Berita Banda Aceh
Material Bangunan Terus Naik, Developer Perumahan di Aceh Terancam Ambruk
Kondisi tersebut membuat Real Estat Indonesia atau REI Aceh merasa khawatir terhadap kondisi para developer perumahan di Aceh
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Muhammad Hadi
“Kami berharap ada perhatian pemerintah agar pengusaha tidak ambruk dan tidak terjebak kredit macet,” ujarnya.
Baca juga: Siapa Mengendalikan Pertumbuhan Banda Aceh-Aceh Besar?
Zulkifli juga berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah strategis, seperti menjaga stabilitas harga material bangunan, memberikan kemudahan bagi pengembang, hingga melakukan evaluasi terhadap batas harga rumah subsidi agar sektor perumahan tetap bertahan.
Menurutnya, banyak developer yang telah menyepakati harga jual rumah dengan konsumen sejak awal pembangunan, sementara harga material terus melonjak di tengah proses pengerjaan.
“Jika kondisi ini terus berlangsung tanpa perhatian serius, kami khawatir banyak developer di Aceh bisa ambruk dan pembangunan perumahan masyarakat ikut terdampak,” tegasnya.
Tidak Turunkan Kualitas Bangunan
Kendati demikian, Zulkifli menegaskan pengembang tidak akan menurunkan kualitas bangunan untuk menekan biaya.
“Kami tidak bisa menurunkan kualitas bangunan. Tapi beban biaya terus meningkat dan modal kerja dari perbankan tidak lagi mampu menutup kebutuhan proyek,” katanya.
Zulkifli menilai harga ideal rumah subsidi di Aceh saat ini seharusnya sudah berada di kisaran Rp200 juta hingga Rp250 juta per unit, menyesuaikan kenaikan harga material dalam beberapa tahun terakhir.
“Pengembang sudah menjerit sejak tiga tahun lalu. Ini bukan hanya persoalan tahun ini saja,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Wakil Sekretaris Jenderal DPP REI Pusat, Muhammad Novan.
Menurutnya, sejauh ini Aceh masih sangat bergantung pada pasokan material dari Medan, terutama besi, kabel, seng, baja ringan, dan bahan bangunan lainnya.
Ia juga menilai, lonjakan kebutuhan material akibat berbagai proyek pemerintah membuat stok di pasaran semakin terbatas.
Baca juga: Harga Emas di Banda Aceh Kembali Tergelincir Hari Ini, 20 Mei 2026 Dijual Turun Segini Per Mayam
“Kondisi ini sangat berat bagi developer. Di satu sisi harga material naik dan langka, tetapi di sisi lain harga rumah tetap dibatasi pemerintah,” kata Novan.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan solusi agar sektor properti di Aceh tidak semakin tertekan.
Menurutnya, sektor properti memiliki dampak besar terhadap pergerakan ekonomi karena ikut menggerakkan banyak usaha lain, mulai dari bahan bangunan hingga tenaga kerja konstruksi.
“Kalau sektor properti terganggu, maka banyak sektor lain juga ikut terdampak,” ungkapnya.
Diketahui, REI merupakan asosiasi perusahaan pengembang properti dan real estat tertua dan terbesar di Indonesia. Asosiasi ini juga menjadi tempat berkumpulnya para pengusaha properti di Indonesia.(*)
Baca juga: Begini Tahapan Pencairan Bantuan Stimulan Perumahan untuk Korban Banjir
| UIN Ar-Raniry Deklarasikan Kampus Anti Kekerasan Seksual, Rektor: Jangan Takut Melapor |
|
|---|
| Hadir di IPA Convex, BPMA Sajikan Booth Bernuansa Budaya Aceh |
|
|---|
| Jadi Pemateri Parliament Tour Creative Student Home, Tuanku Muhammad Dorong Anak Muda Kritis |
|
|---|
| USK Wisuda 1.322 Lulusan, Prof Mirza Motivasi Alumni jadi Pencipta Lapangan Kerja |
|
|---|
| KIP Aceh Mulai Simulasi Penataan Dapil, Kewenangan Kini Sepenuhnya di Tangan KPU |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Material-Bangunan-Terus-Naik-Developer-Perumahan-di-Aceh-Terancam-Ambruk.jpg)