Minggu, 3 Mei 2026

AS dan Israel Serang Iran

11 Ton Uranium Iran Menghilang Usai Serangan AS

Investigasi terbaru The New York Times mengungkap fakta mengejutkan: Iran telah mengumpulkan sekitar 11 ton

Tayang:
Editor: Ansari Hasyim
rappler
Iran saat ini menyimpan lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya. Menurut para pejabat Israel, jumlah itu cukup untuk membuat hingga 11 bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut. Iran selama ini bersikeras program nuklirnya bersifat damai, meski tingkat pengayaan uraniumnya telah mendekati level senjata. 

Ringkasan Berita:
  • Iran telah mengumpulkan sekitar 11 ton uranium yang diperkaya dalam delapan tahun terakhir, sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir 2015.
  • Namun kini, sebagian besar persediaan tersebut justru tidak diketahui keberadaannya setelah rangkaian serangan militer terbaru.

 

SERAMBINEWS.COM – Investigasi terbaru The New York Times mengungkap fakta mengejutkan.

Iran telah mengumpulkan sekitar 11 ton uranium yang diperkaya dalam delapan tahun terakhir, sejak Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir 2015.

Namun kini, sebagian besar persediaan tersebut justru tidak diketahui keberadaannya setelah rangkaian serangan militer terbaru.

Berdasarkan laporan triwulanan IAEA, Teheran secara bertahap meningkatkan kapasitas nuklirnya sejak 2018, ketika sanksi AS kembali diberlakukan.

Awalnya, Iran masih mematuhi batasan ketat, tetapi situasi berubah cepat.

Baca juga: IDF: Tanpa Memusnahkan Uranium, Perang Iran Bisa Berakhir Gagal dan Memalukan

Pada 2021, Iran mulai memperkaya uranium hingga 20 persen, ambang penting menuju bahan senjata nuklir.

Tak berhenti di situ, tingkat kemurnian meningkat hingga 60 persen dalam beberapa tahun berikutnya, mendekati level 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata nuklir.

Upaya pemerintahan Joe Biden untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir gagal total.

Bahkan pada 2025, pertumbuhan stok uranium Iran disebut mencapai level tercepat sejak pengawasan internasional dimulai.

Situasi semakin memanas pada Juni 2025, ketika Trump yang kembali menjabat presiden meluncurkan Operasi “Midnight Hammer”. Serangan tersebut menargetkan fasilitas nuklir utama Iran, termasuk Natanz Nuclear Facility, Fordow Fuel Enrichment Plant, serta terowongan penyimpanan di dekat Isfahan.

Dampaknya besar. Beberapa minggu setelah serangan, Iran menghentikan kerja sama dengan IAEA, memutus inspeksi internasional dan membuat status persediaan uranium menjadi tidak terverifikasi.

Sebagian material diduga terkubur di bawah puing-puing fasilitas yang dibom atau disimpan di lokasi bawah tanah yang diperkuat.

Meski pemantauan satelit masih berlangsung, para ahli mengakui sulit memastikan kondisi dan akses uranium tersebut.

Pemerintahan Trump mengklaim sisa persediaan uranium kini memiliki kegunaan terbatas akibat kerusakan infrastruktur.

Namun para analis memperingatkan, kemungkinan adanya lokasi pengayaan rahasia, terutama di sekitar Isfahan, tidak bisa diabaikan.

Dengan pengawasan internasional yang terhenti dan stok uranium yang “menghilang”, ketegangan baru terkait program nuklir Iran pun kembali membayangi dunia.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved