Jurnalisme Warga
Banjir Aceh Utara dan Renungan dari Teupin Bayu
Teupin Bayu merupakan sebuah gampong yang tenang di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Kabupaten Aceh Utara. Gampong ini selalu saya kenang
Ketika siklus alam berubah semakin ekstrem, ketidakpedulian itu kemudian membalas dalam bentuk bencana yang kini dirasakan oleh seluruh gampong.
Teupin Bayu seolah menjadi cermin betapa rapuhnya ekosistem ketika tidak dirawat dengan benar. Rumah-rumah yang biasanya hangat kini terendam. Jalan-jalan desa berubah menjadi arus deras, dan anak-anak yang biasanya berlarian harus mengungsi sambil membawa sebungkus pakaian.
Di balik semua itu, saya melihat ada pelajaran yang tidak boleh diabaikan, yaitu bencana ini menjadi tanda bahwa sudah saatnya kita memperbaiki hubungan dengan alam.
Kesiapan gampong
Banjir besar kali ini tidak hanya membawa genangan, tetapi juga membuka mata kita tentang pentingnya kesiapsiagaan di tingkat gampong.
Dalam kondisi seperti ini, gampong perlu membangun sistem tanggap bencana yang lebih terstruktur, terutama karena perubahan iklim membuat kejadian ekstrem semakin sulit diprediksi.
Hal pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk atau mengoptimalkan Satgas Bencana Gampong. Satgas ini bukan hanya formalitas, melainkan tim yang benar-benar bekerja ketika tanda-tanda bencana muncul.
Mereka harus dilengkapi dengan pelatihan dasar, mulai dari membaca kondisi cuaca, memahami titik-titik rawan banjir, hingga teknik evakuasi tepat dan aman. Satgas ini juga dapat menjadi penghubung antara gampong dengan BPBD, sehingga informasi tidak putus di tengah jalan.
Selain itu, alat komunikasi harus diperkuat. Selama banjir akhir November lalu, beberapa warga kesulitan mendapatkan informasi terkini karena sinyal telepon seluler putus total. Oleh sebab itu, gampong perlu menyediakan radio komunikasi atau ‘’handy talky’’ (HT) sebagai sarana komunikasi alternatif.
Dengan HT, setiap komunitas dalam satu gampong dapat saling terhubung secara cepat tanpa bergantung pada jaringan luar.
Informasi tentang kondisi air, titik evakuasi, atau warga yang butuh pertolongan bisa disampaikan secara ‘real-time’ kepada regu penolong.
Pengadaan alat evakuasi juga sangat penting, meskipun banjir besar seperti ini jarang terjadi. Perahu karet, tali keselamatan, dan pelampung harus tersedia sewaktu-waktu karena bencana tidak bisa diprediksi.
Bila pun alat itu tidak terlalu sering digunakan di Teupin Bayu, ia bisa menjadi sarana bantuan bila bencana terjadi di gampong tetangga.
Memiliki peralatan bukan berarti berharap bencana datang, tetapi memastikan keselamatan ketika kejadian tak terduga muncul.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/Faisal-ST-OKEEEH.jpg)