Jurnalime Warga
Meugang Idulfitri di Tengah Bencana
Tradisi meugang biasanya berlangsung selama dua hari, yaitu meugang cet dan meugang rayek (meugang kecil dan besar). Hal ini telah berlangsung sejak
Oleh: CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen
TRADISI meugang atau lebih dikenal dengan sebutan makmeugang di Aceh bermula dari kebijakan kerajaan pada masa Sultan Iskandar Muda (1607—1636 M) memimpin Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan memerintahkan penyembelihan hewan ternak (sapi/kerbau) dalam jumlah besar untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada fakir miskin dan rakyat sebagai rasa syukur menyambut bulan suci Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha.
Tradisi meugang biasanya berlangsung selama dua hari, yaitu meugang cet dan meugang rayek (meugang kecil dan besar). Hal ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Sebagaimana kebiasaan pada saat makmeugang di Kota Matangglupng Dua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, banyak masyarakat yang membeli daging di tempat yang telah
ditentukan oleh pemerintah setempat. Namun, ada juga yang tidak mampu membeli daging sapi, kerbau, atau kambing. Mereka biasanya memotong ayam atau bebek sebagai pengganti daging.
Menyambut Ramadhan maupun menjelang Idulfitri tahun ini lokasi para penjual daging berada di sisi jalan nasional Banda Aceh-Medan. Pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya tampak nyata. Yakni, tidak terlalu ramai warga yang datang membeli daging. Hal ini karena keadaan ekonomi masyarakat yang tidak menentu pascabanjir bandang, timbunan lumpur, dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada 26 November 2025.
Hal lain yang turut memengaruhi kurang ramainya pembeli karena ada beberapa desa yang saat bencana terdampak berat dan sedang kini mendapatkan bantuan daging sapi dari Presiden Prabowo, seperti di Kecamatan Peusangan, Peusangan Siblah Krueng, dan Peusangan Selatan.
Istimewanya lagi, mereka tidak hanya mendapat bantuan daging meugang dari Presiden saat meugang Ramadhan saja, tetapi jua mendapatkannya saat meugang Idulfitri saat ini. Alhamdulillah, dalam tahun ini sudah dua kali negara hadir dalam tradisi meugang di Aceh.
Harga daging pada saat meugang hari pertama antara Rp160.000 s.d. Rp170.000, kemudian pada hari kedua rata-rata Rp180.000/kg.
Selain penjual daging, ada juga penjual ikan, penjual rempah- rempah, dan penjual bumbu. Khusus pada saat meugang di pasar tradisional Matangglumpang Dua, tepatnya di sisi terminal baru, hanya sedikit penjual yang membuka lapak dan toko, itu pun terbatas hanya menjual kebutuhan pokok saja.
Perbedaan meugang tahun ini rata-rata ayah dan ibu hanya membeli daging seadanya
saja, untuk anak-anaknya, agar mereka tidak bersedih ketika mencium harumnya masakan
tetangga, mengingat masa sekarang jangankan untuk kebutuhan yang lain untuk kebutuhan sehari-hari saja pun sulit dipenuhi karena hilangnya tempat atau unit usaha.
Pemandangan yang sangat berbeda dari tahun sebelumnya jalan menuju Peusangan Selatan melewati Kampus Universitas Almuslim (Umuslim) terlihat lengang. Biasanya para pejalan
kaki berbondong-bondong berbelanja berbagai keperluan untuk Ramadhan, apalagi untuk Iudulfitri seperti sekarang.
Jalan ini juga menjadi jalan alternatif menuju Medan melalui Jembatan Awe Geutah, karena Jembatan Kutablang
masih buka tutup, maka tak heran berbagai jenis kendaraan melintas melalui jalan ini.
Kendaraan melintas tertib dan saling menghargai, terutama ketika melalui ruas jalan yang sempit dan menanjak, semua harus mengantre. Tidak ada teriakan amarah seperti di jalan pada umumnya walaupun jarak tempuh jauh dan menghabiskan waktu yang lam.
Bencana banjir dan lumpur sedikitnya telah mampu mengubah perilaku pengguna jalan umum ke arah yang lebih baik, sebagaimana yang kami rasakan.
Saya teringat saat meugang Ramadhan lalu, ketika kami melayat teman yang meninggal di Kota Lhokseumawe. Kami melewati beberapa desa yang terdampak banjir. Ada yang sedang membagi-bagikan
daging meugang untuk warganya. Tampak wajah-wajah mereka tersenyum, tetapi menyimpan derita yang tak dapat mereka ucapkan. Musibah banjir bukan hanya menghancurkan rumah
tempat tinggalnya, tetapi juga lahan pertanian, kebun, tambak, dan semua mata pencaharian mereka telah hilang dan rusak. Tentu sulit untuk segera bangkit, karena ketidakmampuan dari segi finansial menjadi faktor utama untuk segera bangkit. Mereka pun memilih tetap di rumahnya, sebagaimana cerita Ibu Safriani, salah satu warga Desa Ujong Blang di Kecamatan Kutablang yang rumahnya tertimbun lumpur. Dia mengaku tak punya dana untuk menyuruh orang membersihkan dan membuang tanah dari dalam rumahnya, sehingga dia memilih membuat tenda di sisi rumahnya dan perlahan membersihkan sendiri dan tidak tahu kapan selesainya.
Sementara itu, di desa yang lain walaupun masih banyak rumah para korban banjir yang
tertimbun lumpur dan belum dibersihkan, mereka tetap melaksanakan meugang di tenda darurat yang mereka buat sendiri, karena rumah masih tertimbun lumpur kering yang sudah mengeras, seperti di Desa Pante Baro. Di sini berdomisili kakak Bu Rahmi, rekan kerja saya di Uniki Bireuen, yang rumah permanennya tertimbun lumpur.
Namun, karena kehidupan ini harus tetap berjalan, dia akhirnya memilih kembali ke rumahnya, tinggal di bagian rumah yang tidak tertimbun lumpur. Pada saat kering, rumah penuh dengan debu dan setiap hari halaman harus disiram, sedangkan pada saat hujan tanah becek dan jadi licin. Itulah hari-hari yang mereka lalui.
Terkadang ada penyintas bencana yang tidak tersentuh oleh bantuan, karena orang menganggap dulunya dia adalah orang yang mampu. Padahal, saat ini mereka sudah terpuruk kondisi ekonominya. Nyaris papa.
Meugang di tengah bencana tahun ini harus mereka lalui dua kali: meugang Ramadhan dan meugang Idulfitri. Dua bulan lagi, jika hunian tetap (huntap) untuk para penyintas bencana itu tidak segera dibangun, kemungkinan sekali mereka akan merasakan meugang ketiga kalinya di tenda atau di huntara.
Tahun ini mereka memasak daging dengan bumbu yang sama, tetapi beda dalam rasa, jika dibandingkan dengan tahun yang lalu. Saat ini mereka pun masih bisa tersenyum, tetapi hati mereka luka dan berduka.
Namun, ada hal yang masih tetap melekat dalam kehidupan masyarakat Aceh, terutama kaum ibu. Bahwa mereka masih tetap mengarahkan anak-anaknya untuk mengaji pada sore hari atau setelah
magrib di meunasah atau di rumah-rumah darurat yang mereka bangun.
Kegiatan ini menunjukkan keistimewaan Aceh dan gairah keislaman tetap melekat dalam jiwa-jiwa mereka yang sedang bersedih karena mereka yakin pasti ada hikmah di balik setiap musibah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/CHAIRUL-BARIAH-OKE-BANGET-HEHEHE.jpg)