Jurnalisme Warga
Aceh Gelap, Negara Terang, Sampai Kapan Kami Harus Sabar?
Bukan gelap simbolik yang bisa ditafsirkan bebas oleh para akademisi, melainkan gelap yang nyata alias lampu padam, listrik hidup-mati bergilir
ICHSAN, M.Sn., Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Kota Jantho, Aceh Besar
Aceh kembali hidup dalam gelap. Bukan gelap simbolik yang bisa ditafsirkan bebas oleh para akademisi, melainkan gelap yang nyata alias lampu padam, listrik hidup-mati bergilir, dan kehidupan sehari-hari yang terhenti secara paksa.
Pascabanjir bandang dan longsor yang menghantam Aceh akhir November lalu, hingga pertengahan Desember ini kegelapan belum juga pergi. Ia telah menetap dan menjadi rutinitas masyarakat Aceh di tengah janji-janji Menteri ESDM dan Dirut PLN yang serasa lebih sering memberi harapan palsu daripada fakta.
Yang menyakitkan, kegelapan itu hadir bersamaan dengan kabar yang katanya listrik Aceh segera menyala dalam hitungan hari. Di hadapan Presiden, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan percaya diri menyebut bahwa listrik Aceh telah pulih hingga 93 persen. Pernyataan itu kemudian viral dan masyarakat bersyukur. Akhirnya, harapan kembali tumbuh. Namun, seperti banyak harapan lain di negeri ini, ia runtuh seketika.
Klarifikasi datang dan ada kesalahan data.
Kesalahan data? Bagi mereka yang hidup di ruang berpendingin udara, mungkin itu sekadar kekeliruan teknis. Bagi kami yang hidup di Aceh hari ini, itu adalah tamparan. Karena faktanya, hingga 16 Desember, listrik masih padam bergilir. Berkali-kali target nyala total meleset. Alhasil, gelap masih menjadi teman setia malam-malam kami.
Listrik sejatinya kini bukan lagi sebuah kemewahan. Ia adalah hak dasar yang harus dipenuhi. Ketika listrik mati, bukan hanya lampu yang padam, tetapi seluruh sendi kehidupan ikut lumpuh. Proses akademik ikut serta terganggu, aktivitas pasar tersendat, UMKM kehilangan daya, hingga pelayanan publik tidak optimal.
Banyak fasilitas umum seperti rumah sakit, sekolah, kantor, hingga rumah ibadah harus bernegosiasi dengan waktu dan genset.
Kami di ISBI Aceh, para pendidik, tetap mengajar. Karena itu, adalah sebuah kewajiban dan bagian dari pengabdian kami sebagai abdi negara. Namun, izinkan kami bertanya walau entah pada siapa, sampai kapan negara absen ketika kami tetap hadir dalam gelap? Bagaimana dengan pedagang kecil yang dagangannya rusak? Bagaimana dengan buruh harian yang kehilangan penghasilan dan bagaimana dengan anak-anak yang harus tetap belajar meski dalam gelap?
Belum selesai persoalan listrik dan “lemot” sinyal hp, Aceh juga dihantam kelangkaan gas elpiji. Ironis, initerjadi justru di negeri yang katanya kaya sumber daya.
Di beberapa tempat, mulai dari warga bahkan dosen harus memasak dengan minyak goreng dicampur tisu. Sungguh fenomena sosial yang aneh, tapi nyata. Sebagian orang mungkin menyebutnya kreativitas. Tidak! Ini bukan sekadar kreativitas. Ini contoh nyata dari keputusasaan yang dipoles agar terlihat wajar.
Situasi darurat tidak pantas dirayakan sebagai inovasi. Ia harus diselesaikan. Dalam keheningan Aceh, suara genset meraung-raung di berbagai tempat seperti nyanyian duka. Sementara warung kopi—urat nadi sosial masyarakat Aceh—
kini mulai memilih bertahan dengan mesin diesel yang terus berderung bagai lolongan anjing yang tak henti. Bahkan, untuk sekadar menikmati secangkir kopi, pengunjung harus membawa kabel sendiri karena daya listrik tidak mencukupi. Inikah wajah pemulihan yang dibanggakan itu, sehingga tak perlu bantuan atau uluran tangan dari negara lain?
Saya terus bertanya dalam hati, bagaimana jika ini terjadi di Jakarta? Bagaimana jika Ibu Kota hidup dalam gelap berminggu-minggu? Bagaimana jika gas langka di pusat kekuasaan, apakah narasi “kesalahan data” masih cukup atau apakah negara akan bergerak lebih cepat, lebih keras, dan lebih serius?
Pertanyaan ini bukan bentuk kecemburuan sosial, melainkan hak untuk mempersoalkan keadilan terhadap perlakuan elite. Lebih menyakitkan lagi, hingga hari ini penetapan bencana nasional tak kunjung hadir. Bantuan asing malah ditolak dengan dalih Indonesia sanggup, Indonesia kuat. Padahal, ada korban banjir bandang di Aceh yang mati bukan akibat langsung bencana, melainkan justru karena kelaparan!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/ICHSAN-OKE-2025.jpg)