Sabtu, 23 Mei 2026

Kilas Balik 21 Mei 1998: Saat Rupiah Anjlok, Harga Sembako Melonjak, Soeharto Akhirnya Mundur

Krisis moneter, demo mahasiswa, hingga Soeharto mundur pada 21 Mei 1998 jadi titik balik sejarah lahirnya era Reformasi di Indonesia.

Tayang:
Editor: Amirullah
KOMPAS/JB SURATNO
Presiden Soeharto. Gambar diambil pada 15 Januari 1998. 

Ringkasan Berita:
  • Krisis moneter 1997 membuat rupiah anjlok, inflasi melonjak, harga sembako naik, dan kondisi ekonomi rakyat memburuk.
  • Gelombang demo mahasiswa memuncak pada Mei 1998 dengan pendudukan Gedung DPR/MPR dan tuntutan reformasi serta penghapusan KKN.
  • Pada 21 Mei 1998, Soeharto resmi mundur setelah 32 tahun berkuasa. Kepemimpinan kemudian dilanjutkan Wakil Presiden B.J. Habibie.

 

SERAMBINEWS.COM – Tanggal 21 Mei 1998 menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari itu, Presiden kedua Republik Indonesia, Soeharto, resmi mengundurkan diri setelah memimpin selama 32 tahun di era Orde Baru.

Keputusan tersebut terjadi di tengah situasi negara yang sedang tidak baik-baik saja. Krisis moneter yang mulai menghantam Asia sejak 1997 membuat ekonomi Indonesia goyah.

Nilai tukar rupiah jatuh tajam, inflasi melonjak, sementara harga bahan pokok terus merangkak naik dan makin sulit dijangkau masyarakat.

Di berbagai daerah, keresahan sosial mulai terasa. Daya beli masyarakat melemah, banyak perusahaan tumbang, dan gelombang pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana.

Pada saat yang sama, aksi demonstrasi mahasiswa terus membesar. Ribuan mahasiswa turun ke jalan membawa tuntutan reformasi dan mendesak perubahan sistem pemerintahan yang dinilai sudah tidak lagi berpihak kepada rakyat.

Tuntutan pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) juga menggema kuat dalam setiap aksi. Publik saat itu menilai praktik KKN telah mengakar selama pemerintahan Orde Baru berlangsung.

Ironisnya, hanya beberapa bulan sebelumnya, tepat pada Maret 1998, Soeharto kembali terpilih menjadi Presiden RI untuk ketujuh kalinya. Namun tekanan ekonomi, politik, dan sosial yang datang bersamaan membuat posisinya semakin sulit dipertahankan.

Puncaknya terjadi pada 21 Mei 1998. Dari Istana Negara, Soeharto menyampaikan keputusan yang kemudian mengubah arah sejarah Indonesia.

"Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis 21 Mei 1998," kata Soeharto dalam pidatonya.

Setelah pengunduran diri itu, tongkat kepemimpinan nasional dilanjutkan oleh Wakil Presiden B. J. Habibie sesuai amanat konstitusi.

Pengumuman mundurnya Soeharto sekaligus menjadi akhir dari rangkaian panjang demonstrasi dan kerusuhan besar yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia sepanjang 1998.

Baca juga: Tokoh Islam Indonesia Ungkap Pengalaman Menyaksikan Kehidupan Muslim di China

Baca juga: Gedung Laboratorium Fakultas Pertanian USK Terbakar, 4 Motor dan 2 Mobil Ikut Dilalap Api

Mahasiswa duduki Gedung DPR/MPR

Dilansir dari Kompas.com (21/5/2021), gelombang demonstrasi mahasiswa menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat runtuhnya pemerintahan Soeharto.

Sejak 18 Mei 1998, puluhan ribu mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di wilayah Jabodetabek mulai menduduki Gedung DPR dan MPR di Jakarta.

Mereka memadati pelataran gedung, lorong-lorong, taman, hingga menaiki kubah DPR/MPR.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved