Rabu, 10 Juni 2026

Kupi Beungoh

Kunjungan ke Kuil Hindu di Keudah: Framing Intoleran Terbantahkan 

Komunitas Hindu di Banda Aceh berjumlah sekitar 30 orang—sebuah komunitas kecil namun memiliki sejarah panjang dan mendalam

Tayang:
Editor: Amirullah
Serambinews.com
Nuril Fazillah, Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh 

Rada Krisna menjelaskan bahwa tradisi Hindu Tamil berbeda dari Hindu Bali yang lazim dikenal masyarakat Indonesia. Dalam Hindu Tamil, terdapat kekhasan pada arsitektur kuil, bentuk arca, serta filosofi simbol-simbol yang terukir di dinding.

Ia menunjukkan berbagai ukiran dan menjelaskan maknanya—mulai dari representasi Tuhan, perlambang kekuatan, hingga nilai filosofis tentang kehidupan manusia.

Penjelasan tersebut memberi wawasan bagi kami bahwa Hindu bukan hanya rangkaian ritual, tetapi juga sistem nilai yang kaya, seperti konsep dharma (kebenaran dan kewajiban), karma (akibat perbuatan), dan tujuan spiritual tertinggi, yaitu moksha.

Dialog dan Pembelajaran Toleransi 

Dalam sesi dialog interaktif, mahasiswa menanyakan banyak hal: bagaimana tata cara ibadah harian, bagaimana perayaan besar dilaksanakan, bagaimana pendidikan agama anak-anak Hindu dijalankan, serta bagaimana interaksi mereka dengan masyarakat Muslim sekitar.

Rada Krisna menjelaskan bahwa setiap perayaan dilakukan dengan sederhana namun tetap mengikuti tradisi leluhur mereka. Dukungan masyarakat Keudah, menurutnya, membuat setiap kegiatan berjalan lancar. Tidak ada sekat, tidak ada batasan—yang ada hanyalah saling menghargai.

Dari dialog tersebut, kami belajar langsung bahwa toleransi bukan sekadar slogan; ia hidup dalam tindakan sehari-hari, dalam interaksi yang tulus dan penuh saling memahami.

Harmoni yang Menjadi Teladan 

Kuil Palani Andawer berdiri sebagai contoh bahwa Aceh tidak hanya dikenal dengan keteguhan dalam menerapkan Syariat Islam, tetapi juga dengan kemampuannya merawat keberagaman. Di tengah lingkungan mayoritas Muslim, komunitas kecil Hindu Tamil terus menjalankan ibadah tanpa hambatan, bahkan dengan dukungan lingkungan.

Keberadaan mereka menunjukkan bahwa mayoritas dan minoritas dapat hidup berdampingan dengan damai. Harmoni ini menjadi pelajaran penting bahwa perbedaan tidak perlu menjadi sumber konflik. Sebaliknya, ketika dirawat dengan penghormatan, ia menjadi kekuatan sosial yang memperkaya kehidupan bersama.

Bagi kami, kunjungan ini lebih dari sekadar tugas akademik. Ini adalah pengalaman yang membuka wawasan mengenai realitas toleransi yang sering tidak terlihat oleh publik luas.

Minoritas dalam Naungan Mayoritas 

Kunjungan ke Kuil Palani Andawer di Keudah memberikan gambaran nyata tentang bagaimana minoritas Hindu Tamil yang minoritas hidup berdampingan dan dalam naungan mayoritas masyarakat Muslim di Aceh.

Framing intoleran terhadap Aceh dari pihak luar pun terbantahkan. Sejarah panjang sejak 1925, keberadaan kuil sejak 1934, dan keteguhan mereka bangkit setelah tsunami 2004 memperlihatkan bahwa keberagaman telah dirawat oleh masyarakat Aceh dari generasi ke generasi.

Di balik gerbang kuil kecil itu, kami menyaksikan sendiri bahwa toleransi, penghormatan, dan dialog antaragama bukan hanya teori—tetapi praktik hidup yang dijalankan dengan ketulusan. Semoga kisah ini menjadi pengingat penting bahwa keharmonisan adalah fondasi damai di tengah keberagaman bangsa.

 
Penulis adalah Nuril Fazillah, Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Email: nurilfazillah10@gmail.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved