KUPI BEUNGOH
Derita Aceh, Kejahatan Belanda Hingga Penantian Imam Mahdi
Semoga Presiden RI mendengar suara dan jeritan korban bencana di Aceh dengan menerima uluran tangan negara-negara sahabat untuk membantu Aceh
Mana harga diri bangsa kita, Pak? Jangan asbun ya Pak.
Orang Aceh saat ini tak tahu mengadu ke mana lagi. Mereka hanya bisa menangis dan berdoa kepada Sang Pencipta.
Baca juga: Terus Bertambah, Korban Meninggal Bencana Banjir Aceh Capai 430 Jiwa
Selain ini, orang Aceh hanya mengharapkan datangnya sosok yang mampu menyelamatkan mereka dari keterpurukan dan mengembalikan kepada kajayaan seperti era Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam, yang menjadi tokoh penakluk di Asia Tenggara.
Nah, adakah sosok itu akan lahir segera?
Tak ada yang mustahil. Allah Maha Kuasa, pemilik skenario terbaik.
Ditambah lagi, doa kelompok manusia yang telah lama dan sedang teraniaya akan maqbul. Doa orang teraniaya itu tanpa hijab.
Kita tak tahu apa kandungan doa yang disuarakan oleh orang-orang yang teraniaya di Aceh sambil menadahkan tangan dan deraian air mata.
Makanya, para penguasa, baik daerah maupun pusat, perlu berjalan siang malam di tengah-tengah rakyat kecil di pedalaman.
Untuk mengetahui keadaan hakiki mereka agar mereka tidak membuat laporan ABS kepada atasan, agar mereka tidak terus menipu dan mendhalimi rakyat sendiri.
Baca juga: Tiga Kali Kunjungan Presiden Prabowo ke Aceh Tidak Menjawab Tuntutan Warga
Akhirnya, hanya kepada Allah kita menyerahkan semua persoalan. Semoga keadilan akan segera terwujud serta para penjahat dan penipu punah dari muka bumi.
Semoga Presiden RI mendengar suara dan jeritan korban bencana di Aceh dengan menerima uluran tangan negara-negara sahabat untuk membantu Aceh sehingga rakyat Aceh tak lagi menanti pada sosok Imam Mahdi. Semoga!
*) PENULIS adalah Pemerhati Pembangunan Aceh, berdomisili di Negeri Selangor Kerajaan Malaysia
KUPI BEUNGOH adalah rubrik opini pembaca Serambinews.com. Isi artikel menjadi tanggung jawab penulis.
BACA artikel KUPI BEUNGOH lainnya di SINI
| Ironi Wisata Musiman Suak Gedeubang: Cuan UMKM Melejit, Sampah Melangit |
|
|---|
| Tradisi ‘Pemamanen’ dalam Khitanan Anak Laki-Laki Alas Mulai Jarang Dikenal Generasi Muda |
|
|---|
| Aktivitas Fisik: Kunci Lansia Tetap Mandiri |
|
|---|
| Idul Adha dan Makna Pengorbanan: Jalan Menuju Kebersamaan untuk Aceh yang Bermartabat |
|
|---|
| Rupiah Melemah, Harga Ayam Geprek Masih Aman: Benarkah Kita Bisa Santai? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Jafar-Insya-Reubee-Pemerhati-Pembangunan-Aceh-berdomisili-di-Negeri-Selangor-Kerajaan-Malaysia.jpg)