Rabu, 3 Juni 2026

KUPI BEUNGOH

Bak Bangsa Nomaden: Memantau Banjir Aceh 2025 dari “Hotel Capsul” Sleeper Putra Pelangi

Banjir hantam Aceh secara menyeluruh, khususnya pesisir timur mulai Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya dan seterusnya.

Tayang:
Editor: Muhammad Hadi
Serambinews.com/HO
Kisah Hasan Basri M. Nur pada Selasa malam (25/11/2025), memutuskan pulang dari Medan ke Banda Aceh dengan menumpang Bus Putra Pelangi Sleeper (orang tidur, red), BL 7591 AJ. Namun, tiba-tiba pada Selasa tengah malam, suasana berubah. Banjir menghantam Aceh secara menyeluruh, khususnya pesisir timur mulai Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, hingga Pidie Jaya dan seterusnya. 

Terdapat satu titik yang tak dapat ditembusi oleh armada bus dan truk, yaitu Kecamatan Manyak Payed, setelah Desa Bukit Tinggi, sehingga hubungan Medan – Aceh tersendat.

Pihak kepolisian yang mengadakan patroli melaporkan bahwa di titik ini pada Minggu (30/11/2025) ketinggian air mencapai 1,60 meter atau melebihi ketinggian dada manusia sehingga tak mungkin dilewati bus dan truck.

Baca juga: 6 Hari Menjadi Pengungsi Jalanan di 3 Kabupaten, tak Tampak Representasi Pemerintah

Aneka bus, truck dan kendaraan lainnya memutuskan bermukim di seputaran masjid Desa Bukit Tinggi Kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang.

Desa ini tiba-tiba berubah menjadi pasar dadakan. Aneka makanan, hingga ikan dan buah-buahan yang diangkut oleh truck dipasarkan di sini. 

Masjid desa pun menjadi tempat inapan idaman dan penuh sesak. Mahasiswa, pedagang, sopir, kondektur, saudagar, PNS dan warga dari aneka status sosial lain bersatu menjadi pengungsi yang sama nasib.

Di lokasi pengungsian tak tampak perbedaan status sosial antara kaya dan miskin. Mereka sama-sama gosok gigi dari sisa air bak tempat wudhuk.

Tetapi perbedaan antara pengungsi (orang) berilmu dan beradab terlihat dari kualitas bicara dan adab dalam keseharian.

Baca juga: Korban Bencana Aceh Tamiang: Kami Terpaksa Minum Air Banjir, Tidak Ada Bantuan, Ini Seperti Tsunami

Dapur umum dibuka atas inisiatif ibu-ibu pengungsi. Makanan “ala perang” dijatah oleh koorninator juru masak sehingga tercukupi untuk seluruh pengungsi.

Pada Minggu siang “juru masak” dari unsur pengungsi terpaksa memasak bubur agar persediaan tercukupi untuk semua.

“Kita masak beras menjadi bubur agar cukup dimakan untuk semuanya,” kata seorang ibu yang jadi juru masak.

Begitulah secuil pemandangan yang terpantau dari “Hotel Capsul” Putra Pelangi Sleeper BL 7591 AJ, yang berpidah dari satu lokasi ke lokasi lainnya di Bireuen, Aceh Utara, Timur, Langsa dan Tamiang.

Perbaiki Jalan Terputus

Kondisi jalan dan jembatan yang terputus menjadi hambatan utama dalam mobilitas barang dan manusia.

Sejatinya Pemerintah Daerah dan Pusat fokus menyambung dan memperbaiki jalan dan jembatan yang telah putus agar pasokan barang Medan-Aceh dan sebaliknya menjadi normal kembali. 

Baca juga: Malam Mencekam di Blang Awe, Asiah dan Suami Lari Sambil Gendong Anak, Semua Lenyap tak Bersisa

Tatkala jalan dan jembatan sudah tersambung, maka salah satu masalah utama dari dampak Banjir Aceh 2025 sudah tertangani, yaitu pasokan sembako, BBM dan juga mobilitas penduduk menjadi lancar, harga barang pun akan bergerak normal.

Pentingnya Jalan Tol

Ketua Tokoh Masyarakat Pidie (TOMPi) perwakilan Kuala Lumpur, Jafar Insya Reubee (kiri) didampingi Inisiator TOMPi Hasan Basri M Nur
Ketua Tokoh Masyarakat Pidie (TOMPi) perwakilan Kuala Lumpur, Jafar Insya Reubee (kiri) didampingi Inisiator TOMPi Hasan Basri M Nur (FOR SERAMBINEWS.COM)

Dalam kondisi Banjir Aceh 2025 semua orang menjadi paham betapa pentingnya tersedia jalan alternatif ke dan dari Aceh.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved