Ramadhan di Pengungsian
Waktu Berjalan Lebih Lambat
Di tempat-tempat pengungsian, hari-hari berjalan perlahan, seakan waktu bergerak lebih lambat dari biasanya.
EMPAT bulan setelah banjir bandang menghantam sejumlah wilayah di Aceh Timur, sebagian korban bencana masih bertahan di tenda darurat. Di tempat-tempat pengungsian, hari-hari berjalan perlahan, seakan waktu bergerak lebih lambat dari biasanya.
Di Gampong Sahraja dan Sijudo, Kecamatan Pante Bidari, deretan tenda pengungsian masih menjadi pemandangan sehari-hari. Anak-anak bermain di sekitar tenda, sementara para orang tua mencoba menjalani rutinitas dengan segala keterbatasan.
Hunian sementara (huntara) yang dijanjikan pemerintah belum sepenuhnya terbangun, sehingga banyak keluarga belum bisa kembali menjalani kehidupan yang lebih layak.
Seiring waktu berjalan, sebagian warga mulai mengambil inisiatif sendiri. Mereka mengumpulkan kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir untuk membangun gubuk sederhana sebagai tempat berteduh. Upaya itu dilakukan agar mereka tidak terus bergantung pada tenda darurat yang semakin rapuh.
Di tengah situasi tersebut, muncul pertanyaan di kalangan warga mengenai lambatnya pembangunan huntara.
Perbedaan Konsep
Salah satu penyebab tersendatnya pembangunan huntara di beberapa lokasi adalah perbedaan konsep pembangunan antara warga dan pihak pelaksana proyek. Kepala Dusun Rantau Panjang, Mujahidin, mengatakan, pihak vendor sempat mengusulkan pembangunan huntara dengan sistem komunal agar proses pengerjaan bisa lebih cepat.
Namun konsep tersebut mendapat penolakan dari masyarakat. Warga lebih memilih pembangunan dilakukan secara insitu, yakni di atas tanah milik masing-masing keluarga.
“Pihak vendor beralasan ingin membangun Huntara dengan sistem komunal agar pengerjaannya cepat selesai. Namun, masyarakat menolak. Kami punya tanah sendiri dan meminta pembangunan secara insitu (di lokasi tanah masing-masing),” ujar Mujahidin.
Perbedaan pandangan ini membuat proses pembangunan sempat terhenti karena belum tercapai kesepakatan mengenai model hunian yang akan dibangun.
Kondisi Geografis
Selain persoalan konsep, pihak pelaksana proyek juga menyebut adanya kendala teknis di lapangan. Kondisi geografis wilayah terdampak banjir di Kecamatan Pante Bidari disebut cukup menantang, terutama dalam mobilisasi alat berat dan material bangunan menuju lokasi pembangunan huntara.
Beberapa desa berada di kawasan yang sulit dijangkau kendaraan besar, sehingga distribusi bahan bangunan menjadi lebih lambat. Akibatnya, progres pembangunan di sejumlah titik berjalan di bawah target awal.
Mencoba Bertahan
Di Dusun Rantau Panjang, satu-satunya fasilitas yang telah selesai dibangun adalah sebuah meunasah yang kini digunakan warga untuk beribadah. Sementara di dua dusun lainnya, Bedari dan Sijudo, pembangunan huntara masih belum rampung. Kondisi ini membuat sebagian warga masih menjalani aktivitas sehari-hari di tenda darurat dengan fasilitas yang sangat terbatas.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Tenda-pengungsian-masyarakat-Dusun-Karang-Kuda-Gampong-Bunin-Kecamatan-Serbajadi-Aceh-Timur.jpg)