Breaking News
Rabu, 20 Mei 2026

Opini

Ketika Rasa Hormat Kian Pupus

Pengalaman itu saya dapatkan dari cerita guru bimbingan konseling (BK) di sekolah kami saat mengadakan home visit

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Nelliani MPd, Guru SMA Negeri 1 Baitussalam. 

Anak yang sulit diatur, suka membantah, atau pemarah bisa jadi karena di rumah ia sering menyaksikan orang tua yang mudah marah, bertengkar, atau menggunakan kekerasan emosional. Sebaliknya, anak dapat tumbuh santun dan saling menghormati karena di rumah dicontohkan perilaku demikian oleh kedua orang tuanya.

Anehnya, sebagian orang tua rajin menasihati anak untuk bersikap baik, berbuat baik, dan berbicara yang baik-baik, namun lupa menasihati diri sendiri untuk urusan yang sama. Contoh sederhana, menyuruh anak bersikap santun kepada yang lebih tua, sementara dirinya sendiri kurang menghargai yang lebih muda. Demikian pula ketika orang tua memaksa anak mengikuti pendapat mereka tanpa memberi kesempatan anak mengemukakan pandangannya.

Perubahan sikap anak tidak terjadi secara tiba-tiba. Itu merupakan akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang mereka lihat dan sering kali tidak disadari. Rasa hormat dan karakter baik tidak akan bertahan hanya karena anak berhadapan dengan status “orang tua”. Nilai itu perlu dijaga, dan sikap konsisten orang tua sangat berperan dalam merawatnya.

Jika orang tua tidak konsisten dalam memberi teladan, yang terjadi adalah kebingungan emosional dan kecemasan pada anak. Sebaliknya, jika ucapan sejalan dengan tindakan, anak akan tumbuh dengan pedoman moral yang jelas, mudah memahami batasan, serta terhindar dari kebingungan psikologis akibat aturan yang berubah-ubah.

Kedua, pola asuh. Pola asuh orang tua sangat menentukan bagaimana anak memahami dan menerapkan rasa hormat. Pendekatan yang tepat akan membuat anak secara sadar menempatkan nilai-nilai kebaikan sebagai pedoman hidup, bukan karena rasa takut atau paksaan.

Tidak ada orang tua yang tidak menyayangi buah hatinya. Apa pun dilakukan demi melihat mereka bahagia. Namun, rasa sayang yang terlalu memanjakan tanpa diimbangi aturan yang tegas dapat membuat anak tumbuh menjadi pribadi egois dan kesulitan menghargai orang lain.

Gaya pengasuhan yang terlalu membebaskan juga dapat memicu sikap memberontak dan sulit diatur. Pada satu titik, anak tidak lagi mau mendengar nasihat karena menganggap orang tua tidak memiliki kendali atas dirinya.

Ketiga, komunikasi. Dalam keluarga, komunikasi merupakan media penting untuk menanamkan rasa hormat. Melalui dialog dua arah yang setara dan penuh penghargaan, anak belajar bagaimana rasanya didengar dan dihargai. Hal itu menjadi fondasi bagi mereka untuk memperlakukan orang lain dengan sikap yang sama.

Berbicara dengan tenang, sopan, dan tidak merendahkan di hadapan anak akan membentuk pemahaman tentang bagaimana seharusnya mereka berinteraksi. Selain itu, penting bagi orang tua menghindari pola komunikasi yang keliru seperti berteriak, membentak, mengancam, melabeli, atau membandingkan. Hal tersebut hanya akan membuat anak cemas, stres, rendah diri, dan menjadikan hubungan semakin dingin.

Memudarnya rasa hormat juga dipengaruhi oleh faktor dari anak sendiri. Pertama, pengaruh pergaulan. Nilai hormat yang ditanamkan dari rumah dapat terkikis apabila anak berada dalam lingkungan pergaulan yang salah. Anak cenderung meniru kebiasaan kurang sopan dari teman sebaya yang turut memengaruhi sikapnya. Karena itu, penting bagi orang tua untuk membimbing anak agar selektif memilih teman sehingga terhindar dari pengaruh pergaulan yang buruk.

Di era ini, tidak dimungkiri media sosial juga berdampak pada karakter anak. Video, foto, atau narasi negatif yang dikonsumsi dapat memicu penurunan sopan santun, tindakan agresif, serta menormalisasi kekerasan. Anak menjadi terbiasa berkata kasar dan suka melawan karena pengaruh konten-konten tersebut.

Hubungan anak dengan orang tua akan terus bertumbuh secara dinamis sepanjang hayat. Ketika orang tua mau belajar, mendengar, dan menyesuaikan diri dengan tahap perkembangan anak, sementara di sisi lain anak mampu menjaga diri dan lebih memahami orang tuanya, rasa hormat tidak hanya akan kembali, tetapi juga tumbuh lebih kuat dan tulus dari sebelumnya.

*) PENULIS adalah Guru SMA Negeri 1 Baitussalam

Email: nellianimnur@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved