KUPI BEUNGOH
Derita Aceh, Kejahatan Belanda Hingga Penantian Imam Mahdi
Semoga Presiden RI mendengar suara dan jeritan korban bencana di Aceh dengan menerima uluran tangan negara-negara sahabat untuk membantu Aceh
Iran menjadi negara Islam termaju dalam teknologi dan sangat ditakuti musuh, terutama Israel dan sekutunya. Mereka optimis dan selalu mencari jalan agar menjadi sebagai pemenang.
Gara-gara Belanda
Aceh sudah sangat lama hidup dalam penderitaan. Tercatat, sejak Deklarasi Perang dari Kerajaan Belanda terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada 1973, rakyat Aceh hidup dalam derita.
Jahatnya Belanda, Deklarasi Perang 1873 belum dicabut sampai saat ini. Ini adalah PR khsusus bagi elite Aceh, terutama Gubernur, DPRA, dan Paduka.
Baca juga: Kisah Pilu Korban Bencana Aceh Tamiang, Ibu Terpaksa Beri Minum Bayinya dengan Air Banjir
Gara-gara Belandalah rakyat Aceh jadi phang-phoe dan deuk troe. Sungguh jahat, Belanda telah merusak segalanya di Aceh, mulai struktur politik hingga strata sosial.
Kita yang hidup saat ini selaku cucu Sultan Iskandar Muda mesti menuntut Kerajaan Belanda agar mencabut Deklarasi Perang 1873 dan melakukan rehabiltasi kepada Aceh seperti sedia kala.
Ini wajib diperjuangkan agar harga diri Aceh terpulihkan.
Imam Mahdi dan Aceh
Aceh saat ini sedang kesulitan, kesengsaraan, bahkan dapat dikatakan menderita. Derita Aceh saat ini adalah bencana banjir Siklon Senyar 2025.
Banjir bandang terbesar dalam sejarah Aceh ini telah menghancurkan puluhan ribuan rumah, merenggut nyawa dan ratusan ribu orang hidup di bawah tenda pengungsian.
Gubernur Aceh Bapak Haji Muzakir Manaf pun harus menangis. Beliau merasa dikhianati oleh elite.
Beliau tak tahu meminta pertolongan pada siapa pun, karena Pemerintah NKRI ngotot menutup pintu dari bantuan asing.
Baca juga: Derita Warga Alue Kuta Jangka Bireuen, Rumah Hanyut Ke Laut, Jembatan Putus, Tiang Listrik Tumbang
Pemerintah Pusat di Jakarta ngotot melarang orang asing untuk bantu banjir Aceh dengan alasan harga diri bangsa, jangan sampai dianggap tak mampu dan miskin.
Som gasien peulumah kaya. Padahal pada lain sisi, Pemerintah berutang sangat banyak pada negara luar, termasuk untuk membeli Kereta Api Woosh di Pulau Jawa.
Selain itu, harga diri bangsa Indonesia rendah di luar negeri, manakala passport Indonesia sangat rendah nilainya, lebih rendah dari passport Timor Leste, utang luar negeri membengkak, pengiriman TKI buruh kasar kian ramai dan lain-lain.
Pengiriman tenaga kerja kasar ke LN seperti tukang cuci piring, tukang bersihkan WC, dan pembantu rumah tangga, sungguh menyayat hati. Pilu.
Mereka lahir di negara kaya SDA, tapi jadi harus cari nafkah sebagai buruh kasar di luar negeri.
| Ironi Wisata Musiman Suak Gedeubang: Cuan UMKM Melejit, Sampah Melangit |
|
|---|
| Tradisi ‘Pemamanen’ dalam Khitanan Anak Laki-Laki Alas Mulai Jarang Dikenal Generasi Muda |
|
|---|
| Aktivitas Fisik: Kunci Lansia Tetap Mandiri |
|
|---|
| Idul Adha dan Makna Pengorbanan: Jalan Menuju Kebersamaan untuk Aceh yang Bermartabat |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Harga Ayam Geprek Masih Aman: Benarkah Kita Bisa Santai? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jafar-Insya-Reubee-Pemerhati-Pembangunan-Aceh-berdomisili-di-Negeri-Selangor-Kerajaan-Malaysia.jpg)