Breaking News
Kamis, 9 April 2026

Jurnalime Warga

Meugang Idulfitri di Tengah Bencana

Tradisi meugang biasanya berlangsung selama dua hari, yaitu meugang cet dan meugang rayek (meugang kecil dan besar). Hal ini telah berlangsung sejak

Editor: Ansari Hasyim
IST
CHAIRUL BARIAH 

Oleh: CHAIRUL BARIAH, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebangsaan Indonesia (Uniki) dan Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Bireuen, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

TRADISI meugang atau lebih dikenal dengan sebutan makmeugang di Aceh bermula dari kebijakan kerajaan pada masa Sultan Iskandar Muda (1607—1636 M) memimpin Kesultanan Aceh Darussalam. Sultan memerintahkan penyembelihan hewan ternak (sapi/kerbau) dalam jumlah besar untuk dibagi-bagikan secara gratis kepada fakir miskin dan rakyat sebagai rasa syukur menyambut bulan suci Ramadhan, Idulfitri, dan Iduladha. 

Tradisi meugang biasanya berlangsung selama dua hari, yaitu meugang cet dan meugang rayek (meugang kecil dan besar). Hal ini telah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Sebagaimana kebiasaan pada saat makmeugang di Kota Matangglupng Dua, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen, banyak masyarakat yang membeli daging di tempat yang telah

ditentukan oleh pemerintah setempat. Namun, ada juga yang tidak mampu membeli daging sapi, kerbau, atau kambing. Mereka biasanya memotong ayam atau bebek sebagai pengganti daging.

Menyambut Ramadhan maupun menjelang Idulfitri tahun ini lokasi para penjual daging berada di sisi jalan nasional Banda Aceh-Medan. Pemandangan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya tampak nyata. Yakni, tidak terlalu ramai warga yang datang membeli daging. Hal ini karena keadaan ekonomi masyarakat yang tidak menentu pascabanjir bandang, timbunan lumpur, dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pada 26 November 2025.

Hal lain yang turut memengaruhi kurang ramainya pembeli karena ada beberapa desa yang saat bencana terdampak berat dan sedang kini mendapatkan bantuan daging sapi dari Presiden Prabowo, seperti di Kecamatan Peusangan, Peusangan Siblah Krueng, dan Peusangan Selatan.

Istimewanya lagi, mereka tidak hanya mendapat bantuan daging meugang dari Presiden saat meugang Ramadhan saja, tetapi jua mendapatkannya saat meugang Idulfitri saat ini. Alhamdulillah, dalam tahun ini sudah dua kali negara hadir dalam tradisi meugang di Aceh.

Harga daging pada saat meugang hari pertama antara Rp160.000 s.d. Rp170.000, kemudian pada hari kedua rata-rata Rp180.000/kg.

Selain penjual daging, ada juga penjual ikan, penjual rempah- rempah, dan penjual bumbu. Khusus pada saat meugang di pasar tradisional Matangglumpang Dua, tepatnya di sisi terminal baru, hanya sedikit penjual yang membuka lapak dan toko, itu pun terbatas hanya menjual kebutuhan pokok saja.

Perbedaan meugang tahun ini rata-rata ayah dan ibu hanya membeli daging seadanya

saja, untuk anak-anaknya, agar mereka tidak bersedih ketika mencium harumnya masakan

tetangga, mengingat masa sekarang jangankan untuk kebutuhan yang lain untuk kebutuhan sehari-hari saja pun sulit dipenuhi karena hilangnya tempat atau unit usaha.

Pemandangan yang sangat berbeda dari tahun sebelumnya jalan menuju Peusangan Selatan melewati Kampus Universitas Almuslim (Umuslim) terlihat lengang. Biasanya para pejalan

kaki berbondong-bondong berbelanja berbagai keperluan untuk Ramadhan, apalagi untuk Iudulfitri seperti sekarang.

Jalan ini juga menjadi jalan alternatif menuju Medan melalui Jembatan Awe Geutah, karena Jembatan Kutablang

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved