Rabu, 10 Juni 2026

Banjir Landa Aceh

Soal Penanganan Bencana Aceh, Mualem: Aduh, Bandum Butuh Penanganan

"Aduh, bandum butuh soal penanganan. Bak geutanyoe inoe di Aceh kon paleng urgent kon sawah, irigasi, tutu, jalan, dan neuheun. (Aduh, semua butuh...

Tayang:
Penulis: Rianza Alfandi | Editor: Nurul Hayati
Serambinews.com/Rianza Alfandi
MEMBERI KETERANGAN – Gubernur Aceh Muzakir Managf (Mualem) saat diwawancarai usai memimpin Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Penanganan serta Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi di Aceh, di Ruang Rapat Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Selasa (9/6/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem), menegaskan hampir seluruh sektor terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh masih membutuhkan penanganan serius, dengan fokus utama sektor mata pencaharian masyarakat.
  • Sawah, irigasi, jembatan, jalan, dan tambak menjadi sektor paling mendesak untuk diperbaiki.
  • Bencana akhir 2025 memperburuk angka kemiskinan yang sebelumnya menunjukkan tren penurunan.
  • Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Utara disebut paling membutuhkan perhatian khusus.
 
 

Laporan Wartawan Serambi Indonesia Rianza Alfandi | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf alias Mualem, menegaskan hampir seluruh sektor terdampak bencana hidrometeorologi di Aceh masih membutuhkan penanganan serius. 

Menurutnya, prioritas utama pemulihan harus difokuskan pada sektor-sektor yang berkaitan langsung dengan mata pencaharian masyarakat.

Hal itu disampaikan Mualem saat diwawancarai usai memimpin Rapat Koordinasi dan Evaluasi Capaian Penanganan serta Percepatan Pemulihan Pascabencana Hidrometeorologi di Aceh, yang dihadiri Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian, di Ruang Rapat Serbaguna Sekretariat Daerah Aceh, Selasa (9/6/2026).

"Aduh, bandum butuh soal penanganan. Bak geutanyoe inoe di Aceh kon paleng urgent kon sawah, irigasi, tutu, jalan, dan neuheun. (Aduh, semua butuh penanganan. Kita di Aceh paling utama iti sawah, irigasi, jembatan, jalan, dan tambak)," kata Mualem.

Menurut Mualem, perbaikan sektor pertanian, irigasi, jembatan, jalan, hingga tambak harus menjadi perhatian utama karena menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat di daerah terdampak.

"Yang berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat nyoe paleng urgent, nyoe tanyoe di Aceh. (Yang berkaitan dengan mata pencaharian masyarakat itu paling penting, itu kalau kita di Aceh)" ujarnya.

Di sisi lain, Mualem juga mengingatkan bahwa bencana yang melanda Aceh pada akhir 2025 lalu telah memperburuk kondisi kemiskinan. 

Padahal sebelum bencana terjadi, angka kemiskinan di Aceh mulai menunjukkan tren penurunan.

Baca juga: 6 Bulan Pascabencana, Mendagri Sebut Banyak Persoalan di Aceh Belum Tuntas

"Karena, dengoen musibah barosa sebenar jih kemiskinan sudah mulai rapuh, tapi dengan kejadian musibah tambah lagi. Ini yang kita khawatirkan. (Karena, sebenarnya sebelum bencana angka kemiskinan sedang turun, tapi dengan adanya musibah kemiskinan aceh bertambah. Ini yang kita khawatirkan)," kata Mualem.

Dalam kesempatan itu, Mualem menyebut Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Aceh Utara menjadi daerah yang paling membutuhkan perhatian karena mengalami dampak paling berat dibandingkan daerah terdampak lainnya.

"Tamiang sama Aceh Utara lah, yang paling brat terjadi," ujarnya.

Lebih lanjut, Mualem juga menyoroti kondisi sungai di Aceh yang menjadi persoalan paling mendesak, karena berdampak langsung pada risiko banjir dan kehidupan masyarakat sekitar aliran sungai.

Karena itu, Mualem menegaskan pentingnya kerja sama antara pemerintah pusat dan daerah untuk mempercepat penanganan dampak bencana yang masih dirasakan masyarakat di berbagai wilayah.

“InsyaAllah kita kerja sama antara pusat dan Pemerintah Aceh, ini tugas kita agar penanganan sempurna, guna membangun yang sudah rusak dan hilang,” ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved