Berita Aceh Utara
Makna Lebaran di Pengungsian, Guru Besar Unimal Ungkap Dampak Sosial dan Evaluasi Banjir Aceh
Di satu sisi, masyarakat merayakan dengan penuh tradisi dan kebersamaan, sementara di sisi lain, ribuan korban banjir masih menjalani hari raya
Penulis: Jafaruddin | Editor: Mursal Ismail
Ringkasan Berita:
- Lebaran di Aceh menampilkan dua realitas: suasana penuh tradisi dan kebersamaan, namun juga kesedihan ribuan korban banjir yang masih bertahan di pengungsian.
- Bencana tidak hanya merusak fisik, tetapi juga melemahkan struktur sosial, komunikasi warga, serta memicu potensi konflik akibat distribusi bantuan yang tidak merata.
- Penguatan gotong royong, peran tokoh lokal, dan kearifan budaya dinilai menjadi kunci pemulihan sosial di tengah lambannya penanganan bencana.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia, Jafaruddin I Aceh Utara
SERAMBINEWS.COM, LHOKSUKON – Lebaran Idulfitri tahun ini menghadirkan dua wajah berbeda di Aceh.
Di satu sisi, masyarakat merayakan dengan penuh tradisi dan kebersamaan, sementara di sisi lain, ribuan korban banjir masih menjalani hari raya di pengungsian dengan segala keterbatasan.
Perbedaan ini tidak hanya menggambarkan kondisi sosial yang timpang, tetapi juga menyisakan pertanyaan tentang makna Lebaran bagi mereka yang belum sepenuhnya pulih dari bencana.
Untuk menggali lebih dalam fenomena tersebut, Serambinews.com meminta pandangan Guru Besar Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (Unimal), Prof Dr Suadi MSi.
Dalam wawancara ini, Prof Dr Suadi MSi, mengulas makna Lebaran bagi para pengungsi korban banjir, dampak jangka panjang yang ditimbulkan terhadap struktur sosial masyarakat, serta evaluasi terhadap penanganan bencana yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan.
Menurut Suadi, dalam kondisi normal, Idulfitri bagi masyarakat Aceh merupakan puncak dari siklus sosial tahunan yang telah berlangsung turun-temurun.
Baca juga: Pasar Global belum Stabil, Harga Emas di Aceh Timur Fluktuatif, Segini Pasarannya
Seluruh aspek kehidupan, baik yang bersifat privat maupun komunal, diarahkan pada satu momentum kebersamaan melalui tradisi.
Salah satu tradisi yang tetap terjaga hingga kini adalah ziarah kubur sebelum bersilaturahmi.
Usai menunaikan salat Id, masyarakat berbondong-bondong mengunjungi makam keluarga, baik sendiri maupun bersama keluarga inti, bukan hanya untuk membersihkan makam, tetapi juga untuk mendoakan orang tua dan leluhur.
Tradisi ini menjadi simbol kuat bagaimana masyarakat Aceh menjaga hubungan dengan asal-usulnya sekaligus mempererat kebersamaan.
“Dalam perspektif sosiologis, praktik tersebut memiliki makna yang mendalam karena mendahulukan hubungan dengan yang telah tiada sebelum menjalin hubungan dengan yang masih hidup,” ujarnya kepada Serambinews.com, Sabtu (28/3/2026).
Hal ini menunjukkan bahwa identitas seseorang dalam masyarakat Aceh tidak dapat dilepaskan dari silsilah dan akar budaya.
Baca juga: Demi Hemat BBM, Pemkab Sumenep Dorong ASN Jalan Kaki dan Bersepeda
Selain itu, tradisi teumeutuk atau salam tempel juga menjadi bagian penting dari perayaan Lebaran, terutama bagi pasangan pengantin baru dan anak-anak.
Tradisi ini tidak sekadar pemberian materi, tetapi merupakan bentuk pengakuan sosial sekaligus penguatan hubungan kekeluargaan dalam masyarakat.
| Tadzkiratul Ummah Aceh Safari Subuh di Masjid Syuhada Lhoksukon |
|
|---|
| Rumah Kayu di Dewantara Aceh Utara Ludes Terbakar |
|
|---|
| Sambangi Pasutri Miskin Tercatat Desil 8, Ketua PDI Perjuangan Aceh Utara: Perlu Validasi Ulang Data |
|
|---|
| Tiga Penyelundup Senpi ke Lapas Lhoksukon Dituntut 6 Tahun, Begini Perjalanan Kasusnya |
|
|---|
| Jaksa Tuntut Tiga Penyelundup Senpi ke Lapas Lhoksukon 6 Tahun Penjara |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/SUADI-28032026.jpg)