Senin, 13 April 2026

Opini

Strategi Teuku Raja Keumangan Menuju Nagan Raya Mandiri dan Madani 

Utusan Iran di Moskow membantah pemimpin tertinggi baru menerima perawatan medis di Rusia Duta Besar Iran untuk Rusia,

Editor: Ansari Hasyim
hand over dokumen pribadi
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh 

Oleh: Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh

KABUPATEN Nagan Raya, dengan hamparan luas 352.759,61 hektar yang membentang dari garis pantai Samudera Hindia hingga perbukitan, menyimpan potensi sekaligus tantangan yang kompleks. Di bawah kepemimpinan Bupati Teuku Raja Keumangan, visi "Mewujudkan Kabupaten Nagan Raya Mandiri dan Madani" bukan sekadar slogan, melainkan janji transformatif yang berakar dalam pada nilai-nilai Islam yang rahmatan lil 'alamin.

Strateginya mengedepankan pendekatan humanis, memandang pembangunan bukan semata angka pertumbuhan, tetapi sebagai upaya mengangkat harkat, martabat, dan kemuliaan setiap insan Nagan Raya, berlandaskan prinsip Syariat Islam yang menjadi ruh kehidupan masyarakat Aceh.

Mandiri: Membangun Dasar Ekonomi yang Manusiawi dan Berkeadilan

Kemandirian ekonomi yang dicanangkan Teuku Raja Keumangan jelas bukan kemandirian yang eksploitatif atau hanya menguntungkan segelintir orang. Data pertumbuhan ekonomi yang fluktuatif (6.77 persen di 2019, turun drastis ke 3.36 persen di 2020, naik ke 5.34 persen di 2021, turun lagi ke 2.37 persen di 2022, lalu melesat ke 7.57 persen di 2023) menunjukkan kerentanan yang tinggi, terutama terhadap fluktuasi komoditas seperti TBS kelapa sawit. Strategi humanisnya berfokus pada:

Pemberdayaan Basis yang Berkeadilan: Memperkuat petani, nelayan, dan pelaku UMKM bukan sebagai objek program, tetapi sebagai subjek utama pembangunan. Ini berarti:

Akses Modal Syariah: Mengoptimalkan Baitul Mal dan lembaga keuangan syariah untuk menyediakan pembiayaan tanpa riba (mudharabah, musyarakah, murabahah) yang terjangkau bagi petani kecil dan nelayan. Program ini harus disertai pendampingan teknis dan manajemen usaha berbasis nilai Islam (amanah, transparansi).

Baca juga: Sektor Publik Sebagai Penggerak Utama Perekonomian Aceh

Penguatan Rantai Nilai Halal: Tidak hanya menjual bahan mentah (TBS, ikan segar), tetapi membangun industri pengolahan skala kecil-menengah berbasis komunitas yang memenuhi standar halal. Pemberdayaan kelompok wanita tani/nelayan untuk pengolahan pangan halal bernilai tambah adalah contoh konkret. Ini meningkatkan pendapatan sekaligus menjamin produk yang thayyib (baik).

Perlindungan Mustahiq: Memperkuat sistem zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) yang terintegrasi dan transparan. Data kemiskinan yang masih tinggi (17.25 persen di 2023, jauh di atas nasional 9.36 persen) menunjukkan kebutuhan mendesak. Zakat tidak hanya konsumtif (beras, santunan), tetapi harus diarahkan menjadi modal produktif (program zakat produktif) bagi fakir miskin dan asnaf lainnya, disertai pelatihan dan pendampingan, sesuai prinsip "memutus rantai kemiskinan" dalam Islam. Pengelolaan yang amanah sesuai QS At-Taubah:60 menjadi kunci.

Memanfaatkan Anugerah Geografis secara Bertanggung Jawab: Posisi strategis di jalur pantai barat Sumatera dan berhadapan dengan Samudera Hindia adalah nikmat Allah SWT yang harus dikelola dengan prinsip ihsan (berbuat baik) dan khalifah (pemelihara).

Ekonomi Maritim Berbasis Syariah: Mengembangkan pelabuhan perikanan berbasis Syariat, tidak hanya fasilitas fisik, tetapi juga sistem transaksi yang adil (wara'), melarang praktik penipuan (gharar) dan eksploitasi. Pemberdayaan nelayan dengan teknologi ramah lingkungan dan manajemen hasil tangkap berkelanjutan (mencegah eksploitasi berlebihan/overfishing yang merusak) adalah bentuk ibadah memelihara alam.

Logistik dan Pariwisata Halal: Memanfaatkan jalur transportasi darat dan potensi laut untuk membangun pusat logistik halal regional. Mengembangkan destinasi wisata alam (pesisir, perbukitan) yang beretika, bersih, dan menawarkan pengalaman bernuansa Islami (misalnya, wisata edukasi pertanian/kelautan syariah, homestay syariah), menarik wisatawan yang menghargai nilai-nilai tersebut.

Madani: Membangun Peradaban yang Berakhlak dan Berpihak pada Manusia

"Madani" dalam visi Teuku Raja Keumangan lebih dari sekadar "modern". Ia berarti membangun masyarakat berperadaban tinggi yang berlandaskan akhlakul karimah, intelektualitas, dan keadilan sosial, sesuai tuntunan Islam. Strategi humanisnya menyentuh inti kemanusiaan:

Pendidikan yang Memanusiakan dan Mencerahkan: Pendidikan bukan hanya mengejar nilai akademis, tetapi membentuk insan kamil (manusia paripurna) yang berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat.

Integrasi Ilmu dan Adab: Memperkuat kurikulum yang memadukan sains, teknologi, dan nilai-nilai Islam secara integral. Sekolah/madrasah harus menjadi tempat meneladani akhlak Rasulullah (shiddiq, amanah, tabligh, fathanah).

Pemerataan Akses Berkualitas: Memastikan anak-anak di kantong kemiskinan (perkotaan, pegunungan, pesisir) mendapat pendidikan terbaik, termasuk pendidikan keterampilan hidup (life skills) berbasis potensi lokal dan nilai Islam. Beasiswa untuk anak yatim dan dhuafa dari dana ZIS/Baitul Mal adalah implementasi nyata keadilan sosial dalam Islam (QS Al-Ma'un).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved