Kupi Beungoh
Fenomena Live TikTok dan Pergeseran Nilai di Aceh
Hari ini, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa. Dari kamar tidur, warung kopi, teras rumah, hingga sudut-sudut desa, siaran langsung TikTok
Oleh: Maturidi S Sos MA, mahasiswa S3 Psikologi UPI YAI Jakarta
BEBERAPA tahun lalu, mungkin sulit membayangkan bahwa seseorang dapat memperoleh penghasilan hanya dengan berbicara di depan kamera telepon genggam.
Hari ini, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa. Dari kamar tidur, warung kopi, teras rumah, hingga sudut-sudut desa, siaran langsung TikTok hadir hampir di mana-mana. Sebagian orang menjadikannya hiburan, sebagian lagi menjadikannya pekerjaan.
Perkembangan ini tentu membawa banyak peluang. Banyak anak muda yang berhasil mempromosikan usaha, membagikan ilmu, berdakwah, menampilkan bakat seni, atau membangun komunitas yang positif melalui media sosial.
Teknologi telah membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Namun di balik berbagai manfaat tersebut, ada satu pertanyaan yang mulai mengusik: ke arah mana sebenarnya budaya digital kita sedang bergerak?
Kita sering menemukan siaran langsung yang tidak lagi menawarkan gagasan, kreativitas, atau pengetahuan. Yang ditampilkan justru pertengkaran, saling sindir, saling mempermalukan, bahkan membuka luka dan persoalan pribadi di hadapan ribuan orang.
Semakin gaduh suasananya, semakin banyak penontonnya. Semakin emosional konfliknya, semakin deras pula gift yang mengalir. Di titik itulah saya merasa ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama.
Bukan karena teknologi yang salah. Bukan pula karena fitur gift yang keliru. Gift pada dasarnya adalah bentuk apresiasi. Ia menjadi penghargaan atas waktu, tenaga, dan karya yang diberikan seorang kreator kepada audiensnya.
Yang mengkhawatirkan adalah ketika gift tidak lagi menjadi hasil dari nilai yang diberikan, melainkan berubah menjadi tujuan utama yang harus dikejar dengan cara apa pun. Perlahan-lahan perhatian manusia diperlakukan seperti komoditas.
Yang paling berharga bukan lagi kualitas pesan, melainkan kemampuan membuat orang terus menatap layar. Akibatnya, batas antara hiburan dan eksploitasi menjadi semakin kabur.
Dalam kondisi seperti ini, sensasi sering kali lebih menguntungkan daripada substansi. Orang yang berbicara tenang tentang pendidikan belum tentu mendapatkan perhatian yang besar. Tetapi pertengkaran beberapa menit dapat mengundang ribuan penonton.
Konten yang mengajak berpikir sering kalah dari konten yang memancing emosi. Fenomena ini sesungguhnya tidak terjadi begitu saja.
Herbert A. Simon pernah menjelaskan bahwa ketika informasi melimpah, perhatian manusia menjadi sumber daya yang paling berharga. Di era digital, perhatian itulah yang diperjualbelikan.
Platform digital secara tidak langsung mendorong siapa saja untuk terus mencari cara agar diperhatikan. Sayangnya, tidak semua perhatian diperoleh melalui jalan yang bermartabat.
B.F. Skinner melalui teori Operant Conditioning menjelaskan bahwa perilaku yang memperoleh penghargaan akan cenderung diulang.
Ketika sensasi menghasilkan gift, sensasi akan terus diproduksi. Ketika kontroversi menghasilkan uang, kontroversi akan semakin sering dipertontonkan. Lama-kelamaan, yang berubah bukan hanya perilaku individu. Yang berubah adalah cara masyarakat memandang keberhasilan.
Hari ini kita hidup di tengah situasi ketika jumlah penonton sering dianggap lebih penting daripada kualitas gagasan. Jumlah pengikut lebih dipuji daripada kedalaman ilmu. Padahal tidak semua yang viral layak diteladani. Di sinilah kekhawatiran terbesar sebenarnya berada.
Yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar kualitas konten media sosial, melainkan cara generasi muda memahami arti kesuksesan. Anak-anak dan remaja hari ini tumbuh dengan layar digital sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Mereka belajar dari apa yang mereka lihat. Mereka mengamati siapa yang dipuji, siapa yang populer, dan siapa yang mendapatkan keuntungan.
Albert Bandura menyebut proses ini sebagai Social Learning. Manusia belajar melalui pengamatan. Apa yang sering dilihat dan diberi penghargaan akan lebih mudah ditiru.
Bayangkan jika setiap hari anak-anak menyaksikan bahwa pertengkaran menghasilkan uang, penghinaan mendatangkan popularitas, dan drama pribadi menjadi sumber penghasilan.
Pesan apa yang sedang mereka terima tentang kehidupan? Mungkin tidak ada yang secara langsung mengajarkan mereka untuk melakukan hal yang sama. Tetapi teladan tidak selalu datang melalui nasihat. Sering kali teladan hadir melalui apa yang terus-menerus mereka saksikan.
Sebagai masyarakat Aceh, pertanyaan ini menjadi semakin penting. Aceh bukan hanya sebuah wilayah administratif.
Aceh adalah ruang budaya yang dibangun oleh nilai-nilai agama, penghormatan terhadap sesama, kesopanan dalam berbicara, dan rasa malu ketika melakukan sesuatu yang merendahkan martabat diri.
Nilai-nilai itu diwariskan oleh orang tua kepada anak-anaknya, oleh guru kepada muridnya, oleh teungku kepada jamaahnya, dan oleh masyarakat kepada generasi berikutnya.
Namun hari ini, pewarisan nilai itu menghadapi tantangan yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya. Tantangan itu tidak datang dari luar rumah.
Ia justru hadir melalui layar kecil yang selalu berada di genggaman kita. Yang membuat persoalan ini semakin rumit adalah karena semuanya tampak normal.
Kita menontonnya setiap hari. Kita membagikannya tanpa berpikir panjang. Kita tertawa, memberikan komentar, lalu melupakannya. Padahal, sesuatu yang terus-menerus ditoleransi pada akhirnya akan dianggap biasa.
Dalam perspektif Islam, menjaga kehormatan manusia (hifz al-'irdh) merupakan bagian penting dari tujuan syariat. Karena itu, tidak ada keuntungan ekonomi yang cukup besar untuk membenarkan penghinaan terhadap sesama manusia.
Tidak ada popularitas yang cukup tinggi untuk membenarkan hilangnya rasa hormat terhadap martabat diri sendiri.
Ketika aib menjadi hiburan, ketika kesulitan hidup menjadi tontonan, dan ketika harga diri dipertukarkan demi gift virtual, sesungguhnya kita sedang kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang. Kita sedang kehilangan kepekaan. Kita sedang kehilangan rasa malu.
Dan yang paling berbahaya, kita perlahan kehilangan kemampuan untuk membedakan mana yang bernilai dan mana yang hanya ramai diperbincangkan.
Karena itu, tantangan kita bukanlah memerangi teknologi. Teknologi akan terus berkembang, dengan atau tanpa persetujuan kita. Yang harus dijaga adalah nilai-nilai yang membimbing penggunaan teknologi tersebut.
Pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dayah, keluarga, tokoh agama, dan tokoh masyarakat perlu hadir bersama-sama membangun literasi digital yang tidak hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga mengajarkan kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Pada akhirnya, masa depan ruang digital tidak ditentukan oleh algoritma semata. Ia juga ditentukan oleh pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari.
Apa yang kita tonton. Apa yang kita dukung. Apa yang kita anggap layak untuk mendapatkan perhatian. Sebab ruang digital pada dasarnya adalah cermin masyarakat itu sendiri.
Jika yang kita beri penghargaan adalah ilmu, kreativitas, dan akhlak, maka itulah yang akan tumbuh. Namun jika yang terus kita rayakan adalah sensasi dan kontroversi, jangan terkejut apabila suatu hari nanti generasi berikutnya menganggap keduanya sebagai jalan yang paling wajar menuju kesuksesan.
Dan ketika hari itu tiba, mungkin yang hilang bukan hanya kualitas konten media sosial kita. Yang hilang adalah sebagian dari nilai-nilai yang selama ini menjadi kehormatan Aceh.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/maturidi-i9i90i.jpg)