KUPI BEUNGOH
Bak Bangsa Nomaden: Memantau Banjir Aceh 2025 dari “Hotel Capsul” Sleeper Putra Pelangi
Banjir hantam Aceh secara menyeluruh, khususnya pesisir timur mulai Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya dan seterusnya.
Terdapat satu titik yang tak dapat ditembusi oleh armada bus dan truk, yaitu Kecamatan Manyak Payed, setelah Desa Bukit Tinggi, sehingga hubungan Medan – Aceh tersendat.
Pihak kepolisian yang mengadakan patroli melaporkan bahwa di titik ini pada Minggu (30/11/2025) ketinggian air mencapai 1,60 meter atau melebihi ketinggian dada manusia sehingga tak mungkin dilewati bus dan truck.
Baca juga: 6 Hari Menjadi Pengungsi Jalanan di 3 Kabupaten, tak Tampak Representasi Pemerintah
Aneka bus, truck dan kendaraan lainnya memutuskan bermukim di seputaran masjid Desa Bukit Tinggi Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang.
Desa ini tiba-tiba berubah menjadi pasar dadakan. Aneka makanan, hingga ikan dan buah-buahan yang diangkut oleh truck dipasarkan di sini.
Masjid desa pun menjadi tempat inapan idaman dan penuh sesak. Mahasiswa, pedagang, sopir, kondektur, saudagar, PNS dan warga dari aneka status sosial lain bersatu menjadi pengungsi yang sama nasib.
Di lokasi pengungsian tak tampak perbedaan status sosial antara kaya dan miskin. Mereka sama-sama gosok gigi dari sisa air bak tempat wudhuk.
Tetapi perbedaan antara pengungsi (orang) berilmu dan beradab terlihat dari kualitas bicara dan adab dalam keseharian.
Baca juga: Korban Bencana Aceh Tamiang: Kami Terpaksa Minum Air Banjir, Tidak Ada Bantuan, Ini Seperti Tsunami
Dapur umum dibuka atas inisiatif ibu-ibu pengungsi. Makanan “ala perang” dijatah oleh koorninator juru masak sehingga tercukupi untuk seluruh pengungsi.
Pada Minggu siang “juru masak” dari unsur pengungsi terpaksa memasak bubur agar persediaan tercukupi untuk semua.
“Kita masak beras menjadi bubur agar cukup dimakan untuk semuanya,” kata seorang ibu yang jadi juru masak.
Begitulah secuil pemandangan yang terpantau dari “Hotel Capsul” Putra Pelangi Sleeper BL 7591 AJ, yang berpidah dari satu lokasi ke lokasi lainnya di Bireuen, Aceh Utara, Timur, Langsa dan Tamiang.
Perbaiki Jalan Terputus
Kondisi jalan dan jembatan yang terputus menjadi hambatan utama dalam mobilitas barang dan manusia.
Sejatinya Pemerintah Daerah dan Pusat fokus menyambung dan memperbaiki jalan dan jembatan yang telah putus agar pasokan barang Medan-Aceh dan sebaliknya menjadi normal kembali.
Baca juga: Malam Mencekam di Blang Awe, Asiah dan Suami Lari Sambil Gendong Anak, Semua Lenyap tak Bersisa
Tatkala jalan dan jembatan sudah tersambung, maka salah satu masalah utama dari dampak Banjir Aceh 2025 sudah tertangani, yaitu pasokan sembako, BBM dan juga mobilitas penduduk menjadi lancar, harga barang pun akan bergerak normal.
Pentingnya Jalan Tol
Dalam kondisi Banjir Aceh 2025 semua orang menjadi paham betapa pentingnya tersedia jalan alternatif ke dan dari Aceh.
banjir aceh
Banjir Landa Aceh
Putra Pelangi
Bus Sleeper
kisah perjalanan dari medan ke aceh
jalan tol
korban banjir
perjalanan darat
Serambi Indonesia
| Surga Tersembunyi di Lembah Beutong, Irigasi Ulee Jalan Menjelma Jadi Objek Wisata Lokal |
|
|---|
| Tarik Ulur Gas Andaman: Akankah Pemerintah RI Korbankan Masa Depan Industri Aceh? |
|
|---|
| Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal Daerah di Tengah Dinamika Global |
|
|---|
| Americano No, Acehpungono Yes |
|
|---|
| Kebohongan Akademik Mengancam Keselamatan Pasien |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kisah-perjalanan-darat-dari-Medan-ke-Banda-Aceh-saat-musibah-banjir.jpg)