Berita Eksklusif Pernikahan Terkoyak
HIV/AIDS Meningkat Signifikan Didominasi Seks Sesama Lelaki
SEJAK awal tahun hingga Agustus 2025, Dinas Kesehatan Aceh mencatat 233 kasus baru HIV/AIDS, terdiri dari 224 HIV dan 9 AIDS.
SEJAK awal tahun hingga Agustus 2025, Dinas Kesehatan Aceh mencatat 233 kasus baru HIV/AIDS, terdiri dari 224 HIV dan 9 AIDS. Angka ini menambah total kumulatif sejak 2004 menjadi 2.015 kasus, sebuah lonjakan yang tak bisa lagi dipandang sebelah mata.
Tren tahunan menunjukkan grafik yang terus menanjak. Dari 527 kasus baru pada 2021, melonjak menjadi 1.472 kasus pada 2024. Peningkatan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari dinamika sosial dan pola penularan yang berubah.
Dalam tiga tahun terakhir, lonjakan kasus mencapai 51 persen di 2022, 38 persen di 2023, dan 34 persen di 2024. Lonjakan ini mengindikasikan bahwa penularan HIV di Aceh bukan lagi sporadis, melainkan sistemik.
“Tren tahunan menunjukkan peningkatan yang signifikan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Aceh, dr Iman Murahman MKM SpKKLP, saat dikonfirmasi Serambi, Kamis (9/10/2025).
Di balik statistik itu, tersingkap fakta bahwa laki-laki menjadi kelompok paling terdampak. Dari total kumulatif, 81 persen kasus terjadi pada laki-laki, dengan rasio 4:1 dibanding perempuan. Dominasi kasus pada kelompok laki-laki ini juga konsisten terlihat pada data periode Januari-Agustus 2025, dimana 189 kasus (81 persen) di antaranya adalah laki-laki.
“Proporsi laki-laki mendominasi secara konsisten dengan rasio 4:1 menunjukkan pola penularan yang perlu diperhatikan, khususnya pada populasi laki-laki,” jelas dr Iman.
Analisis lebih lanjut, mengenai proporsi transmisi mengungkap fakta bahwa Laki-laki Seks dengan Laki-laki (LSL) masih menjadi populasi kunci dengan kontribusi tertinggi. Secara kumulatif, kelompok LSL menyumbang 1.018 kasus atau 50,5 persen dari total kasus.
LSL merupakan istilah epidemiologi dan kesehatan masyarakat, terutama untuk memetakan risiko penularan HIV/AIDS. LSL merujuk pada pada perilaku seksual antara sesama laki-laki, bukan identitas atau orientasi seksual. Sedangkan homoseksual dan biseksual adalah bagian dari identitas seksual. Meski ada kemiripan, tetapi istilah LSL sering digunakan pada pendekatan kesehatan publik yang lebih inklusif dan akurat.
Iman menyebutkan, hampir separuh dari seluruh kasus HIV/AIDS di Aceh berasal dari transmisi seksual sesama jenis laki-laki. Pada periode Januari-Agustus 2025 saja, 96 kasus atau 41,2?rasal dari populasi LSL.
“LSL masih menjadi populasi kunci dengan prevalensi tertinggi, menyumbang hampir separuh dari seluruh kasus HIV/AIDS di Aceh. Ini menunjukkan transmisi seksual sesama jenis laki-laki adalah jalur penularan dominan,” paparnya.
Menghadapi kenyataan ini, Dinas Kesehatan Aceh tidak tinggal diam. Mereka menggelar berbagai program pencegahan dan deteksi dini, tersebar di 113 titik layanan yang mencakup Puskesmas, Rumah Sakit, dan Klinik. Program STOP (Suluh, Temukan, Obati, Pertahankan) menjadi tulang punggung kampanye, menyasar remaja, mahasiswa, dan ibu hamil. Sejak awal tahun, lebih dari 73 ribu orang telah menjalani tes HIV.
Di sisi pengobatan, capaian terapi Antiretroviral (ARV) menunjukkan progres menggembirakan. Sebanyak 92,3 persen kasus baru langsung mendapat pengobatan. Dari 2.015 Orang Dengan HIV (ODHIV) yang mengetahui statusnya, 1.299 telah menjalani terapi, dan 766 di antaranya berhasil mencapai supresi virus. Pemeriksaan viral load menunjukkan bahwa 87 persen dari ODHIV yang dites telah berhasil menekan virus dalam tubuh mereka.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal layanan, melainkan stigma. Untuk menjangkau populasi kunci seperti LSL, Dinkes Aceh berkolaborasi dengan tujuh LSM peduli AIDS, seperti Medan Plus dan Putroe Sejati Aceh. Mereka menerapkan pendekatan berbasis komunitas, dengan konselor terlatih, layanan rahasia, mobile testing, dan pendamping sebaya. Strategi ini dirancang untuk menembus tembok stigma dan membuka ruang dialog yang lebih inklusif.
“Dinkes Aceh juga menyediakan layanan yang ramah dan rahasia dengan konselor terlatih, melakukan outreach dan mobile testing, serta memanfaatkan pendekatan peer education atau pendamping sebaya dari dalam komunitas LSL,” tambahnya.
Kolaborasi lintas sektor dan program terus diperkuat, mulai dari integrasi dengan program Tuberkulosis (TB), pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PPIA), hingga skrining bagi calon pengantin dan warga binaan pemasyarakatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Ilustrasi-HIV-dan-Aids.jpg)