Rabu, 29 April 2026

Opini

Konsep Kunci dalam Teori Kutub Pertumbuhan Ekonomi Aceh

Dalam pandangan Perroux, pertumbuhan ekonomi tidak terjadi di sembarang tempat, melainkan hanya di wilayah-wilayah tertentu dengan variabel yang

|
Editor: Ansari Hasyim
IST
Prof. Dr. Apridar, S.E., M. Si, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh. 

Meski demikian, posisi Aceh masih jauh tertinggal dibandingkan provinsi-provinsi lain di Sumatra: PDRB Aceh hanya Rp66,35 triliun, sementara Sumatera Utara mencapai Rp1.236 triliun.

Dari sisi struktur ekonomi, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi tulang punggung perekonomian Aceh, khususnya di kabupaten-kabupaten seperti Aceh Besar.

Pemerintah Aceh sendiri mempromosikan empat sektor prioritas utama: agroindustri, pariwisata, energi dan infrastruktur, serta kawasan ekonomi khusus. Komoditas unggulan seperti Kopi Arabika Gayo, kakao organik, rempah-rempah, hingga kelapa sawit menjadi andalan ekspor yang telah diakui internasional.

Ketimpangan dan Efek Hisap yang Mengkhawatirkan

Di sinilah letak ironi pembangunan Aceh. Rasio Gini Aceh pada Maret 2025 tercatat 0,282 yaitu angka yang menunjukkan ketimpangan tergolong rendah dan bahkan cenderung menurun dibandingkan periode sebelumnya. Penurunan ini patut diapresiasi.

Namun, di balik angka agregat yang tampak baik, terdapat realitas pahit: manfaat pertumbuhan masih sangat terkonsentrasi di pusat-pusat tertentu, sementara wilayah pinggiran terus tertinggal.

Penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan pendapatan di Aceh berada dalam kategori sedang, dan pertumbuhan ekonomi terbukti tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan indeks gini. Artinya, tumbuhnya ekonomi Aceh belum otomatis mengurangi kesenjangan. Ini adalah gejala klasik dari kegagalan efek tetesan pada kutub-kutub pertumbuhan yang ada justru berfungsi sebagai magnet yang menarik sumber daya dari daerah sekitarnya, bukannya menyebarkan kemakmuran.

Data kemiskinan menambah keprihatinan. Hingga Maret 2025, jumlah penduduk miskin Aceh mencapai sekitar 704.690 jiwa, atau sekitar 12,3 persen dari total populasi. Meskipun angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya, jumlah absolutnya masih sangat besar untuk sebuah provinsi dengan populasi lima juta jiwa lebih.

Mengapa Growth Pole Aceh Belum Bekerja Optimal?

Setidaknya ada tiga kelemahan mendasar dalam strategi kutub pertumbuhan Aceh saat ini.

Pertama, dominasi sektor primer yang belum terintegrasi ke dalam rantai nilai industri. Sebagian besar nilai tambah dari komoditas unggulan Aceh kopi, kakao, kelapa sawit, hasil perikanan masih dinikmati di luar daerah karena keterbatasan industri pengolahan hilir. Bank Indonesia sendiri telah berulang kali mendorong peningkatan nilai tambah sumber daya alam sebagai kunci pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, namun implementasinya masih jauh dari target.

Kedua, infrastruktur yang rapuh dan kerentanan terhadap bencana. Banjir dan longsor yang melanda 18 kabupaten/kota pada akhir 2025 menjadi ujian nyata betapa mudahnya rantai ekonomi Aceh terguncang. Pertumbuhan ekonomi yang sempat mencapai 4,46 persen di triwulan III 2025 langsung terpangkas menjadi 3,50-4,40 persen pascabencana. Tanpa infrastruktur yang tangguh dan terdistribusi merata, kutub pertumbuhan hanya akan menjadi titik-titik rapuh yang mudah runtuh saat bencana datang.

Ketiga, konsentrasi investasi yang tidak diimbangi penguatan konektivitas antarwilayah. Proyek-proyek besar seperti KEK Arun Lhokseumawe, pengembangan Pelabuhan Krueng Geukeuh, dan Jembatan Spiral Geurute memang strategis, namun belum terlihat upaya sistematis untuk memastikan bahwa manfaat dari pusat-pusat pertumbuhan ini benar-benar menyebar ke kabupaten-kabupaten sekitarnya seperti Aceh Utara, Bireuen, hingga Aceh Timur.

Membangun Kutub Pertumbuhan yang Sejati

Teori Perroux mengajarkan bahwa kutub pertumbuhan sejati tidak cukup hanya dengan membangun pusat-pusat ekonomi di peta. Kutub pertumbuhan harus berupa sekumpulan industri unggulan yang saling terkait dimana sebuah ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan efek berganda secara organik. Maka, langkah pertama yang harus dilakukan Aceh adalah memilih satu atau dua sektor unggulan yang benar-benar memiliki potensi rantai nilai panjang, lalu membangun ekosistem industri di sekitarnya.

Kopi Gayo, misalnya, tidak cukup hanya diekspor dalam bentuk biji mentah. Aceh perlu membangun industri pengolahan kopi terpadu dari roasting, pengemasan, hingga pemasaran global. Demikian pula dengan sektor perikanan: hasil laut Aceh memiliki pasar ekspor yang menjanjikan, namun tanpa industri pengalengan dan pengolahan modern di dalam daerah, nilai tambah akan terus mengalir keluar.

Kedua, pemerintah harus mengatasi efek hisap dengan memperkuat konektivitas ekonomi antarwilayah. Bukan sekadar jalan fisik, tetapi juga konektivitas rantai pasok utuk memastikan bahwa bahan baku dari kabupaten-kabupaten sekitar dapat diolah di pusat-pusat industri, dan hasil olahannya dapat didistribusikan kembali ke seluruh penjuru Aceh.

Ketiga, keberlanjutan harus menjadi fondasi. Teori kutub pertumbuhan tidak boleh melulu berorientasi pada pertumbuhan jangka pendek yang mengabaikan kerentanan wilayah. Pembangunan infrastruktur yang tahan bencana dan diversifikasi ekonomi menjadi keniscayaan agar kutub-kutub pertumbuhan tidak runtuh setiap kali bencana datang.

Penutup: Membaca Ulang Perroux untuk Aceh

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved