Jumat, 17 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

Israel Tegaskan Tidak Akan Ikut Operasi Darat AS di Iran

Pasukan Israel dilaporkan tidak akan terlibat dalam operasi darat Amerika Serikat di Iran, di tengah

Editor: Ansari Hasyim
IDF
TENTARA ISRAEL - Foto ilustrasi tentara Israel diambil pada Senin (17/2/2025) dari publikasi resmi website IDF (idf.il). 250 mantan pejabat intelijen Mossad mengajukan petisi yang berisi desakan agar PM Netanyahu mengakhiri perang guna mengamankan 

SERAMBINEWS.COM - Pasukan Israel dilaporkan tidak akan terlibat dalam operasi darat Amerika Serikat di Iran, di tengah pertimbangan Washington untuk memperluas perannya dalam konflik.

Media Israel, Channel 12, pada Minggu menyebutkan bahwa jika AS melancarkan serangan darat, “tentara Israel tidak akan berpartisipasi di darat”, sehingga operasi tersebut sepenuhnya akan dilakukan oleh pasukan Amerika.

Baca juga: 4 Tentara Israel Tewas dalam Penyergapan Hizbullah di Lebanon Selatan, 3 Lainnya Terluka

Laporan ini muncul saat rencana militer AS terkait kemungkinan operasi darat mendapat sorotan di Washington. Pentagon dikabarkan tengah menyiapkan sejumlah opsi, termasuk penggerebekan terbatas.

Namun hingga kini, Gedung Putih belum mengonfirmasi secara terbuka apakah Presiden Donald Trump telah menyetujui langkah tersebut.

Di sisi lain, Iran merespons dengan ancaman keras terhadap potensi serangan AS. Sejumlah pejabat Iran memperingatkan bahwa pasukan Amerika akan menghadapi pembalasan besar jika memasuki wilayah mereka.

Bahkan, Teheran disebut bersumpah akan memberikan serangan hebat apabila Washington benar-benar mengerahkan pasukan darat.

Sejumlah analis militer mengingatkan bahwa invasi darat ke Iran berisiko menjadi kesalahan strategis besar, bahkan dibandingkan dengan pengalaman perang Vietnam.

Profesor Ilmu Politik Universitas Chicago, Robert Pape, yang dikenal sebagai pakar keamanan internasional, menyebut tanda-tanda eskalasi serupa mulai terlihat.

“Vietnam menunjukkan bagaimana perang udara dapat berubah menjadi perang darat,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa perkembangan dalam 10 hari ke depan akan sangat menentukan arah konflik.

Laporan Channel 12 juga memicu reaksi di Amerika Serikat, khususnya dari kelompok “America First” dan kalangan anti-perang.

Mereka menilai Washington berpotensi terseret ke konflik darat yang mahal, sementara Israel tidak mengerahkan pasukannya secara langsung di Iran.

Kritik tersebut berkembang menjadi narasi bahwa pasukan AS diminta menanggung risiko besar dalam konflik yang dianggap berkaitan dengan kepentingan Israel, tanpa keterlibatan langsung negara tersebut di medan darat.

Seorang influencer media sosial bahkan melontarkan kritik keras, mempertanyakan alasan AS harus terlibat dalam operasi darat jika sekutu utamanya tidak ikut serta.(*)

Di tengah dinamika tersebut, muncul kekhawatiran bahwa jika konflik di Iran berakhir buruk bagi Washington, hal itu dapat mempercepat penurunan pengaruh global Amerika Serikat. Selain itu, situasi tersebut berpotensi mengubah persepsi terhadap Israel—dari sekutu strategis menjadi pihak yang dianggap mendorong AS ke dalam konflik berkepanjangan dan berbiaya tinggi.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved