Serambinews.com
ILUSTRASI Unit Huntara
SERAMBINEWS.COM, IDI - Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si meresmikan 32 unit hunian sementara (huntara) bagi warga korban banjir di Gampong Penaron Baru, Kecamatan Penaron, Sabtu (14/2/2026)
Peresmian tersebut menjadi bagian dari upaya percepatan penanganan pascabencana, khususnya bagi warga yang kehilangan tempat tinggal akibat banjir beberapa waktu lalu.
Dalam sambutannya, Al-Farlaky menjelaskan bahwa huntara merupakan tempat tinggal sementara bagi warga sembari menunggu proses pembangunan hunian tetap (huntap).
“Rumah huntara ini silakan dimanfaatkan dan dijaga dengan baik untuk ditempati. Apalagi menjelang bulan puasa, bapak ibu semua bisa beribadah dengan aman dan lebih tenang,” ujar Al-Farlaky.
Ia menambahkan, selama masa transisi menuju hunian tetap, para penerima huntara juga dibekali sejumlah bantuan, mulai dari uang stimulus, bantuan uang lauk, hingga bantuan perabot rumah tangga.
“Tentunya ini sangat membantu masyarakat di sini sembari menunggu pembangunan huntap,” katanya.
Selain itu, Bupati mengungkapkan pemerintah daerah juga tengah menyiapkan bantuan meugang untuk menyambut tradisi menjelang Ramadan. Bantuan tersebut, kata dia, bersumber dari Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Kita saat ini sedang menyiapkan daging meugang bantuan Presiden Prabowo Subianto. Bantuan ini akan kita dorong semaksimal mungkin agar bisa tersalurkan merata untuk korban banjir,” pungkas Al-Farlaky.
Ia juga memastikan pemerintah daerah akan terus mengupayakan bantuan tambahan bagi masyarakat terdampak selama bulan puasa berlangsung.
Huntara di Kecamatan Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur tepatnya di belakang kantor camat Idi Rayeuk, sudah dihuni oleh korban banjir, Sabtu (14/2/2026)
Rumah yang belum tergantikan
Di tengah berbagai kondisi itu, satu harapan yang terus disebut warga adalah rumah permanen. Hunian tetap atau huntap menjadi simbol dari satu hal yang belum mereka miliki sejak bencana datang, yaitu kepastian untuk kembali hidup normal.
Mahmuddin, Keuchik Gampong Simpang Tiga di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, mengatakan masyarakat sangat berharap pembangunan hunian tetap dapat segera dimulai.
"Kami dengar informasi pembangunan huntap baru akan dimulai Mei mendatang. Itu masih cukup lama. Karena itu kami sangat berharap agar realisasi huntap bisa dipercepat," katanya. Menurutnya, masyarakat memahami bahwa proses pembangunan membutuhkan waktu. Namun semakin lama masa penantian, semakin berat pula kehidupan yang harus dijalani warga yang kehilangan rumah.
Bagi banyak keluarga korban banjir, kehidupan saat ini berjalan dalam ruang yang serba sementara. Hunian sementara, pekerjaan sementara, bahkan rencana hidup yang juga terasa tertunda.
Sebagian warga mencoba kembali bekerja, sebagian lainnya masih berupaya menata kembali kehidupan mereka setelah kehilangan tempat tinggal. Namun satu pertanyaan yang terus muncul di tengah masyarakat tetap sama, kapan mereka benar-benar bisa pulang ke rumah sendiri.(*)