Sabtu, 2 Mei 2026

Opini

Efektivitas Dakwah Melalui Maulid di Aceh: Harmoni Tradisi, Spritualitas, dan Identitas Budaya

Melalui berbagai amalan seperti shalawat berjamaah, tausiah sirah nabawiyah, dan kenduri molod, masyarakat Aceh mengekspresikan

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/FOR SERAMBINEWS
Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd, Penghulu Ahli Madya & Kepala KUA Kec. Atu Lintang, Aceh Tengah dan Alumni Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (2000) 

Oleh: Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd, Penghulu Ahli Madya dan Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah, alumnus Fakultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Banda Aceh (2000)

PERINGATAN Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh adalah sebuah tradisi yang bukan sekadar perayaan keagamaan rutin, melainkan sebuah fenomena budaya dan spiritual yang mengakar dalam kehidupan masyarakat. 

Melalui berbagai amalan seperti shalawat berjamaah, tausiah sirah nabawiyah, dan kenduri molod, masyarakat Aceh mengekspresikan kecintaan mendalam kepada Rasulullah SAW sekaligus menjaga identitas keislaman yang menyatu dengan adat budaya lokal. 

Namun, dalam dinamika modernisasi dan perubahan sosial, pertanyaan yang tak kalah penting adalah: seberapa efektifkah dakwah yang disampaikan melalui peringatan Maulid ini dalam memperkuat pemahaman keagamaan dan membangun kesadaran spiritual?

Tradisi Maulid, Mengikat Spiritual dan Budaya

Aceh merayakan Maulid Nabi bukan hanya pada satu hari, melainkan selama tiga bulan berturut-turut yang dikenal sebagai Molod Tuha, Molod Tengoeh, dan Molod Akhe. Seluruh rangkaian acara ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk berkumpul, beribadah, dan saling mempererat tali silaturahmi. 

Tradisi kenduri molod yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, dari anak-anak hingga orang dewasa, memperlihatkan bagaimana tradisi keagamaan dapat berpadu harmonis dengan budaya lokal yang menekankan gotong royong dan kebersamaan.

Penggabungan ibadah dengan tradisi sosial ini sangat penting dalam konteks dakwah karena pesan keagamaan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi juga melalui pengalaman kolektif yang memperkuat solidaritas dan rasa memiliki terhadap agama dan budaya. 

Baca juga: Merangkul Generasi Z dalam Dakwah Kekinian

Dengan demikian, Maulid di Aceh menjadi lebih dari sekadar peringatan, tetapi juga wahana membangun komunitas dan memperkokoh jati diri.

 Shalawat, Inti Spritualitas dan Kebersamaan

Salah satu amalan utama dalam peringatan Maulid di Aceh adalah lantunan salawat berjamaah, yang menurut Wakil Pimpinan MPU Aceh Selatan, Ustaz H. Riza Nazlianto, Lc., MA sebagaimana dikutip Serambi (2/9/2025), mampu menumbuhkan kebersamaan dan menyatukan batin umat dalam kecintaan kepada Rasulullah SAW. 

Shalawat yang dilantunkan dengan khusyuk bukan hanya bernilai pahala besar, tetapi juga dipercaya membawa keselamatan dan ketenteraman hidup dunia-akhirat. Ustaz Riza menekankan pentingnya agar shalawat tidak sekadar menjadi ritual mengeraskan suara atau lingiek dike yang berlebihan, melainkan sebuah penghayatan yang menyentuh makna batiniah.

Shalawat ini menjadi denyut nadi spiritual yang menggerakkan semangat keagamaan masyarakat Aceh. Ketika ribuan orang bersama-sama melafalkan doa dan pujian untuk Nabi, rasa cinta dan rasa kebersamaan menguat, menjadikan peringatan Maulid sebagai momen transformatif yang mampu menginternalisasi nilai-nilai Islam secara mendalam.

Sirah Nabawiyah dan Tausiah, Membangun Pemahaman

Selain shalawat, tausiah sirah nabawiyah yang disampaikan dalam peringatan Maulid juga memegang peran penting. Kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW, perjuangannya dalam berdakwah, serta akhlak mulianya menjadi sumber inspirasi yang sangat berharga. Melalui sirah, masyarakat diajak tidak hanya mengenang, tetapi juga meneladani Rasulullah dalam keseharian.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved