Sabtu, 11 April 2026

Jurnalisme Warga

Syech Muharram, Bupati yang Peduli Aksara Jawi Melayu

Melalui tulisan Arab Melayu inilah selama berabad-abad para pengarang di Aceh dan Asia Tenggara telah menghasilkan beribu-ribu karya tulis mereka yang

Editor: Ansari Hasyim
@pegadaian.kanwilmedan
RUSYDI, S.Ag., M.Pd., alumnus S-2 PMP UBBG Banda Aceh, pegiat seni budaya, dan Sekcam Peukan Bada, melaporkan dari Aceh Besar 

Oleh: RUSYDI, S.Ag., M.Pd., alumnus S-2 PMP UBBG Banda Aceh, pegiat seni budaya, dan Sekcam Peukan Bada, melaporkan dari Aceh Besar

REPORTASE ini menjawab pertanyaan dalam tulisan T. A. Sakti, tokoh alih aksara Balee Tambeh tentang Arab Jawi Siapa Peduli? Tulisan itu pernah dimuat dalam rubrik Jurnalisme Warga Harian Serambi Indonesia tiga tahun lalu, kemudian diperbarui kembali dalam diskusi Grup WhatsApps. Kala itu T. A. Sakti menulis, “Serempak dengan masuknya agama Islam ke Aceh dan Nusantara, masyarakat di wilayah ini mulai mengenali huruf Arab. Lama-kelamaan dengan penyesuaian seperlunya huruf Arab itu dapat digunakan buat menulis bahasa Melayu, sehingga aksara itu disebut huruf Arab Melayu.”

Melalui tulisan Arab Melayu inilah selama berabad-abad para pengarang di Aceh dan Asia Tenggara telah menghasilkan beribu-ribu karya tulis mereka yang sekarang dinamakan “manuskrip Arab Melayu”.

Menurut T.A. Sakti, bahasa Melayu Aceh (yaitu dari Kerajaan Pasai) berperan penting dalam tradisi pemakaian Arab Melayu.

Tak diragukan lagi, ulama Aceh-lah yang telah memakai tulisan Arab Melayu secara luas dalam berbagai kitab karangan mereka. Sebab itu, tulisan Arab Melayu mungkin juga telah ditaja pada awalnya oleh para ulama di Aceh.

Karena tulisan ini juga mempunyai beberapa ragam (versi), maka ragam Arab Melayu yang dipakai di Aceh mungkin merupakan ragam yang tertua.

T.A. Sakti berpendapat bahwa huruf Arab Melayu ditulis pertama kali di Aceh. Sampai sejauh ini tulisan Jawi tertua yang sudah pernah dijumpai adalah surat Sultan Aceh kepada Raja Inggris.

Dari beberapa kutipan tulisan T.A. Sakti di atas dapat saya simpulkan bahwa tulisan Arab

Jawi Melayu mulai dikenal di Nusantara, terutama Aceh Darussalam, saat masuknya Islam pertama sekali, yaitu di Samudra Pasai.

Penggunaan bahasa Arab Jawi dalam penulisan surat resmi kerajaan dan penulisan buku oleh para ulama dan para penulis lainnya terus berkembang dengan berbagai versi dan, menurut T. A. Sakti, ragam versi Arab Jawi Melayu Aceh adalah versi yang tertua, mengingat Islam pertama kali

masuk ke Nusantara adalah ke Samudra Pasai, bagian dari Provinsi Aceh saat ini.

T. A. Sakti juga menulis, ”Berdasarkan kutipan buku ‘Seratus Tahun Jejak Langkah Haji Agussalim’ dengan jelas dapat kita pahami, betapa seriusnya masalah aksara Jawi, menurut pendapat H. Agussalim, yang pada pokoknya mengatakan bahwa penghapusan mata pelajaran

huruf Jawi (bahasa Aceh = harah Jawoe) dalam sistem pendidikan di Indonesia, merupakan bahaya dan bencana bagi kebudayaan bangsa Indonesia.”

“Telah menjadi kenyataan sejarah bahwa selama zaman penjajahan di Indonesia, merupakan masa penggusuran dan penggayangan besar-besaran terhadap kebudayaan bangsa kita. Dalam rangka menggalakkan kembali pemakaian huruf Arab Melayu di Aceh, Pemda Aceh perlu mewajibkan pengajaran huruf Arab Melayu (huruf Jawi) pada setiap jenjang pendidikan, baik di sekolah umum, madrasah, maupun dayah-pesantren. Fasilitas yang memadai perlu disediakan secara tetap setiap tahun anggaran,“ urainya.

Berdasarkan kutipan dari tulisan T. A. Sakti di atas, saya coba mereportasekan apa yang sudah dilakukan Syech Muharram selaku Bupati Aceh Besar Bersama Wakil Bupati

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved