Berita Bireuen
Nelayan Ulee Kareung Bireuen Masih Andalkan Pukat Darat untuk Mengais Cuan
Nelayan Desa Ulee Kareung, Bireuen mengandalkan pukat darat tradisional sebagai sumber mata pencaharian dengan hasil tangkapan tergantung cuaca.
Penulis: Yusmandin Idris | Editor: Saifullah
Ringkasan Berita:
- Nelayan Desa Ulee Kareung, Bireuen mengandalkan pukat darat tradisional sebagai sumber mata pencaharian dengan hasil tangkapan yang bergantung pada kondisi cuaca.
- Sebagian ikan diolah menjadi teri kering, namun harga jual sekitar Rp20.000 per kilogram dinilai terlalu rendah sehingga keuntungan nelayan sangat minim.
- Nelayan berharap pemerintah dan pedagang penampung memberi perhatian melalui kebijakan harga yang lebih berpihak agar tradisi tarik pukat tetap bertahan dan menopang ekonomi keluarga.
Laporan Wartawan Serambi Indonesia Yusmandin Idris | Bireuen
SERAMBINEWS.COM, BIREUEN – Aktivitas menarik pukat darat masih menjadi mata pencaharian utama masyarakat nelayan di Desa Ulee Kareung, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen.
Setiap hari, baik pada pagi maupun sore hari, kecuali Jumat, belasan nelayan turun ke pesisir laut untuk menarik pukat tradisional yang telah digunakan secara turun-temurun sebagai sarana mencari nafkah.
Kegiatan tersebut melibatkan belasan hingga puluhan orang, tergantung kondisi hasil tangkapan dan cuaca di laut.
Seperti yang terlihat pada Rabu (10/6/2026), para nelayan bersama-sama menarik pukat dari bibir pantai setelah sebelumnya menebarkannya di perairan sekitar desa.
Hasil tangkapan yang diperoleh umumnya berupa ikan teri dan beberapa jenis ikan kecil lainnya.
Namun jumlah tangkapan tidak selalu sama setiap hari karena sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca, angin, dan gelombang laut.
Baca juga: Gigihnya Nelayan Tradisional Menarik Pukat Darat di Pante Paku Jangka Bireuen
Meski hasil yang diperoleh terkadang sedikit, para nelayan tetap menjalankan aktivitas tersebut sebagai sumber penghasilan utama keluarga.
Setelah pukat berhasil ditarik ke darat, ikan hasil tangkapan langsung dibeli oleh pedagang pengumpul maupun warga sekitar yang telah menunggu di lokasi.
Sebagian hasil tangkapan juga diolah menjadi ikan kering untuk meningkatkan nilai jualnya.
Salah seorang nelayan sekaligus pengolah ikan, Mustafa mengatakan, pendapatan yang diperoleh dari usaha tersebut masih belum menentu.
Selain hasil tangkapan yang bergantung pada cuaca, harga jual ikan teri olahan di pasaran juga dinilai terlalu rendah sehingga keuntungan yang diperoleh sangat kecil.
Menurut Mustafa, setelah membeli ikan dari hasil tangkapan pukat darat, ikan tersebut terlebih dahulu direbus sebelum dijemur di bawah sinar matahari hingga benar-benar kering.
Baca juga: Abrasi Meluas di Rheum Baroh Bireuen, Area Tarek Pukat Darat Semakin Sempit
Setelah melalui proses tersebut, ikan teri kering baru dipasarkan dengan harga sekitar Rp20.000 per kilogram.
| 22 Mahasiswa UIA Dapat Bantuan BI, Kampus Harap Kuota Tahap Kedua Terpenuhi |
|
|---|
| Jembatan Krueng Tingkeum Kutablang Ditutup Sementara, 12 Plat Besi Rusak Dilas Ulang |
|
|---|
| Ratusan Pengendara Roda Dua Pilih Jalur Jembatan Apung Kepala Hiu di Pante Lhong Bireuen |
|
|---|
| SMA di Bireuen Mulai Terima Siswa Baru, Pendaftaran Online, Ini Jadwalnya |
|
|---|
| UIA Bireuen Gelar Program KPM Terpadu Internasional, Ini Ketentuannya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/nelayan-Ulee-Kareung-masih-andalkan-pukat-darat.jpg)