Selasa, 19 Mei 2026

Berita Aceh Tamiang

Kupak-kapik Pascabanjir, Perumda Tirta Tamiang Menunggak Listrik Rp1,8 M, Gaji Karyawan Tersendat

Badan layanan umum daerah ini tak mampu membayar tagihan listrik hingga terutang dengan PLN sebesar Rp1,8 miliar.

Tayang:
Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Mursal Ismail
Serambinews.com/Rahmad Wiguna
TINJAU GUDANG - Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi (dua kiri) dan Direktur Perumda Tirta Tamiang, Juanda (kiri) saat meninjau gudang tawas bersama perwakilan FKL dan YPI, pertengahan pekan lalu. 

Ringkasan Berita:
  • Banjir bandang akhir 2025 membuat Perumda Tirta Tamiang mengalami kerusakan parah, termasuk 24 ribu water meter rusak dan layanan baru pulih 65 persen.
  • Dampak kerusakan menyebabkan perusahaan menunggak listrik ke PLN sebesar Rp1,8 miliar dan belum mampu membayar gaji karyawan karena pemasukan minim.
  • Armia Pahmi memastikan pemerintah terus mencari solusi, termasuk koordinasi dengan kementerian serta menggratiskan iuran pelanggan karena kondisi ekonomi dan suplai air belum normal.

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG - Banjir bandang akhir tahun 2025 meninggalkan dampak kerusakan luar biasa terhadap Perumda Tirta Tamiang.

Badan layanan umum daerah ini tak mampu membayar tagihan listrik hingga terutang dengan PLN sebesar Rp1,8 miliar.

Tak hanya itu, karyawan perusahaan ini juga tidak menerima gaji akibat pemasukan tidak sebanding dengan beban operasional.

"Instalasi jaringan kami kupak-kapik akibat banjir kemarin, ini yang membuat distribusi belum normal," kata Direktur Perumda Tirta Tamiang, Juanda, Sabtu (16/5/2026).

Juanda menyebut salah satu kerusakan terbesar yang dialami terletak pada water meter. Kerusakan alat hitung volume air ini menyebabkan Perumda tidak memiliki landasan untuk menagih konsumen.

Water meter yang rusak ini mencapai 24 ribu unit atau membutuhkan anggaran perbaikan kurang lebih Rp9 miliar.

Baca juga: Usai Terima Dana Baitul Asyi, Jamaah Kloter 8 Serahkan Oleh-oleh Khas Aceh kepada Syaikh Baltu

"Kami belum memiliki bayangan sumber anggaran untuk memperbaiki ini," kata Juanda.

Belum lagi kerusakan jaringan pipa yang terjadi setiap hari akibat terkena ekskavator yang digunakan memperbaiki drainase.

"Pengorekan drainase sangat tinggi menyebabkan pipa bocor, setiap hari kami harus mengeluarkan anggaran untuk perbaikan rutin," kata Juanda.

Secara umum pelayanan pascabanjir Perumda Tirta Tamiang baru mencapai 65 persen.

Rendahnya kinerja ini berdampak langsung terhadap tak terpenuhinya beban biaya operasional yang mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

"Untuk listrik saja rata-rata habis Rp400 juta, belum kebutuhan lain, termasuk gaji karyawan yang juga belum dibayar," ungkapnya.

Baca juga: Penyebar Surat Mutasi Bodong di Aceh Tamiang Memakai Nama Farid Hersan

Terhitung sejak Desember 2025 hingga Mei 2026, tunggakan listrik Perumda Tirta Tamiang sudah mencapai Rp1,8 miliar.

Terkait hal ini, Perumda Tirta Tamiang sudah membahasnya langsung dengan manajemen PLN dan melibatkan Bupati dan Wakil Bupati.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved