Kupi Beungoh
Sabar dalam Menghadapi Musibah: Refleksi Musibah Banjir Bandang Aceh, Sumut, Sumbar
Jika dilihat dari berbagai ayat al-Qur’an maupun hadits, maka akan didapati bahwa kata “sabar” kerap kali diungkapkan dalam berbagai situasi.
Setiap manusia tidak akan terlepas dari segala ujian yang menimpa dirinya, baik musibah yang berhubungan dengan pribadinya sendiri, maupun musibah dan bencana yang menimpa pada sekelompok manusia maupun bangsa.
Terhadap segala macam musibah maupun bencana yang berupa banjir, angin topan, kecelakaan serta gempa bumi yang membawa korban manusia maupun harta benda, itu semua sebagai ujian, yang harus dihadapi dengan ketabahan dan sabar.
Berdasarkan keterangan tersebut, manusia disuruh senantiasa ingat kepada Allah, ingat akan kekuasaan Allah dan kehendak-Nya yang tidak ada seorangpun dan apapun yang dapat menghalangi-Nya.
Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini baik yang dianggap oleh manusia sebagai musibah dan bencana yang merugikan, ataupun yang dirasakan sebagai rahmat dan ni'mat yang menggembirakan, maka itu semua adalah dari Allah Swt, dan bukan kemauan manusia semata-mata (Rifai, 1982: 41).
Cobaan hidup, baik fisik maupun non fisik, akan menimpa semua orang, baik berupa lapar, haus, sakit, rasa takut, kehilangan orang-orang yang dicintai, kerugian harta benda dan lain sebagainya.
Cobaan seperti itu bersifat alami, manusiawi, oleh sebab itu tidak ada seorangpun yang dapat menghindar.
Yang diperlukan adalah menerimanya dengan penuh kesabaran, seraya memulangkan segala sesuatunya kepada Allah Swt.
Sabar bermakna kemampuan mengendalikan emosi, maka nama sabar berbeda-beda tergantung obyeknya. Para Jumhur Ulama Mengkodifikasikan Sabar dalam 11 hal ehwal yaitu:
Pertama (1), sabar dalam taat kepada Allah Swt. Diperlukan kesabaran dalam beribadah, karena syaitan tak pernah berhenti menggoda hamba-Nya yang taat melaksanakan perintahperintah-Nya.
Kedua (2), sabar dalam berdakwah. Luqman Hakim menasehati putranya agar tetap bersabar menerima cobaan ketika berdakwah. Sebagai aktivitas muslim, kita tahu bahwa harus tetap berusaha menyampaikan berita gembira dan peringatan (amar ma’ruf nahi munkar) kepada lingkungan sekitar.
Contohnya seperti yang telah diperintahkan oleh Allah Swt. harus menyadari, diingat-ingat dalam pikiran dan terus dihujamkan ke dalam jiwa, bahwa dakwah akan tetap terus berjalan mesti bersama atau pun tanpa diri kita.
Ketiga (3), Ketabahan menghadapi musibah. Disebut sabar, kebalikannya adalah gelisah (jaza') dan keluh kesah (hala').
Keempat (4), Kesabaran menghadapi godaan hidup nikmat disebut, mampu menahan diri (dlabith an nafs), kebalikannya adalah tidak tahanan (bathar).
Kelima(5), Kesabaran dalam peperangan disebut pemberani, kebalikannya disebut pengecut.
Keenam(6), Kesabaran dalam menahan marah disebut santun (hilm), kebalikannya disebut pemarah (tazammur).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/dosen-uin-ar-raniry-banda-aceh-tgk-bustamam-usman-shi-ma-2022.jpg)