Sabtu, 18 April 2026

AS dan Israel Serang Iran

AS Pertimbangkan Barter Uranium Iran dengan Pencairan Aset 20 Miliar Dollar

Amerika Serikat dan Iran tengah berada di persimpangan diplomasi paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir.

Editor: Ansari Hasyim
SERAMBINEWS.COM/wikipedia
Cakram uranium yang diperkaya. 

SERAMBINEWS.COM - Amerika Serikat dan Iran tengah berada di persimpangan diplomasi paling menentukan dalam beberapa tahun terakhir.

Dua musuh bebuyutan ini diam-diam merundingkan sebuah nota kesepahaman (MOU) setebal tiga halaman yang berpotensi mengakhiri perang, dengan satu skema sensitif di meja negosiasi: pencairan aset Iran senilai US$20 miliar sebagai imbalan atas penyerahan persediaan uranium yang diperkaya.

Empat sumber yang mendapat pengarahan langsung menyebut, pembicaraan menunjukkan kemajuan stabil dalam sepekan terakhir, meski jurang perbedaan masih lebar.

Jika tercapai, kesepakatan ini diyakini dapat menghentikan konflik namun berisiko memicu perlawanan dari kelompok garis keras di Iran.

Presiden Donald Trump mengonfirmasi bahwa perundingan putaran kedua kemungkinan digelar akhir pekan ini.

Lokasi yang dipertimbangkan adalah Islamabad, dengan Pakistan berperan sebagai mediator utama, didukung Mesir dan Turki di balik layar.

Inti tawar-menawar

Prioritas Washington adalah memastikan Teheran tak bisa mengakses hampir 2.000 kg uranium yang diperkaya, termasuk 450 kg dengan kemurnian 60 persen yang tersimpan di fasilitas bawah tanah. Iran, di sisi lain, membutuhkan suntikan dana segar.

AS semula menyiapkan US$6 miliar untuk kebutuhan kemanusiaan (pangan, obat, dan pasokan medis), sementara Iran menuntut US$27 miliar.

Angka kompromi yang kini mengemuka adalah US$20 miliar, disebut sebagai usulan dari pihak AS.

Seorang pejabat menggambarkan skema “uang tunai untuk uranium” hanya sebagai salah satu dari banyak opsi yang dibahas.

Washington mendorong agar seluruh bahan nuklir Iran dikirim keluar negeri, sedangkan Teheran hanya bersedia “memadukannya” di dalam negeri.

Formula kompromi yang mengemuka: sebagian uranium dikirim ke negara ketiga (bukan harus AS), dan sebagian lainnya dipadukan di Iran di bawah pengawasan internasional.

Moratorium dan titik sensitif

Draf MOU juga memuat moratorium sukarela pengayaan nuklir. AS mengusulkan 20 tahun, Iran menawar lima tahun, kesenjangan yang masih coba dijembatani mediator.

Iran akan diizinkan memiliki reaktor riset untuk produksi isotop medis, dengan syarat seluruh fasilitas nuklir berada di atas tanah; fasilitas bawah tanah yang ada akan tetap nonaktif.

Isu Selat Hormuz ikut masuk pembahasan, meski sumber menyebut perbedaan pandangan masih tajam. Belum jelas apakah MOU juga menyentuh rudal balistik Iran dan dukungan terhadap proksi regional, topik yang sejak lama dituntut Israel dan kelompok garis keras Partai Republik.

Sinyal beragam dari Washington

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved