Senin, 15 Juni 2026

Kupi Beungoh

Fenomena Live TikTok dan Pergeseran Nilai di Aceh

Hari ini, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa. Dari kamar tidur, warung kopi, teras rumah, hingga sudut-sudut desa, siaran langsung TikTok

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/HO
Maturidi S Sos MA, mahasiswa S3 Psikologi UPI YAI Jakarta 

Oleh: Maturidi S Sos MA, mahasiswa S3 Psikologi UPI YAI Jakarta

BEBERAPA tahun lalu, mungkin sulit membayangkan bahwa seseorang dapat memperoleh penghasilan hanya dengan berbicara di depan kamera telepon genggam.

Hari ini, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa. Dari kamar tidur, warung kopi, teras rumah, hingga sudut-sudut desa, siaran langsung TikTok hadir hampir di mana-mana. Sebagian orang menjadikannya hiburan, sebagian lagi menjadikannya pekerjaan.

Perkembangan ini tentu membawa banyak peluang. Banyak anak muda yang berhasil mempromosikan usaha, membagikan ilmu, berdakwah, menampilkan bakat seni, atau membangun komunitas yang positif melalui media sosial.

Teknologi telah membuka pintu yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Namun di balik berbagai manfaat tersebut, ada satu pertanyaan yang mulai mengusik: ke arah mana sebenarnya budaya digital kita sedang bergerak?

Kita sering menemukan siaran langsung yang tidak lagi menawarkan gagasan, kreativitas, atau pengetahuan. Yang ditampilkan justru pertengkaran, saling sindir, saling mempermalukan, bahkan membuka luka dan persoalan pribadi di hadapan ribuan orang.

Semakin gaduh suasananya, semakin banyak penontonnya. Semakin emosional konfliknya, semakin deras pula gift yang mengalir. Di titik itulah saya merasa ada sesuatu yang perlu kita renungkan bersama.

Bukan karena teknologi yang salah. Bukan pula karena fitur gift yang keliru. Gift pada dasarnya adalah bentuk apresiasi. Ia menjadi penghargaan atas waktu, tenaga, dan karya yang diberikan seorang kreator kepada audiensnya.

Yang mengkhawatirkan adalah ketika gift tidak lagi menjadi hasil dari nilai yang diberikan, melainkan berubah menjadi tujuan utama yang harus dikejar dengan cara apa pun. Perlahan-lahan perhatian manusia diperlakukan seperti komoditas.

Yang paling berharga bukan lagi kualitas pesan, melainkan kemampuan membuat orang terus menatap layar. Akibatnya, batas antara hiburan dan eksploitasi menjadi semakin kabur.

Dalam kondisi seperti ini, sensasi sering kali lebih menguntungkan daripada substansi. Orang yang berbicara tenang tentang pendidikan belum tentu mendapatkan perhatian yang besar. Tetapi pertengkaran beberapa menit dapat mengundang ribuan penonton.

Konten yang mengajak berpikir sering kalah dari konten yang memancing emosi. Fenomena ini sesungguhnya tidak terjadi begitu saja.

Herbert A. Simon pernah menjelaskan bahwa ketika informasi melimpah, perhatian manusia menjadi sumber daya yang paling berharga. Di era digital, perhatian itulah yang diperjualbelikan. 

Platform digital secara tidak langsung mendorong siapa saja untuk terus mencari cara agar diperhatikan. Sayangnya, tidak semua perhatian diperoleh melalui jalan yang bermartabat.

B.F. Skinner melalui teori Operant Conditioning menjelaskan bahwa perilaku yang memperoleh penghargaan akan cenderung diulang.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
Live
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved