Minggu, 10 Mei 2026

Berita Banda Aceh

Peringati Hari Talasemia Sedunia, YDUA Kampanyekan ‘Melihat yang Selama Ini Tak Terlihat’

Aceh menjadi wilayah dengan prevalensi carrier talasemia tertinggi di Indonesia, mencapai 13,4 persen.

Tayang:
Penulis: Muhammad Nasir | Editor: Saifullah
For Serambi Indonesia
PERINGATAN HARI TALASEMIA - Nurjannah Husien, Direktur Yayasan Darah untuk Aceh menyebutkan tema global peringatan Hari Talasemia tahun ini adalah “Hidden No More: Finding the Undiagnosed. Supporting the Unseen”, sebuah seruan untuk menemukan mereka yang belum terdiagnosis dan mendukung mereka yang selama ini tak terlihat. 

Ringkasan Berita:
  • YDUA memperingati Hari Talasemia Internasional 2026 dengan kampanye “Melihat yang Selama Ini Tak Terlihat”, sejalan dengan tema global “Hidden No More: Finding the Undiagnosed. Supporting the Unseen”.
  • Aceh menjadi wilayah dengan prevalensi carrier talasemia tertinggi di Indonesia, mencapai 13,4 persen.
  • Dalam momentum ini, YDUA menyerukan kolaborasi lintas sektor agar tidak ada lagi penyandang talasemia yang tersembunyi.

 

Laporan wartawan Serambi Indonesia Muhammad Nasir I Banda Aceh 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Tepat pada 8 Mei 2026, dunia memperingati Hari Talasemia Internasional 2026 yang setiap tahunnya digaungkan oleh Thalassaemia International Federation. 

Tahun ini, tema global yang diusung adalah “Hidden No More: Finding the Undiagnosed. Supporting the Unseen”, sebuah seruan untuk menemukan mereka yang belum terdiagnosis dan mendukung mereka yang selama ini tak terlihat.

Di Aceh, peringatan tersebut membawa makna yang jauh lebih dalam. 

Yayasan Darah Untuk Aceh yang pada 24 April lalu baru saja memperingati hari jadinya ke-14, menjadikan momentum ini sebagai refleksi sekaligus panggilan aksi kemanusiaan.

Sejak berdiri pada 2012, YDUA telah mendampingi anak-anak pejuang talasemia, membantu memenuhi kebutuhan darah pasien, serta membangun kepedulian sosial di Aceh dengan semangat “Darah Sehat untuk Semua”.

Ketua YDUA, Nurjannah Husien menegaskan, bahwa perjuangan melawan talasemia bukan hanya soal transfusi darah. 

“Selama 14 tahun, kami belajar bahwa harapan bisa lahir dari kepedulian sederhana. Dari satu kantong darah, dari satu tangan yang membantu, hingga dari satu komunitas yang memilih untuk peduli,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (8/5/2026).

Baca juga: Waspada! Dinkes Sebut dari Hasil Skrining, Ribuan Orang Dicurigai Berisiko Idap Talasemia di Aceh

Aceh sendiri menjadi salah satu wilayah paling terdampak di Indonesia. 

Provinsi ini mencatat prevalensi carrier atau pembawa gen talasemia tertinggi secara nasional, mencapai 13,4 persen dari total populasi, jauh di atas rata-rata nasional yang berada di kisaran 6 hingga 10 persen. 

Artinya, hampir satu dari tujuh warga Aceh membawa gen talasemia dan sebagian besar dari mereka tidak mengetahuinya.

Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya edukasi di tingkat masyarakat, keterbatasan akses pemeriksaan di daerah terpencil, serta masih kuatnya stigma sosial yang membuat banyak keluarga enggan membuka kondisi anak mereka.

“Kami menyadari masih sangat banyak anak dan keluarga yang belum terdiagnosis serta belum terakses dengan pengetahuan tentang talasemia. Karena itu dibutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, media, komunitas, hingga masyarakat luas,” tambah Nurjannah.

Di lapangan, tantangannya sangat nyata. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved