Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Aceh Utara

Dua Maestro Nasional Hadir di Unimal, Edukasi Mahasiswa Lewat Puisi, Lukisan dan Rapai Pase

Kehadiran keduanya tidak hanya menjadi momentum silaturahmi antar maestro seni, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan motivasi bagi generasi muda,

Tayang:
Penulis: Jafaruddin | Editor: Nurul Hayati
Foto Dok Panitia /Serambinews.co/HO
Dua tokoh seni nasional, penyair senior LK Ara dan pelukis nasional Sayed Al Habsyie bertemu dalam suasana hangat di Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Unimal, Kampus Bukit Indah, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, Kamis (7/5/2026). 

Ia juga mengapresiasi dosen-dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Malikussaleh yang berhasil memperoleh hibah Dana Indonesiana untuk riset dan dokumentasi kebudayaan Aceh.

Menurutnya, capaian tersebut menjadi bukti bahwa kampus memiliki komitmen dalam pengembangan riset budaya dan pelestarian warisan lokal.

Dalam kesempatan itu, Teuku Zulkarnaen juga menyinggung capaian Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Malikussaleh yang baru saja memperoleh akreditasi unggul.

Meski demikian, ia mengingatkan sivitas akademika agar tidak berlebihan dalam euforia dan tetap fokus meningkatkan kualitas akademik dan kontribusi kepada masyarakat.

Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi, Awaluddin Arifin MIkom, turut meminta mahasiswa mengikuti kegiatan hingga selesai dan menggali sebanyak mungkin pengetahuan dari para maestro seni yang hadir.

Sementara itu, Harinawati menjelaskan bahwa kegiatan baca puisi bersama LK Ara merupakan bagian dari proses produksi film dokumenter yang sedang disusun timnya melalui Program Dana Indonesiana.

Sebelumnya, tim riset telah melakukan kunjungan ke kediaman LK Ara di Kecamatan Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah untuk mengumpulkan data dan dokumentasi perjalanan karya sastra sang penyair selama 55 tahun berkarya.

“Selain kegiatan hari ini, besok juga akan dilakukan pembacaan puisi dan proses perekaman tambahan di Makam Ratu Nahrisyah, Kecamatan Samudera, Aceh Utara, untuk melengkapi film dokumenter,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Jafaruddin yang tengah melakukan riset pelestarian Rapai Pase.

Ia menyebutkan bahwa riset tersebut nantinya akan melahirkan buku dokumentasi budaya Rapai Pase serta promosi digital untuk memperkuat eksistensi seni tradisional Aceh di kalangan generasi muda.

“Saat ini proses pengumpulan data dan wawancara masih terus dilakukan bersama sejumlah syeh dan tokoh Rapai Pase, termasuk narasumber yang hadir dalam kegiatan ini,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Dr kamaruddin Hasan juga menyebutkan, Aceh merupakan tanah yang kaya sejarah, peradaban dan nilai luhur yang tidak hanya dapat diwariskan melalui buku dan sastra, tetapi juga melalui bahasa visual berupa lukisan.

“Karya seni memiliki nilai dokumentatif yang sangat kuat. Lukisan bisa menjadi ensiklopedia visual sejarah dan peradaban Aceh. Di tengah arus globalisasi, banyak karya budaya yang terancam hilang sehingga perlu ada upaya sistematis untuk menjaga dan mewariskannya kepada generasi muda,” ujar Kamaruddin.

Ia menambahkan bahwa karya seni budaya tidak sekadar menjadi media ekspresi, tetapi juga arsip visual perjalanan sebuah peradaban.

Seni, menurutnya, mampu menyatukan berbagai generasi tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial.

Program Dana Indonesiana sendiri merupakan program fasilitasi dana hibah kebudayaan yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Abadi Kebudayaan LPDP.

Program tersebut diluncurkan untuk mendukung keberlanjutan pelestarian, pengembangan dan dokumentasi seni budaya nasional sebagai bagian dari amanat konstitusi dalam memajukan kebudayaan bangsa.(*)

 


 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved