MENYAPA NUSANTARA
Penguatan Program Mandiri Benih untuk Atasi Kelangkaan Benih
Kementerian Pertanian kembali mewujudkan swasembada pangan pada 2025 sebagai bagian dari ketahanan pangan nasional.
Angka tersebut setara untuk menenuhi kebutuhan benih seluas 1.200 ha dengan asumsi kebutuhan benih per ha 25 kg. Produksi tersebut dapat menopang kemandirian benih untuk 6 desa dengan 1 desa masing-masing memiliki sawah 200 ha.
Sejak peluncuran program ini di 2015 telah menunjukkan hasil signifikan karena berhasil mengembangkan 1.313 unit di lahan penangkaran seluas 13.130 hektare.
Rata-rata produksi calon benih 2,62 ton per hektare atau menyumbang sekitar 34.361 ton benih padi yang setara dengan kebutuhan benih untuk lahan seluas 1,3 juta hektare.
Di Majalengka, Jawa Barat, terdapat Kelompok Tani Gangsa I, yang telah berhasil menjadi penangkar. Tokoh penangkarnya bernama Nasihin yang merupakan mantan penerima program Mandiri Benih. Hingga saat ini, Nasihin mampu memproduksi benih padi 1.200 ton per tahun.
Kini setiap tahun Nasihin memasok kebutuhan benih insitu, sisanya untuk memenuhi kebutuhan benih pasar bebas maupun program pemerintah dengan jangkauan pemasaran hingga ke luar Provinsi Jawa Barat.
Manfaat adanya program mandiri benih yang dirasakan petani secara nyata, yaitu dapat meningkatkan kapasitas produksi benih dan meningkatnya kapasitas SDM poktan/kelompok penangkar produsen benih, dapat menekan biaya perbenihan kelompok, benih sesuai spesifik lokasi dan enam tepat, serta dapat menjual benih keluar wilayah, sehingga mampu meningkatkan nilai tawar terhadap hasil panen.
Anggota kelompok yang sebelumnya hanya menjual gabah untuk konsumsi, kini juga mampu menjual benih yang tentu berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani.
Ketahanan pangan
Program mandiri benih insitu menyumbang kontribusi besar bagi ketahanan pangan secara nasional. Sepanjang tahun 2020-2025, kontribusi program mandiri benih terlihat nyata di enam provinsi yang dominan tertinggi, yaitu di Banten sebesar 3 persen, Sumatera Selatan 2,63 persen, Sulawesi Selatan 1,77 persen, Kalimantan Selatan 1,77 persen, Sumatera Barat 1,70 persen, dan Jawa Barat sebesar 1,19 persen.
Hingga saat ini, program mandiri benih terus direplikasi karena sangat mendukung program strategis nasional.
Untuk kesiapan ketersediaan benih tahun 2026, ditargetkan dari mandiri benih hasil penangkaran akhir tahun 2025 seluas 1.420 ha dan rencana penangkaran Maret-April 2026 seluas 540 ha.
Diperkirakan dari program tersebut produksi benih total mencapai 4.900 ton atau setara dengan kebutuhan benih luasan sekitar 196.000 ha.
Diharapkan dengan adanya program mandiri benih ini, provinsi yang selama ini belum tercukupi ketersediaan benihnya secara insitu, dapat memenui kebututuhan benih secara 6-Tepat.
Program mandiri benih dapat terwujud bila didukung dengan tersedianya varietas unggul yang telah dilepas dan beredar di Indonesia.
Hingga saat ini (April 2026) telah dilepas sebanyak 439 varietas, sedangkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2016-2026) telah dilepas sebanyak 136 varietas unggul baru.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/khk.jpg)