KUPI BEUNGOH
Bak Bangsa Nomaden: Memantau Banjir Aceh 2025 dari “Hotel Capsul” Sleeper Putra Pelangi
Banjir hantam Aceh secara menyeluruh, khususnya pesisir timur mulai Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Pidie Jaya dan seterusnya.
Oleh: Hasan Basri M. Nur*)
Pada Selasa malam (25/11/2025), kami memutuskan pulang dari Medan ke Banda Aceh dengan menumpang Bus Putra Pelangi Sleeper (orang tidur, red), BL 7591 AJ.
Beda dengan kenderaan lainnya, bus generasi terbaru ini tidak memiliki kursi untuk tempat duduk yang normal.
Ia hanya menyediakan sejenis ranjang bertingkat sebagai tempat tidur, maupun duduk dalam posisi kaki menjulur panjang.
Hanya sandarannya saja yang dapat distel sesuai keinginan penumpang; rebah atau tegak.
Ternyata, bus tipe sleeper kelas President Suites ini kini menjadi armada favorite masyarakat Aceh untuk layanan perjalanan malam rute Medan – Banda Aceh, dan sebaliknya.
Baca juga: Di Kutablang, Nasi Perang Telur Dibelah Empat, Laporan Perjalanan Pascabanjir dari Banda Aceh
Inovasi terbaru ini mampu menghipnotis warga Aceh, walau harga agak sedikit beda. Buktinya tiket untuk bus ini terjual habis sekitar 12 jam sebelum berangkat.
Sejatinya, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pariwisata mengundang pemilik armada yang memperkenalkan bus tipe sleeper untuk menerima Anugerah Transporasi Inovatif pendukung kemajuan sektor pariwisata Aceh.
Awalnya perjalanan malam itu berjalan lancar, aman dan nyaman. Para penumpang terlelap dalam ayunan syahdu diiringi senandung musik pop yang diputar sang sopir “Nasir Top”.
Bak Bangsa Nomaden
Namun, tiba-tiba pada Selasa tengah malam, suasana berubah. Banjir menghantam Aceh secara menyeluruh, khususnya pesisir timur mulai Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, hingga Pidie Jaya dan seterusnya.
Para penumpang bus sleeper pun berubah status, dari penumpang kelas President Suites menjadi “pengungsi jalanan”, yang berpindah-pindah dari satu titik pengungsian ke titik lainnya di kabupaten yang berbeda, bak bangsa nomaden zaman baheula.
Baca juga: Pesawat Batal Terbang, Aktivis Koperasi Gagal ke Simeulue
Sebagai pengungsi jalanan, kami pun dapat mengamati dampak Banjir Aceh 2025 di berbagai daerah selama 7 hari 7 malam. Titik-titik jalan nasional Banda Aceh – Medan yang terputus terekam dalam kepala.
Satu per satu hambatan jalan terputus akibat genangan banjir atau pohon dan tiang listrik tumbang dapat diatasi oleh warga, walau tanpa bantuan istansi terkait, mulai dari Kota Langsa, Pasar Idi Rayeuk, Kota Peureulak hingga Julok.
Dipandu Warga Kota
Di Kota Idi dan Peureulak tampak warga kota memandu sopir truck dalam melintasi genangan air setinggi lutut, pinggang atau dada manusia di tengah jalan raya.
Panduan ini diperlukan agar bus tak masuk lobang atau “perangkap hantu” di jalan. Para sopir tampak memberikan sumbangan ala kadar ke kotak yang dibawa para pemandu dalam air.
banjir aceh
Banjir Landa Aceh
Putra Pelangi
Bus Sleeper
kisah perjalanan dari medan ke aceh
jalan tol
korban banjir
perjalanan darat
Serambi Indonesia
| Menjawab Tuduhan “Logical Fallacy” dalam Polemik JKA |
|
|---|
| Framming Negatif JKA, Strawman Fallacy Paling Telanjang |
|
|---|
| Dedy Tabrani di Mata Aktivis HMI: Polisi Masa Depan yang Menjaga dengan Ilmu dan Iman |
|
|---|
| Membangun Sistem Pengelolaan Sampah Sehat, Dari Masjid Gerakan Perubahan Dimulai - Bagian IV |
|
|---|
| Kesaksian dari Muraya: Ketika Solidaritas Fiskal Lampaui Batas Provinsi - Cerita Mendagri di APEKSI |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Kisah-perjalanan-darat-dari-Medan-ke-Banda-Aceh-saat-musibah-banjir.jpg)