangnya lahan. Sejumlah korban masih terbelenggu utang di bank yang kini sulit mereka bayar karena sumber penghasilan telah lenyap. “Ada saudara-saudara kami yang masih punya utang di bank. Bagaimana mereka harus membayar setiap bulan, sementara sawah dan kebun sudah tidak ada lagi,” tambahnya lirih.

Di kampung itu saja, sedikitnya 19 kepala keluarga tercatat kehilangan rumah serta sawah dan kebun, sekaligus memiliki tanggungan utang di berbagai lembaga keuangan. Trauma pascabencana bercampur kecemasan menghadapi tagihan bulanan, membuat banyak warga merasa masa depan mereka kian tidak menentu.

Kondisi serupa dirasakan para korban di Aceh Tengah. Di tengah tenda pengungsian, Rukaiyah, seorang ibu rumah tangga asal Kecamatan Bintang, masih berusaha bertahan setelah kebun dan sawah yang menjadi sandaran hidup keluarganya rusak parah akibat banjir bandang dan longsor. Sebagian warga bahkan harus direlokasi karena rumah mereka tak lagi layak huni.

Rukaiyah telah menjadi nasabah PNM Mekaar hampir sepuluh tahun. Awalnya ia meminjam dana sebesar Rp 3 juta, yang kemudian terus meningkat hingga mencapai Rp 15 juta, dengan sistem penagihan setiap dua pekan sekali.

Ia mengaku mengambil pinjaman saat kondisi ekonomi keluarga sulit, terutama ketika musim paceklik kopi. “Saya ambil uang Mekaar waktu buah kopi tidak ada. Barang-barang mahal, kebutuhan sehari-hari dan biaya anak sekolah harus jalan,” ucap Rukaiyah.

Kini, setelah bencana, ruang gerak ekonominya semakin sempit. Ia mengaku belum mampu memenuhi kewajiban angsuran karena masih tinggal di posko pengungsian. “Kami belum bisa bayar. Kami masih tinggal di posko pengungsian. Kami tidur bukan di rumah mewah, bukan di istana, bukan di kasur empuk,” tuturnya.

Ia juga menuturkan bahwa tekanan ekonomi sebenarnya sudah lama dirasakan para nasabah, bahkan sebelum bencana terjadi. “Dulu sebelum bencana pun, petugas sering tidak mau pulang kalau setoran belum terpenuhi, meskipun kurangnya cuma seratus rupiah,” bebernya.

Harapan sempat muncul ketika terdengar kabar adanya kebijakan keringanan pascabencana. Namun bagi Rukaiyah dan warga lainnya, pemulihan ekonomi belum benar-benar terasa, sementara kebutuhan hidup terus berjalan.

Di Aceh Timur, penderitaan korban juga berlapis. Muhammad, seorang buruh angkut, kini harus bekerja serabutan demi menyambung hidup. Pascabanjir, penghasilannya tidak menentu, sementara kewajiban kredit tetap menghantui. “Ekonomi saya sangat susah, sekarang terpaksa kerja serabutan apa saja yang penting jadi rupiah,” ungkap Muhammad.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved