Jurnalisme Warga
Banjir Aceh Utara dan Renungan dari Teupin Bayu
Teupin Bayu merupakan sebuah gampong yang tenang di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Gampong ini selalu saya kenang
FAISAL, S.T, M.Pd., Kepala SMK Negeri 1 Julok, Ketua IGI Aceh Timur, dan korban banjir 2025, melaporkan dari Aceh Utara
Teupin Bayu merupakan sebuah gampong yang tenang di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Gampong ini selalu saya kenang sebagai tempat kelahiran saya 45 tahun lalu.
Gampong yang dahulu identik dengan suara-suara alam dan aliran Sungai Jambo Aye yang jernih, kini berubah menjadi salah satu titik terparah ketika banjir besar melanda Aceh Utara akhir November lalu.
Selama hidup, saya sudah berkali-kali menyaksikan banjir musiman, tetapi apa yang terjadi tahun ini benar-benar di luar dugaan.
Air naik hingga dua meter, menenggelamkan pekarangan rumah, menyusup ke ruang-ruang keluarga, dan membuat warga terpaksa menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi, yaitu meunasah.
Meski tidak ada korban jiwa di Gampong Teupin Bayu, kerusakan rumah-rumah warga cukuplah parah. Banyak dinding yang retak, perabotan terendam, dan lumpur tebal menutupi lantai-lantai rumah yang hingga kini belum sepenuhnya dibersihkan karena sulitnya mendapatkan air bersih.
Situasi semakin berat karena listrik padam total sejak awal banjir dan sinyal telepon seluler hilang sama sekali. Hal ini membuat warga seolah terputus dari dunia luar.
Emak saya, yang sudah berusia 72 tahun, juga memberi pengakuan yang membuat saya tersentak. Katanya, sejak ia kecil hingga kini rambutnya memutih, belum pernah sekalipun air masuk ke rumah walau hanya setinggi mata kaki.
“Inilah pertama kali, sepanjang hidup saya ada banjir setinggi ini,” ujar beliau, memandang genangan air yang hampir menyentuh kusen pintu rumah kami.
Pengakuannya sekaligus menjadi saksi betapa luar biasanya bencana hidrometeorologi tahun ini bagi warga Teupin Bayu.
Di tengah suasana genting, berbagai persepsi muncul mengenai penyebab banjir yang semakin parah. Sebagian warga berpendapat curah hujan kali ini memang tidak biasa, turun deras berhari-hari tanpa jeda. Namun, ada pula yang mengaitkannya dengan perubahan tata guna lahan di daerah hulu, di mana hutan perlahan berganti menjadi perkebunan sawit yang luasnya sejauh mata memandang.
Ada yang menduga pendangkalan sungai yang bertahun-tahun tidak pernah dikeruk turut memperparah luapan air.
Semua faktor itu mungkin benar karena banjir memang bukan peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai hal yang dibiarkan tanpa penanganan.
Bila ditarik lebih dalam, persoalan banjir ini tidak bisa dilepaskan dari kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Masih banyak warga—dan mungkin kita semua pernah melakukannya—yang membuang sampah sembarangan di sungai atau parit.
Ada pula yang menebang pohon tanpa memikirkan dampaknya terhadap resapan air. Praktik-praktik kecil yang dianggap sepele inilah yang pada akhirnya berkontribusi memperburuk daya dukung lingkungan kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Faisal-ST-OKEEEH.jpg)