Liputan Eksklusif Aceh
DPRK Sabang Desak Evaluasi Fasilitas dan Prosedur Keselamatan di KMP Aceh Hebat 2
Sejak dioperasikan pada Januari 2021, KMP Aceh Hebat 2 memang berperan penting dalam memperkuat konektivitas Banda Aceh–Sabang...
Penulis: Aulia Prasetya | Editor: Eddy Fitriadi
Laporan Aulia Prasetya | Sabang
SERAMBINEWS.COM, SABANG – Rentetan insiden penumpang yang nekat melompat dari KMP Aceh Hebat 2 mendapat sorotan serius dari kalangan legislatif. Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang menilai, kejadian ini tidak bisa dianggap biasa, melainkan harus dijadikan momentum evaluasi menyeluruh terhadap fasilitas maupun prosedur keselamatan kapal penyeberangan tersebut.
Wakil Ketua DPRK Sabang, Albina Arrahman, menegaskan bahwa kenyamanan penumpang merupakan aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Ia menyoroti ketersediaan kursi sebagai salah satu faktor yang kerap membuat penumpang memilih duduk di pagar atau reling kapal yang justru berisiko tinggi.
“Kalau fasilitas kursi sesuai kapasitas, penumpang pasti merasa lebih aman dan tidak lagi menjadikan reling kapal sebagai tempat duduk. Hal-hal kecil seperti ini justru berpengaruh besar terhadap keselamatan,” ujar Albina, Kamis (28/8/2025).
Sejak dioperasikan pada Januari 2021, KMP Aceh Hebat 2 memang berperan penting dalam memperkuat konektivitas Banda Aceh–Sabang. Namun, catatan operasionalnya ternoda oleh sejumlah insiden fatal. Pada 19 Agustus 2023, seorang perempuan asal Aceh Tengah dilaporkan melompat ke laut saat kapal menuju Sabang. Setahun kemudian, 27 Juli 2024, seorang pemuda asal Jantho, Aceh Besar, juga melakukan hal serupa akibat tekanan psikis dan rencana bunuh diri.
Terbaru, 25 Agustus 2025, seorang penumpang kembali dilaporkan melompat di perairan Teluk Sabang, sebelum akhirnya berhasil diselamatkan nelayan.
Menurut Albina, kejadian berulang ini menandakan adanya celah dalam sistem keselamatan yang harus segera ditutup.
“Ini bukan hanya soal individu penumpang, tetapi soal manajemen transportasi laut. DPRK menilai perlunya evaluasi dari ASDP, Dinas Perhubungan, dan otoritas pelayaran. Jangan sampai setiap tahun ada kasus yang sama tanpa solusi,” tegasnya.
Selain persoalan fasilitas, Albina juga menekankan pentingnya memperhatikan aspek psikologis penumpang. Menurutnya, faktor mental, stres, maupun persoalan pribadi bisa menjadi pemicu tindakan berbahaya.
“Keselamatan tidak boleh hanya dipahami sebatas pelampung dan sekoci, tetapi juga bagaimana menciptakan rasa aman dan suasana yang menenangkan bagi penumpang. Awak kapal harus dibekali kemampuan membaca situasi darurat dan memberikan pertolongan cepat,” tambahnya.
Baca juga: ASDP Aceh Perketat Pengawasan di Kapal Pasca-Insiden Penumpang Lompat ke Laut
Sebagai bentuk pengawasan, DPRK Sabang mendesak dilakukannya audit bersama terhadap kelayakan fasilitas, jumlah kursi, titik pengamanan, hingga kesiapan prosedur darurat di KMP Aceh Hebat 2 maupun KMP BRR.
Albina menegaskan bahwa pelayaran Banda Aceh – Sabang adalah urat nadi mobilitas masyarakat dan wisatawan. Oleh karena itu, keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama dalam setiap perjalanan laut.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.